
Sudut pandang Risela.
Demi membantu desaku, aku pergi ke kota untuk mengikuti pertandingan bela diri. Di sela-sela itu aku melihat sosok yang sangat kuat yang hanya diam menonton tanpa melakukan apapun.
Walau dia menutup wajahnya dengan topeng aku yakin dia orang yang sebelumnya bertarung di atas arena.
Aku tidak membenci pria tampan hanya saja aura yang dikeluarkannya sedikit berbeda, itu terasa seperti dipenuhi ribuan kutukan yang disatukan di satu tubuh.
Selagi memikirkan itu giliranku bertanding telah tiba, sebagai gadis serigala aku sangatlah kuat bahkan ketika aku melawan orang bernama Valentine aku masih bisa menghadapinya dengan mudah sayangnya saat melawan Harty, aku langsung kalah.
Ia memiliki kekuatan yang luar biasa, terlebih aku mencium aroma yang tidak asing.
Benar, aroma dari seekor naga.
Sebenarnya siapa mereka, elf yang bersama mereka juga terlihat mencurigakan dia menatap ke arahku selagi tersenyum kecil.
Sulit mengatakan bahwa itu senyuman indah atau mengerikan, ia lebih mirip seperti sebuah sosok yang tidak boleh di dekati sekaligus sosok yang menarik mata.
Karena sedikit penasaran walau pertandingan berakhir aku diam-diam mengikuti mereka ke sebuah kedai terkenal.
Aku sama sekali tidak memiliki uang karena itu aku hanya bisa mengawasi dari luar, mereka berbisik satu sama lain lalu tiba-tiba saja pria itu memanggilku untuk mendekat dan menawari makanan ke arahku.
Awalnya kupikir mereka akan melakukan hal buruk padaku akan tetapi hal itu jelas malah berbeda, mereka berkata ingin membantuku? Apa ini sebuah lelucon agar aku lengah.
Aku menjawab seadanya terlebih aku juga diberi kamar untuk menginap, jujur.. tidur di emperan toko tidak nyaman.
__ADS_1
Aku sekali lagi melirik ke arah elf tersebut sepertinya dia memiliki sesuatu hal khusus dengan pria bernama Lion.
Berbeda dari sebelumnya dia bahkan tersenyum jahil selagi menopang dadanya pamer.
"Jadi begitu, dia memiliki hubungan kurang sehat dengan Lion," kataku dalam hati.
Saat kami hendak pergi, seorang tiba-tiba saja menerobos masuk, aku tidak mengenalnya tapi sepertinya semua orang tahu.
Dia melakukan sedikit pembicaraan yang mampu membuat Lion, Nibela, Harty dan Rion bergegas pergi.
Sementara itu Valentine menggunakan sihir penyembuhnya, bagi semua orang itu terlihat normal tapi bagiku ini aneh.
Aku buru-buru menarik kerah baju Valentine lalu berlari menghancurkan jendela selagi membawanya di pinggangku.
Aku tidak bisa menyelamatkan semua orang paling tidak Valentine masih aman.
Dari puing-puing reruntuhan yang terbakar sosok pria sebelumnya terlihat berjalan ke arah kami.
Api tidak membakarnya maupun melukainya.
"Bagaimana kau bisa mengetahuinya?" kata pria itu.
"Aku memiliki mata special."
"Jadi begitu, mata mistik kah? Salah satu kekuatan luar biasa selain mata jahat dan mata suci."
__ADS_1
"Aneh seorang sepertimu bisa mengetahuinya."
"Aku sudah lama melayani Raja Iblis Barat, hal seperti itu mudah untuk kuketahui."
Aku menurunkan Valentine di sampingku.
"Terima kasih sudah menyelamatkanku."
"Hal itu bukan masalah, sekarang kita harus menghadapinya bersama-sama."
"Iya."
Pria di depan kami menyeringai dingin.
"Gadis muda seperti kalian mana mungkin bisa mengalahkanku. Namaku Lakurius, calon raja iblis berikutnya."
"Dia sepertinya tidak main-main dengan perkataannya."
Valentine mengutarakan pertanyaan.
"Rion bisa membaca pikiran kenapa orang ini tidak diketahui?"
"Maksudnya elf itu, pantas saja dia selalu tersenyum ke arahku... ada kemungkinan sihirnya bisa menghalangi efek apapun, mata mistikku sedikit berbeda, karenanya aku bisa melihatnya."
"Apa yang kalian bisikkan di sana? Terserahlah, apapun rencana kalian, kalian berdua akan mati."
__ADS_1