Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 336 : Pertarungan Akhir Di Dunia Bawah Bagian Empat


__ADS_3

Sudut pandang Wisteria.


Rentetan tulang berulang tiba-tiba memenuhi sekeliling pertarungan kami, aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Lion meski begitu aku masih bisa melihat pertarungan Yukisa dengan Kaori.


Keduanya sama-sama menggunakan wujud iblis mereka dan sama-sama bertarung dengan sangat cepat.


"Kemana kau melihat?"


Shiramaru yang melawanku sejak tadi juga memiliki wujud yang sama dan ia telah muncul di depanku bersiap mengayunkan pedangnya, aku pun mengayunkan pedang di waktu bersamaan hingga kami berdua saling menatap satu sama lain.


Dia telah membunuh Genjitsu karena itulah aku tidak bisa memaafkannya. Kami melompat ke atas dimana menjadikan ujung dari tulang berulang ini menjadi sebuah pijakan dan saling menyerang di udara.


Kilatan cahaya menghiasi pertarungan kami bersamaan lengkingan logam yang saling bertubrukan yang mana menghasilkan suara yang tidak nyaman bagi telinga.


Kupu-kupu mulai berterbangan di sekelilingku menyelimuti semuanya dengan warna mereka yang beragam, di sisi lain Shiramaru mulai menutup matanya lalu meletakkan tangan di pegangan pedang.


Ada sedikit ledakan udara di sana, saat aku sadari seluruh kupu-kupu milikku telah terbelah menjadi dua bagian, sayap-sayap mereka mulai berterbangan tertiup angin.


"Jika semua kupu-kupumu dihancurkan kau tidak akan memiliki kesempatan untuk melawanku Wisteria."


"Aku punya banyak cara untuk mengalahkanmu," balasku demikian sebelum melompat ke arahnya.


Pola kupu-kupu hitam telah menyelimuti tubuhku, sementara itu Shiramaru masih dengan wujud iblisnya.


Kuayunkan pedangku dan itu melukai bahunya membuat darah meluncur dari dagingnya. Shiramaru hendak membalas seranganku meski begitu kepalanya lebih dulu terpenggal lewat pedangku.

__ADS_1


"A-apa yang terjadi?"


Dia jelas kebingungan hingga aku menjelaskan, sejak aku bertarung dengannya kami telah menyebar racun di sekeliling kami yang mana berbentuk sebuah gas.


Gas ini membuat tubuh siapapun yang menghirupnya akan berhenti bergerak dalam waktu tertentu, bisa dibilang semacam pelupuh bagi saraf otak.


Berbeda denganku, aku sudah meminum anti racunnya maka dari itu sebelum efeknya bekerja padaku aku harus meminum penawarannya lagi. Alasan sejak tadi aku terus memperhatikan pertarungan Yukisa karena racunnya juga telah menyebar ke arah sana.


"Kau melakukannya sampai sejauh ini," balas Shiramaru.


"Apapun caranya kami harus menang."


Aku melihat ke arah hutan di mana di sana sebuah tabung masih menyemburkan asap ke udara, tabung itu sebelumnya ditaruh oleh Yukisa sebelum menembakan panahnya.


"Aku sangat membenci kalian berdua, padahal Genjitsu sangat mempercayai kalian... dia selalu mengatakan bahwa kalian sangat kuat dan beruntung telah merekrut kalian kekaisaran," meski aku mengatakan itu Shiramaru sudah mati.


Yukisa mengirimkan tombak-tombak air yang mana menghabisi musuhnya selamanya, kepala Kaori yang terpotong jatuh begitu saja.


Yukisa hendak jatuh namun aku segera menopangnya untuk memberikan obat kepadanya. Satu matanya terluka karena sebuah jarum karenanya dia kesulitan untuk melihat.


"Kita harus bergegas pergi dari sini," katanya yang mendapatkan anggukan dariku.


Aku membawa Yukisa ke arah dimana pertarungan Lion berada, langkahku sesaat terhenti melihat tubuh pasukan kami telah tertancap oleh kumpulan tulang-tulang ini.


"Bagaimana semuanya?" tanya Yukisa dan aku membalasnya dengan nada sedih.

__ADS_1


"Semuanya mati."


"Begitu."


Ada lingkaran sihir raksasa di langit tapi itu hanya sebentar sebelum akhirnya hancur menjadi serpihan kaca.


"Kuharap Lion baik-baik saja sekarang," kataku dengan suara pelan.


Sesampainya di sana kulihat Lion dan Echidna saling menyelimuti dirinya dengan kekuatan luar biasa, keduanya saling berlari dengan sebuah teriakan.


Ketika pedang keduanya saling berbenturan itu menghasilkan ledakan luar biasa yang mana menelan keseluruhan area di sekeliling keduanya.


Aku maupun Yukisa hanya bisa menunduk menahan diri kami agar tidak terhempas, aku membiarkan Yukisa duduk sebelum berjalan sendirian untuk memeriksa keadaan Lion.


Aku berseluncur ke bawah kawah dan melihat bagaimana keduanya terbaring tak bergerak.


"Lion, kau baik-baik saja... tanganmu?"


"Tak apa? Tolong bedah perut Echidna dan ambil tanganku dari sana, aku sama sekali tidak bisa bergerak."


"Tapi apa tak masalah aku melakukannya."


Lion memberikan sebuah jimat padaku.


"Tempelkan ini di keningnya, sisanya kuserahkan padamu."

__ADS_1


Sebelum aku bertanya lebih lanjut Lion sudah tak sadarkan diri.


__ADS_2