
Sudut pandang Lion.
Pipi Valentine tampak memerah sebelum akhirnya Rion memeluknya.
"Tak apa Valentine, kau menyukai Lion kan... kita bisa berbagi, aku tidak keberatan dibanding dengan wanita itu."
"Siapa yang kau maksud itu?"
"Tuan putri, tolong tenangkan diri anda"
Alice di sana untuk meredam situasi yang terjadi.
Rion menunjuk ke arah Rosvalia yang masih menyembunyikan setengah mulutnya dengan kipas.
"Kau datang-datang seenaknya berkata ingin menjadi istri pertama, aku yang lebih dulu kenal dengan Lion karena itu posisi istri pertama adalah untukku."
"Kalian berdua sama saja, aku tidak berniat menikah sebelum dunia ini damai."
"Apa? Kau berniat menjadi perjaka selamanya?"
Aku menarik pipi Rion atas pernyataannya.
Memangnya dunia akan terus berperang selamanya.
"Hal itu bisa kita kesampingkan dulu, hanya saja penempatan istri pertama tentu saja masih aku."
Apa yang sebenarnya dewi ini lakukan, dia tidak mungkin menyukaiku? Dia hanya mencoba menggodaku saja, aku ingat bagaimana dia memperlakukanku sebelumnya.
"Hoho, kau cukup berani."
__ADS_1
Mereka berdua saling mendekat dan juga mendorong dada mereka hingga tumpah tindih selagi menatap penuh permusuhan, sementara Misa tersenyum aneh Harty yang berada di sampingku yang lain berkata.
"Ini yang dinamakan pertengkaran rumah tangga itu."
"Kenapa kau tahu istilah itu?"
"Ah, saat di kota aku membeli cemilan tiba-tiba orang berlarian selagi berteriak 'Awas semuanya lari... ada pertengkaran rumah tangga' seperti itu."
Oi, bukannya itu masalah serius.
"Lalu setelahnya?" aku melanjutkan.
"Aku melihat pria terkapar di jalan dengan pisau daging menusuknya."
Entah kenapa itu terdengar menakutkan.
Aku menenangkan mereka.
Rosvalia mengerenyitkan alisnya.
"Tenda itu cocok untukku."
"Memangnya kau ingin tidur dimana lagi, semua tempat ini kini mirip lapangan golf."
"Apa itu lapangan golf?"
"Lupakan saja apa yang kukatakan barusan, lain kali aku akan menjelaskannya, untuk Friella dan Laina bisa membuat makanan, aku akan mengeluarkan semua bahannya dari penyimpanan."
"Kami mengerti."
__ADS_1
Dan perkejaan pertama kami dimulai.
Aku sedikit kejam tidak menyuruh mereka beristirahat setelah semalaman terjaga, namun ini harus dilakukan agar kami bisa memiliki tempat yang nyaman.
Aku menciptakan beberapa pohon yang kemudian aku tebang dan jadikan potongan-potongan kayu untuk membuat rumah, menggunakan sihir air atau angin aku bisa melakukannya dengan mudah.
Membuat rumah tanpa paku memang sedikit sulit tapi bukan berarti hal itu mustahil. Di Indonesia sendiri ada rumah yang dibangun tanpa paku sebagai gantinya mereka menggunakan tali pengikat dari rotan atau sebagainya.
Ini hanya sementara saja jadi akan kubuat sederhana mungkin, area ruang tengah, beberapa kamar tidur, dapur serta kamar mandi.
Bekerja sendirian sangat sulit jadi aku membuat dua tanaman hidup untuk membantuku.
Mereka dibuat dari pohon yang sebelumnya sudah mati di wilayah ini.
Mereka setinggi empat meter dengan kaki, tangan, serta wajah. Di atas kepala mereka masih ada daun hijau berbentuk kribo.
"Yos, mulai sekarang namamu Agil dan kau Anil itu mudah diingat."
Mereka bersuara " Graaa," lalu memulai pekerjaan.
Kupikir mereka akan bicara 'I'm Groot' atau sebagainya seperti yang ada di dalam film namun berbeda.
Magic Tree adalah sebuah sihir kehidupan jadi tidak aneh aku bisa melakukannya, selagi mereka tanaman mereka bisa dijadikan seperti itu.
Setelah makanan siap, kami menyantapnya bersama, mengobrol sebentar sebelum akhirnya tidur di bawah pohon tinggi.
Aku berada di tengah mereka selagi merasakan hembusan angin dingin menerpa wajahku.
Agil dan Anil adalah pohon jadi mereka memutuskan untuk berdiam diri di dekat di danau dekat sini selagi merasakan terpaan sinar matahari.
__ADS_1
Aku tidak tahu berapa lama sampai benua iblis ini bisa pulih sedia kala, meski begitu aku akan melakukannya secara perlahan.