Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 159 : Pergi Ke Menara Aira


__ADS_3

Aku duduk di sudut ruangan selagi memeluk lututku dengan pandangan kosong, sementara Rion menatapku dari tempat tidur.


"Ada apa Lion?"


"Tidak, kupikir dadamu lebih besar dari yang kubayangkan."


"Fufu."


Dia sangat bangga.


Seminggu setelah aku menikah dengan Rion, aku mulai menata apa saja hal yang dibutuhkan untuk negaraku.


Benua iblis yang sebelumnya tidak bisa dihuni kini telah berubah menjadi lahan hijau yang indah, hanya menunggu waktu sampai seseorang menemukannya dan mulai mencoba memasukinya.


Untuk negaraku sendiri aku menyebutnya negara Elfdian yang merupakan negara berbasis untuk elf


Tentu aku juga tidak melarang siapapun kecuali elf tinggal di sini, selagi mereka mematuhi seluruh peraturan yang ada aku menerimanya.


Dengan pendirian negara ini, akan membuat semua orang tidak seenaknya mengklaim kepemilikan tanah yang mereka sudah tinggalkan.


Selain itu masih ada masalah yang harus diselesaikan.


Dalam membuat negara hal yang harus diperhatikan adalah sumber daya makanan yang bisa kami dapatkan dengan mudah.


Negaraku memiliki sumber makanan dari danau meski begitu kami juga tidak mungkin harus memakan ikan setiap harinya, untuk mengatasinya aku membagi beberapa elf dalam beberapa kelompok kecil yang dipimpin oleh Friella.


Mereka akan kuminta untuk membuka lahan pertanian, seperti gandum, padi serta sayur-sayuran yang bisa kami nikmati saat panen nanti.


"Kalau begitu saya akan mengatur semuanya yang mulia."

__ADS_1


"Tolong yah, aku mungkin harus pergi untuk menempati janji sampai aku kembali tolong jaga semuanya."


"Baik."


Aku kembali ke kamarku untuk mengganti pakaianku dengan seragam hitam dan juga memasang Manuever Acceleration Gear berupa rompi dan sepatu khusus.


Aku membangunkan Rion yang masih tertidur di atas ranjang namun sepertinya dia tidak ada tanda-tanda akan bangun.


Kuharap paling tidak dia mengenakan pakaian di sana.


"Oh Lion kau mau pergi?"


"Aku harus menyelamatkan Dewi Aira, apa kau mau ikut?"


"Tentu saja aku harus ikut, apa kau tahu bagaimana cara Aira bisa keluar dari sana?"


"Bagaimana?"


Entah kenapa firasatku sangat buruk untuk ini.


Aku menggunakan Teleportasi Gate dan muncul di salah satu kota di benua manusia, aku bisa melihat sebuah menara berdiri di kota ini dan hampir seluruh sudut dijaga oleh penjaga.


"Mereka benar-benar lebih waspada dari yang kuduga."


"Mau bagaimana lagi, Ryker pernah datang ke sana kurasa mereka telah belajar sedikit untuk memperketat keamanan," kataku demikian.


Pengait dari rompiku dilontarkan ke arah bangunan dan aku meluncur di antaranya dan bersandar di tembok saat sebuah lonceng terdengar dari sekelilingku.


Bersamaan itu sebuah ledakan meriam menggema dari atas tembok yang mengelilingi tempat ini.

__ADS_1


"Sepertinya para Titan menyerang kemari juga, meski begitu para penjaga di dekat menara Aira sama sekali tak bergerak... apa boleh buat, kita akan menerobos masuk."


Aku turun ke bawah dan berdiri di depan mereka dengan membawa pedang di tanganku tanpa menariknya dari sarungnya.


"Siapa kau? Kau dilarang untuk mendekat.. pergilah."


Seorang penjaga kasar berjalan untuk memperingatiku dan aku hanya menggunakan gagang pedang untuk membuatnya jatuh dan berlutut di tanah.


"Musuh, tarik senjata kalian."


"Jangan repot-repot, kalian lebih baik diam saja."


Aku menginjakan kakiku dan sebuah tanaman melilit mereka untuk membuat mereka terdiam di tempat, aku bisa saja mengakhiri mereka dengan mudah namun ancaman sesungguhnya akan datang sebentar lagi.


Puluhan bola api dilesatkan ke arahku memaksaku mundur ke belakang untuk menghindar.


Dari dalam kegelapan menara tiga orang yang disebut pahlawan muncul dengan gagah. Dua diantaranya adalah pria dan satu lagi wanita dengan pedang yang disebut Artefak suci terbuat dari roh.


"Ara, Ara, akhirnya setelah menunggu lama ada yang muncul juga."


"Benar sekali, kita harus membunuhnya dan mendapatkan hadiah dari Venus."


"Aku juga sepakat."


"Kalian? Bukannya Titan sekarang sedang menyerang bukannya lebih baik kalian pergi untuk membantu mereka."


"Setelah membunuhmu kami akan melakukannya."


Ketiganya melangkah maju setelah memutuskan seluruh tanaman yang melilit para penjaga.

__ADS_1


"Kalian pergilah ke luar benteng, biar kami mengurus pria ini."


"Dimengerti."


__ADS_2