
Sudut pandang Lion.
Beberapa hari setelahnya kami akan memulai penyerangan, kami masih memerlukan seseorang untuk menjaga di sini karena itu aku meminta Valentine dan Harty tetap berada di sini bersama Paula menjaga semuanya.
Atlas juga akan membantu pembangunan di sini.
Untuk 200 orang sisanya akan pergi ke benua manusia. Aku, Ryker, Gracia dan Kizuna akan memimpin peperangan.
"Tolong bawa ini, aku yakin bisa berguna."
Paula menyerahkan busur miliknya pada Ryker, tidak salah busur itu terbuat dari roh kematian bernama Symponia.
"Apa tidak masalah, kau memiliki kontrak dengannya."
"Tidak apa, Symponia juga tidak keberatan."
Suara dari busur terdengar.
"Dibanding melibatkan Paula dalam medan perang, aku lebih suka membiarkan seseorang untuk menggunakanku sementara waktu."
"Begitu."
Kizuna juga berkata.
"Aku telah mengembang teknik yang bagus, aku tidak akan kalah."
"Iya."
Mereka sepertinya memang sudah menantikan hal ini. Gracia mengangguk kecil untuk mengkonfirmasi kesiapan kami. Aku menciptakan Teleportasi Gate untuk mengirim kami ke sebuah tempat bernama pelabuhan Regional.
Pelabuhan itu sepenuhnya telah dikuasai oleh Titan khususnya Titan setinggi 70 meter yang merupakan seorang penyihir hebat bernama Rumia.
__ADS_1
Di sepanjang tembok itu kami naik ke atasnya dan melihat banyak manusia yang dirubah menjadi Titan, aku dan beberapa pasukan turun untuk mengawasi sekitar.
Menurut informasi tidak ada manusia lagi di sini namun ada seseorang wanita yang sedang dikejar oleh raksasa.
"Tolong, selamatkan aku."
Salah satu pasukanku langsung menerjang untuk menyelamatkannya.
"Hentikan."
"Dia butuh bantuan."
Perkataaanku tidak bisa mencapainya.
Dia merangkul wanita itu lalu saat dia mencoba membawanya sebuah lubang tercipta di tubuh pasukanku.
"Sungguh membosankan, ada yang tertipu juga dengan cara ini," wanita dengan rambut sebahu itu pasti Rumia.
Dia Melompat beberapa meter ke atas.
"Semuanya menyebar."
Kami melompat di udara untuk menjauh, pasukan Ryker dan Kizuna juga menyebar untuk membunuh raksasa yang lain. Hanya Gracia dan beberapa pasukan yang akan membantuku.
Gracia melompat dari atas tembok memutar tubuhnya untuk menusukan pedangnya di sepanjang punggung Titan sampai akhirnya dia roboh.
Rumia tersenyum lalu menciptakan lingkaran sihir dari tangannya, dari sana puluhan bongkahan es ditembakan.
Kami semua menghindarinya dan beberapa orang yang terkena di buat tubuhnya membeku lalu hancur menjadi serpihan kecil, aku jatuh ke tanah lalu menarik dua pedang di pinggangku yang mana keduanya adalah Riona dan Aira.
Aku menangkis setiap bongkahan es itu dan semua orang menyergap Rumia dari segala arah.
__ADS_1
"Percuma."
Seekor raksasa muncul entah dari mana yang mana menangkap seluruh pasukanku seperti seekor nyamuk, dia memakannya ke dalam mulutnya dengan rakus.
"Gwwaaaahh."
Gracia muncul di belakang Rumia dengan gerakan tusukan, Rumia yang mengetahuinya hanya melangkah ke samping menghindar kemudian menendang bagian punggung Gracia hingga dia terlempar di sampingku dengan sebuah ledakan.
Orang ini sangat kuat?
Raksasa yang terus mengunyah hanya diam memperhatikan, setiap potongan tubuh dari rekanku dibiarkan berjatuhan.
Dan darah menyebar dari mulutnya.
"Sial dia bisa mengendalikan Titannya."
"Lihat baik-baik Lion, dia menggunakan sihir boneka untuk menggerakkannya."
Aku bisa melihat sebuah benang yang terbuat dari mana menempel dan terarah pada Rumia.
"Jadi itu caranya."
Aku berkata.
"Kalian semua tidak perlu ikut bergabung melawannya, pergi dan habisi Titan lainnya."
"Dimengerti."
Aku dan Gracia yang akan melawannya.
"Kau yakin hanya bisa mengalahkanku dengan dua orang, kau terlalu meremehkanku."
__ADS_1