Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 132 : Pertemuan


__ADS_3

Titan di depan kami mengirim tinjunya saat kami bergerak mendekatinya, pukulan itu diselimuti asap yang mengepul ke udara bagaikan menyayat udara.


Aku mempercepat gerakanku untuk menahan kulit besi tersebut hingga dentuman keras terdengar.


Di saat yang sama Gracia melompat dan berlari di punggung tangan Titan selagi menyeret pedangnya.


Sebelum mendekati leher, Gracia dilempar ke udara setinggi 20 meter dari kepalanya. Melihat itu aku meluncur untuk menyerang bagian kakinya, menebas dalam jumlah luar biasa membuat Titan meraung.


Gracia menyelimuti pedangnya dengan cahaya berkilau dan berkata di momen kejatuhannya.


"Grand Ariesta."


Dentrang.


Tubuh Gracia terlempar dengan serangannya sendiri, Titan ini memperkuat pertahanan atasnya dengan sihir.


Mereka jelas sangat kuat.


Aku mengulurkan tanganku menciptakan seluruh sihir yang bisa kugunakan. api, air, tanah, angin untuk menyerangnya dan menggabungkannya menjadi sebuah tornado raksasa yang membungkus seluruh tubuhnya.


Rion menyela.


"Itu hanya akan bertahan sesaat, paling tidak kau harus memenggal kepalanya jika ingin membunuhnya."


"Itu sangat sulit."

__ADS_1


"Mereka lawan yang merepotkan," ucap Gracia mendaratkan kakinya di sampingku.


Dia terlempar cukup tinggi barusan, jika orang normal dia pasti sudah mati sekarang.


Efek dari sihirku mulai lenyap dan Titan itu meraung kembali.


"Ayo Gracia."


"Akulah yang harus mengatakan itu."


Aku menciptakan pohon-pohon sebagai lompatan kami, dengan sedikit dorongan pada kaki menggunakan lingkaran sihir kami telah melompat di depan sang Titan.


Dia memosisikan kedua tangannya seperti seorang yang akan menepuk seekor nyamuk, kendati demikian tebasan kami lebih cepat untuk memotong tangannya secara bersamaan.


"Gyaaaah."


Aku memegangi tangan Gracia selagi menggunakan lingkaran sihir sebagai pijakan.


"Kau sudah kelelahan Gracia?"


"Berisik."


Dia hampir mengalirkan seluruh energi sihirnya pada pedang miliknya jadi tidak aneh jika dia kehabisan nafasnya. Aku turun ke bawah secara perlahan-lahan untuk mendaratkan Gracia di tanah.


Pertarungan ini masih belum selesai, masih ada beberapa Titan yang sedang menghancurkan kota sebaiknya aku juga mengurusnya.

__ADS_1


Aku melompat dari rumah ke rumah dengan kecepatan tinggi, salah satu Titan tampak telah mengambil manusia untuk dijatuhkan ke dalam mulutnya.


Aku melesat, menangkapnya lalu segera menurunkannya di bawah.


"Cepat lari."


"Terima kasih."


Titan itu berlari ke arahku berusaha menerkamku layaknya hewan buas, tentu dibanding Titan sebelumnya mereka hanya terlihat seperti kecoa.


Aku mengayunkan pedangku dan tubuhnya menjadi dua. Tidak kusangka bahwa mereka tadinya hanya manusia sepertiku. Orang yang melakukan ini pasti tahu juga cara membuat penawarnya.


Aku segera membuang pikiran tersebut untuk menghabisi Titan sisanya, untuk sekarang aku hanya harus fokus melakukannya.


Beberapa sudah dihabisi oleh para petualang maupun penjaga karena itulah semuanya lebih cepat dari yang kubayangkan.


Aku berdiri di atas genteng selagi menatap pria yang juga berdiri di tempat yang sama, dia seorang pria dengan rambut putih agak keperakan, mengenakan seragam militer sebagai ciri khas kelompok Titan.


"Siapa kau?"


"Mungkin dewi jahat dalam bentuk pedangmu bisa mengatakannya."


Aku memilih mengabaikannya dan fokus padanya.


"Aku lebih suka mendengarnya dari mulutmu."

__ADS_1


"Baiklah jika kau mau mengetahuinya, namaku Ranger aku adalah pemimpin Titan yang baru yang akan memberikan kehidupan baru bagi kami."


Dia tersenyum dengan sesuatu yang memuakkan.


__ADS_2