
Lion memberikan sapu tangan padaku lalu menjelaskan semuanya, tentang dirinya yang tidak memiliki seorang pun di dekatnya dan tentang dirinya yang selalu berusaha berteman dengan seorang gadis yang dia sukai.
Gadis itu tidak terlalu cantik dan populer, dia adalah gadis biasanya yang memiliki rambut pirang panjang dengan kacamata. Sama seperti Lion ia tidak terlibat hal seperti obrolan atau pertemanan, setiap harinya ia hanya fokus dengan bukunya dan mendapatkan nilai semestinya selayaknya siswi jenius pada umumnya.
Melihat hal itu, Lion berfikir bahwa jika ia bisa berteman dengannya ia akan bisa berbagi takdir bersama, jika dunia tidak menginginkan mereka paling tidak ada dua orang penyendiri yang bisa saling berinteraksi satu sama lain.
Saat itu Lion mulai mendekati gadis malang tersebut.
Ia muncul di tempat di mana gadis itu berada, entah di perkarangan sekolah, perpustakaan bahkan di kelas, setiap hari dia akan mengoceh tidak jelas dengan seperti apa dunia ini begitu mengerikan atau hanya membahas acara televisi yang ia tonton. Meski konyol atau mengganggu gadis itu tidak pernah bereaksi terhadap Lion, dia hanya fokus membaca buku seolah jika dia melewatkannya.
Itu akan menjadi akhir darinya.
Tiga bulan hanya menjadi percakapan sepihak saja. Namun tanpa disadari Lion sendiri gadis itu mulai membuka hatinya.
"Selamat pagi, nilaiku cukup buruk apa kau bisa mengajariku?"
"Bodoh," setelah waktu yang ia habiskan kata itulah kata yang diucapkan untuk pertama kalinya.
Lion hanya membalas dengan senyuman selagi menyodorkan buku di tangannya, awalnya gadis itu hanya berusaha untuk tidak berbicara dengan siapapun hingga tidak akan menarik siapapun berada di dekatnya, tapi dengan kegigihan Lion itu membuatnya harus sekali lagi berinteraksi dengan manusia.
Gadis itu merupakan gadis tanpa orang tua yang hidup di panti asuhan kecil, ia membenci kedua orang tuannya dan dia juga membenci dunia ini yang memberikan kehidupan mengerikan padanya.
Dengan menolak memberikan hatinya pada siapapun, dia tidak akan terluka saat seseorang meninggalkannya.
__ADS_1
Hanya itulah yang diinginkannya.
Perasaan suka mulai berkembang di gadis itu dan tanpa sadar dia telah menghancurkan idealis yang dibangunnya selama ini, suatu hari ia memutuskan untuk membuat kesepakatan agar bisa terbebas dari Lion.
"Aku akan mengabulkan satu permintaanmu, namun setelah itu tolong tinggalkan aku selamanya?"
"Tapi..."
Melihat bahwa dirinya telah berada di akhir perjuangannya, Lion membalas.
"Aku mengerti, walau sekali tolong berkecanlah denganku... ada beberapa tempat yang ingin kukunjungi dengan seseorang."
Maka gadis itu mengiyakan.
Biasanya gadis itu selalu bangun lebih awal dari jadwalnya namun hari itu dia telah menyadari bahwa dirinya telah terlambat dua jam dari waktu yang dijadwalkannya.
Saat gadis itu gelisah sesuatu yang mengerikan terjadi, bus yang tiba-tiba ia naiki ditabrak oleh bus yang mengalami rem bolong hingga ledakan tak bisa dihindari.
Dia bisa melihat Lion tampak panik sementara gadis itu mengulurkan tangannya berusaha menggapainya dan beberapa kali mengatakan maaf.
Benar, gadis itu adalah aku.
Itu adalah ingatan sebelum akhirnya aku dipanggil oleh dewi. Sulit untuk mempercayai apa yang dikatakan Lion tapi ia melanjutkan.
__ADS_1
"Saat itu aku hanya ingin mengatakan satu hal, aku tidak bisa menerima tawaranmu dan akan bilang... mulai sekarang mari kita menjadi sepasang kekasih dan berbicara lebih banyak lagi."
"Lion?"
"Kau tidak perlu terbebani, aku hanya ingin mengatakan itu, lagipula masing-masing dari kita sudah memiliki hidup yang baru, aku hanya senang bahwa Gracia bisa menjadi pahlawan dan menemukan sesuatu yang ingin dia lakukan... jujur waktu itu aku sangat khawatir, mungkin kau mirip denganku tapi kesulitan yang kau miliki lebih dariku."
Lion menyerahkan sebuah bola kecil padaku.
"Ini?"
"Ini adalah semua ingatanmu waktu itu, aku mendapatkannya dari dewi Amnesty, sekarang sudah tidak diperlukan lagi jadi kau bebas untuk membuangnya.. lagipula masa itu pasti dipenuhi rasa sakit dan lebih baik untuk dilupakan."
Lion berdiri dan aku yang menangis hanya mengikutinya.
"Kalau begitu aku duluan, sampai nanti."
Tanpa kusadari aku menghentikan tangan Lion, jika apa yang dikatakan Lion memang benar aku hanya harus melakukannya. Aku tidak tahu pilihan ini baik atau tidak, meski begitu aku tidak ingin menyesalinya nanti.
Aku menghancurkan bola itu dan seketika ingatan masuk ke dalam kepalaku, ingatan yang sama persis yang membuatku sulit mengucapkan sepatah katapun.
"Gracia."
Lion memangilku namun aku memeluknya lalu menangis sekeras yang kubisa.
__ADS_1
"UWWWWWAAAAAAAAHHHHH."
ini pertama kalinya aku menangis seperti itu.