
Aku menarik setengah tubuhku tepat saat bilah katana menyisir dari atas. Setiap bangunan di sekelilingku terbelah menjadi dua bagian lalu rubuh ke bawah.
Penggunaan pedangnya memang sangat baik, aku membalas dengan ayunan ganda menciptakan percikan kembang api yang dibarengi dengan lengkingan logam yang saling beradu.
Aku tanpa sadar tersenyum dari balik topengku, benar-benar hebat orang ini jelas memiliki kemampuan berpedang hebat.
Ketika dia lolos dari tebasanku, ia akan memasukan pedangnya melompat ke udara selagi bersalto dan ketika kakinya mendarat di tanah dia akan menebaskan pedangnya.
Aku menghindarinya dengan jarak sehelai rambut. Membelah tanah bagaikan jurang dalam tak berdasar, hanya sekali tebasannya mampu memberikan jarak sejauh satu kilometer. Yang lebih membuatku kagum dia tidak menggunakan artefak suci yang digunakan Kizuna melainkan pedang biasa.
Aku mempercepat gerakanku melangkah dengan jarak zig-zag dan mengayunkan pedang dari bawah ke atas, Kanade yang siap untuk itu menahannya dengan baik, kemudian berputar dengan sudut 180 derajat beriringan dengan pedang miliknya, aku menahan dengan satu pedang dan pedang lain berusaha menebasnya.
Dia berhasil menghindarinya dengan membiarkan pedangku tertahan armor yang melindungi bahunya.
Aku memiliki keuntungan dalam jumlah pedang namun bukan berarti lawanku dirugikan, tangan kosong Kanade menyentuh dadaku.
"Kaze no Taiho."
Tepat saat dia mengatakan tekniknya aku diterbangkan dengan cepat, menabrak dinding bangunan menciptakan retakan jaring laba-laba di punggungku.
Darah menyembur dari mulutku saat aku berlutut dengan rasa sakit yang luar biasa, aku menyembuhkan lukaku dengan sihir penyembuhan setelahnya.
Serangan barusan benar-benar seperti meriam angin yang dilesatkan dengan kecepatan tinggi.
"Bagaimana apa kau menyerah, itu... topeng iblis-sama."
Memberikan akhiran 'Sama' terlalu berlebihan untukku. Biasanya samurai akan memberikan akhir 'De gozaru' atau 'Dono' sepertinya dia tidak seperti itu.
__ADS_1
Aku ingat belum memperkenalkan diri.
"Namaku Lion."
Dia tersenyum pahit atas pernyataanku yang ramah.
"Penjahat harusnya bersikap seperti penjahat lainnya."
Apa yang dia harapkan.
"Yah dari awal aku memang bukan penjahat, ngomong-ngomong aku juga berasal dari dunia yang sama denganmu.. di dunia kita apa kau pernah mendengar cerita tentang kura-kura dan kelinci?"
Rion beraksi dengan ceritaku.
"Jangan cerita itu lagi, setiap aku mendengarnya ceritanya akan berubah-ubah."
Aku bisa melihat dia memasang wajah panik.
"Benar sekali."
Kanade tertawa.
"Semua orang di dunia tahu ceritanya, aku sudah bosan."
"Lalu bagaimana dengan Jack dan tiga biji kacang ajaib."
"Yang dimana Jack pergi ke istana awan dan mengambil angsa emas.. aku sudah tahu juga, jangan repot-repot."
__ADS_1
Aku mengulurkan jari telunjukku lalu mengayunkannya ke kiri ke kanan dengan sombong.
"Kau hanya tahu, tapi aku akan memberikan pengalaman yang sama."
"Jangan-jangan."
Tepat saat Kanade menjatuhkan pandangannya ia melihat biji yang kutebar di bawah kakinya.
Biji itu tumbuh dengan cepat, sebelum Kanade bisa melarikan diri akar-akar melilit dirinya selanjutnya seperti dalam ceritanya tanaman kacang itu tumbuh sangat besar hingga membawanya pergi langit menembus awan selanjutnya puncaknya tidak terlihat lagi.
"Uwaaah.... aku tak bisa melarikan diri, aku akan membalasmu nanti topeng iblis, camkan itu."
Dialah yang mirip penjahat sekarang.
Jika aku terus berurusan dengannya aku tidak akan bisa menghancurkan gerbangnya.
"Seperti yang diharapkan dari Lion, kau sangat kejam."
"Terkadang Lion bisa jahat juga terhadap gadis."
"Kalian berdua, aku terpaksa loh... terpaksa, lagipula pohonnya akan mengecil dalam 12 jam."
"Aku merasa kasihan padanya."
"Aku juga."
Sebenarnya kalian berada di pihak mana.
__ADS_1
Saat gerbang muncul kembali aku menarik diriku di atasnya dengan memegang dua pedang yang disilangkan di udara, aku menebaskannya secara bersamaan dan seketika gerbangnya hancur berserakan.
Satu gerbang akhirnya bisa kami bereskan.