
Semakin aku mencoba bertahan, tali di leherku semakin kuat untuk membunuhku. Setiap mayat yang dia gunakan pasti dibunuh dengan cara seperti ini.
Sungguh mengerikan.
Membuat seseorang kehabisan nafas dan meminta pengampunan, itulah yang dia coba lakukan.
Jika melepaskan sihir ini sulit maka yang harus kulakukan hanyalah membakar talinya, tanpa melukai leherku tali tersebut terbakar sebelum akhirnya jatuh di sampingku.
"Tali itu tidak mudah dibakar bagaimana bisa seorang melakukannya?"
Ekpresi bermain-main dari wajah Aspalta telah lenyap, setelah sekian lama dia baru menyadari hal yang semua orang rasakan.
Benar.
Itu adalah rasa dari ketakutan.
Aku menyelimuti diriku dengan aura kutukan dari tujuh dosa mematikan jika memunculkannya secara bersamaan maka tekanan yang dimunculkan terasa sangat mengerikan.
"Ka-kau apa kau ini benar-benar manusia?" teriaknya demikian.
"Aku manusia, namun manusia lebih mengerikan saat mereka benar-benar serius dalam satu hal.. khususnya membunuh seseorang."
"Gak.. gak... gak aku memiliki mata jahat yang mampu membuat seseorang ketakutan."
__ADS_1
Aspalta melepaskan penutup matanya menampilkan mata hitam namun saat kekuatanku menghantam pandangannya dia berteriak kesakitan selagi memegangi matanya yang mengeluarkan darah."
Dia tertawa, sementara aku melanjutkan.
"Entah seseorang menjalani hidupnya dengan penderitaan atau dengan senang ketika mereka mati semuanya selesai... orang yang hidup abadi tidak akan pernah tahu bagaimana cara menjalani hidup, mereka semua menghargai kematian dan berusaha untuk menjalani kehidupannya semaksimal mungkin... lebih baik orang sepertimu mati saja."
"Gak... gak .. apa kau lupa? Aku ini abadi, bahkan jika tubuhku hancur aku masih bisa hidup dan mencari tubuh baru dalam bentuk jiwa.. kau terlalu naif, aku.."
Sebelum dia menyelesaikan perkataannya beberapa tangan kegelapan memegangi tubuhnya, tangan itu terbuat dari jiwa-jiwa orang yang disiksa dengan penderitaan.
Dan semua jiwa itu keluar dari satu gerbang raksasa yang muncul di belakang Aspalta.
Itu adalah salah satu kemampuan Rion yang kugunakan, Gerbang Neraka Tiamat.
"Ba-bagaimana bisa? Aku ini abadi... aku tidak mungkin mati aku telah mencapai keabadian yang sulit didapatkan oleh penyihir manapun, hentikan ini.. aku menyerah."
"Jika kau bilang begitu baiklah."
"Kau akan melepaskanku?"
Aku tersenyum kecil.
"Tentu."
__ADS_1
Saat Aspalta terlihat lega bayangan kembali menangkapnya lalu memasukan tubuhnya sedikit demi sedikit bersamaan gerbang yang mencoba tertutup kembali.
"Ini adalah sesuatu yang kau lakukan, jadi bagaimana rasanya?"
Aspalta kehilangan keinginan hidup dan masuk ke dalamnya dengan ekpresi kosong.
Aku menghela nafas panjang dan gerbang kembali menghilang seutuhnya, kerajaan Borman kah? Setelah Harty dan Valentine kembali aku akan mulai menyelidikinya.
Pelindung sihir yang menyelimuti kota telah menghilang, di saat aku memasuki kota tersebut orang-orang menyambutku.
"Aku melihatnya, itu pertarungan yang luar biasa," teriak satu anak kemudian dilanjutkan dengan perkataan yang lainnya.
"Jika tidak ada tuan ini, aku tidak tahu akan bernasib apa kita semua."
"Aku hanya melakukan tugasku sebagai petualang," balasku ringan.
"Mari angkat dia bersama-sama."
"Tolong jangan lakukan itu."
Meski aku menolaknya mereka masih mau melakukannya.
Saat tiba di sini kupikir aku akan dibenci semua orang dan menjadi musuh umat manusia, bagaimana pun aku datang kemari karena dipanggil oleh dewi jahat dan menjadi utusannya.
__ADS_1
Sesuatu seperti diperlakukan mirip pahlawan adalah hal yang sulit kubayangkan. Aku melirik ke arah Aira dan Rion yang melihat dari kejauhan membuat mereka tersenyum kecil padaku hingga aku pun membalas dengan senyuman pahit.