
Rion dan Aira saling memandang untuk mengkonfirmasi apa yang terjadi? Mereka mengalihkan pandangan ke arahku dan memintaku untuk memunculkan gerbang neraka Tiamat yang pernah banyak membantuku untuk mengalahkan musuh.
"Um.. Um gerbangnya masih seperti yang dulu," kata Ringbel.
Gerbang di belakangku awalnya berada di alam dewi, saat Rion menyelamatkan Harfilia dia mengambilnya sebelum akhirnya dibuang ke dunia ini agar dia ataupun Harfilia tidak dimasukan ke dalamnya.
Tapi gerbang apa ini?
Dan kenapa orang di depan kami menginginkannya?
Aira menjelaskan.
"Seperti namanya gerbang ini menghubungkan neraka dengan dunia lainnya, gerbang ini ada untuk menyiksa orang-orang pendosa yang banyak melukai kejahatan tak termaafkan dan dewi yang menjaga gerbang ini adalah orang di depan sana Ringbel."
"Dia dewi," teriakku.
"Apa ada yang salah."
Ringbel memiliki ekpresi lembut, berbeda jauh dengan Echidna.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi, namun sepertinya dia terlempar ke neraka juga. Pantas saja saat aku mengambilnya tidak ada orang jaga."
"Kalian tidak boleh mengambil barang yang bukan hak kalian."
Dewi ini lebih ke arah sosok ibu sekarang.
__ADS_1
Dan aku cukup terkejut saat dia menambahkan.
"Sebenarnya aku sedikit ceroboh, saat aku memasukan ratusan jiwa gerbangnya belum tertutup kemudian mereka menjeratku lalu menarikku masuk ke dalam.. benar-benar pengalaman yang buruk, di neraka benar-benar tempat yang tidak menyenangkan agar hatiku tidak tercemar aku melakukan kesepakatan dengan iblis."
Bukannya dia bilang jangan membuat kesempatan dengan mereka.
"Karena itulah aku dan Echidna bergabung menjadi satu, kurasa sangat sulit memisahkan kami berdua sekarang."
"Itu sangat jelas."
Gerbang di belakangku melayang tambah tinggi lalu pergi ke belakang Ringbel. Dia menantapnya sekilas seperti mengingat masa lalu.
Aku segera memotong.
"Apa kita harus bertarung sekarang."
Gerbang neraka Tiamat menghilang dan selanjutnya Ringbel menarik senjata piringan besarnya padaku.
"Kalian memang dewi tapi sepertinya banyak alasan kenapa kekuatan kalian tidak sepenuhnya keluar."
Rion menyerahkan setengah kekuatannya padaku sementara Aira sebelumya dikurung di sebuah menara dan kekuatan penuhnya tersegel di alam dewi.
Kami jelas sedang berhadapan dengan dewi sekelas dewi perang. Solomon kau benar-benar beruntung bisa memanggilnya walau cuma kebetulan.
"Aku benar-benar marah soal yang mengirim kami begitu saja ke tempat lain, aku akan memarahi Lion nanti."
__ADS_1
"Ugh."
"Benar, kita selama ini bersama... rasanya seperti aku dibuang."
"Aku hanya ingin kalian tidak terluka."
"Begitu juga kami."
Rion menatapku dengan penuh keyakinan.
"Seberapa sulit masalah yang kita hadapi akan lebih baik jika menghadapinya bersama-sama, aku tahu pria selalu berfikir untuk melindungi wanitanya namun tidak ada yang salah jika kami juga berfikiran sama, mari saling melindungi satu sama lain ke depannya."
Aku mengangguk kecil sebagai jawaban.
"Ayo kalahkan dewi ini."
Aku tidak meminta Aira dan Rion menjadi pedang, kami akan mengalahkan Ringbel dengan tiga lawan satu sebuah posisi bertarung yang sama yang sekarang ditunjukkan oleh Clarisa.
Ngomong-ngomong dia sedang mengamuk, aku bisa melihat ledakan terjadi di sana sini dalam pertarungan mereka.
Untuk sekarang aku hanya harus fokus dengan pertarunganku sendiri.
"Sekarang aku mulai," kata Ringbel.
Ringbel melesat maju dan aku menahan serangannya saat Aira dan Rion membalas dengan pukulan. Sebuah dinding perisai melindungi wajahnya namun itu hanya sebentar sebelum pecah hingga membuatnya mundur ke belakang.
__ADS_1
Menggunakan sihir kecil hanya buang-buang waktu, karena itulah aku menciptakan seluruh sihir lalu menyatukannya menjadi sebuah tombak raksasa yang kulemparkan ke arah Ringbel berada.
Dia dengan sigap menahannya dengan piringan besarnya hingga hembusan angin tercipta bersamaan kilatan petir yang menyebar ke seluruh areanya, walau kekuatanku itu bisa ditahan paling tidak senjatanya hancur setelahnya.