
Aku melirik ke semua pakaian yang digantung dan hampir semuanya memiliki motif yang sama namun harganya berbeda-beda dari paling mahal sampai yang murah.
"Aku menyerah aku tidak bisa sama sekali membedakan barang ini, bentuknya serupa tapi kenapa harganya sangat mahal?"
"Memang begitu adanya, jika semakin lama baju berada di sini maka harganya semakin naik."
"Dengan kata lain?"
"Yang mahal ini telah berada di toko ini sejak tahun lalu."
"Kalian menentukan harganya seperti itu."
"Ini adalah taktik penjualan kami."
"Jangan mengatakannya penuh kebanggaan," kataku datar.
Mengabaikan bagaimana mereka memberi harga aku melirik ke arah Livia yang kebingungan.
"Aku tidak tahu harus mengenakan yang mana?"
"Bagaimana kalau kekasih Anda yang memilih?" ucap gadis berkacamata.
"Aaah, aku bukan kekasihnya, ia tuanku."
"Hubungan kalian tuan dan budak, mungkinkah..."
"Hentikan, jangan menyangkutkan segala hal dengan itu."
Aku melirik ke arah lain dan menemukan sebuah Kimono yang digantung rapih di sana, kimono itu memiliki lengan lebar kalau tidak salah namanya Furisode.
Livia yang mengikuti tatapanku seketika tertarik dengan itu, warna merah yang cerah yang digabungkan dengan motif bunga dan tanaman memang terlihat mempesona.
"Apa kau mau mencobanya dulu? Kami tidak keberatan asal kau mau membelinya."
__ADS_1
"Bukannya itu artinya kau memaksa," balasku demikian.
"Setiap pengunjung harus mentaati setiap peraturan di sini."
Orang ini, aku sangat terkejut bahwa tempat ini belum gulung tikar sampai sekarang.
"Apa kau mau mencobanya Livia?"
"Tangannya terlalu panjang aku akan kesulitan untuk menggunakan pedangku."
Ah benar, kalau saja ada yukata itu lebih cocok dengannya.
"Apa jadi membelinya? Aku akan menendangmu jika kau tidak membeli apapun."
Sekarang orang ini lebih ngeselin dari tadi.
"Kau memiliki pakaian seperti ini yang lebih pendek."
"Begitulah."
"Jangan khawatir aku punya satu yang seperti itu ikuti aku... barang itu aku simpan di ruang VIP."
Aku hanya menatapnya dengan pandangan lelah. Gadis berkacamata melirik ke arah kiri kanan untuk memastikan tidak ada yang melihat. Padahal kami hanya ingin membeli baju tak kusangka sampai segitunya.
Memangnya dia penjual barang haram.
Kami dibawa ke ruangan gelap, saat lampu dinyalakan di dalamnya hanya ada satu pakaian yang jelas seperti apa yang dikatakannya.
Kurasa ukurannya sangat pas dengan Livia maka dari itu aku jelas memintanya untuk mencobanya.
Gadis kacamata menjelaskan, pakaian ini dibuat dari benang khusus yang diberi sihir yang kuat akan perubahan musim, api juga, bahkan setelah ratusan tahun akan dipakai."
"Kelihatannya sangat bagus."
__ADS_1
Livia yang keluar dari ruangan lain tampak kebingungan.
Dia setengah telanjang lagi.
"Anu, bagaimana cara menggunakan ini?"
"Ah.... biar aku bantu."
Dia kesulitan menggunakan obinya.
Setelah beberapa menit Livia muncul dengan penampilan berbeda, rambutnya tidak dibiarkan terurai melainkan diikat sanggul ke atas dengan jepit rambut yang entah darimana di dapat.
"Bagaimana penampilanku?"
"Sangat cocok sekali."
"Benarkah.... terima kasih tuan."
"Jadi berapa pakaian ini."
"Lima ratus koin emas."
"Kalau begitu aku akan membayarnya 1000 koin emas."
"Tidak-tidak harganya 500 koin emas, kami tidak menerima penawaran."
"Meskipun harganya aku naikan," teriakku.
"Apapun yang kau bilang moto toko kami tidak menerima penawaran, silahkan bayar dengan harga yang telah ditentukan."
Sebenarnya siapa yang menciptakan moto yang aneh ini.
Aku memutuskan untuk bertanya dan dia bilang kakek buyutnya sendiri.
__ADS_1