Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 362 : Venus Dan Rion


__ADS_3

Rion membantah dirinya sebagai dewi tapi bagi Venus. Dewi tetaplah dewi meskipun dia telah dibuang ke dunia fana.


Venus duduk di kursi selagi menyilangkan kakinya sementara tangannya menopang dagu yang disandarkan di punggung kursi selagi bertanya.


"Jadi apa tujuanmu? Aku memang berterima kasih padamu tapi aku juga harus tahu apa yang sedang kau lakukan di sini."


"Itu..."


Rion yang duduk di atas ranjang mencoba untuk tidak mengatakannya namun tatapan Venus terus terarah padanya hingga dia tak bisa mengelak lagi.


"Sebenarnya aku ingin bertambah kuat lalu menantang Amnesty."


Rion bisa membayangkan reaksi marah dari Venus namun Venus tidak berekspresi apapun dan hanya terdiam memikirkan sesuatu.


"Tolong katakan sesuatu, aku jadi takut."


"Aku tidak peduli dengan apa yang ingin kau lakukan tapi sesuai peraturan jika kau melakukannya maka saat kita bertemu lagi kita adalah musuh dan akan saling bertarung satu sama lain."


"Ah jadi begitu."


Rion masih belum paham dengan pola pikir yang menjadi lawan bicaranya, tapi dia senang bahwa Venus tidak akan melakukan apapun padanya untuk sekarang.


Dia melanjutkan.


"Sekarang giliranku bertanya, kenapa kau masih berada di dunia ini? Padahal kau seharusnya kembali ke alam dewi."


"Ceritanya panjang tapi aku hanya mencoba untuk memperbaiki semuanya. Aku sudah membunuh pemimpin para titan dan mendengar sesuatu yang terjadi di dunia ini sampai aku tahu bahwa dunia ini akan baik-baik saja aku akan tetap berada di sini sebagai gadis suci yang memimpin kerajaan ortodoks suci."


"Satu hal lagi... Kau membunuh suami Harfilia?"

__ADS_1


"Mau bagaimana lagi hanya itu pilihannya."


"Lalu informasi apa yang telah kau dapatkan?"


"Aku tidak bisa mengatakannya yang jelas sekarang manusia juga mendapatkan ancaman dari para iblis."


"Setelah selang seribu tahun peperangan manusia melawan titan atau sebaliknya bahkan para dewi, sekarang masalah bertambah lagi."


Venus mengangguk mengiyakan lalu melanjutkan.


"Aku akan senang jika Rion membunuh mereka termasuk raja iblisnya, aku sesungguhnya tidak ingin terlalu mencolok."


"Kenapa aku harus melakukannya? Sudah jelas kita akan bermusuhan suatu hari nanti."


"Sekarang adalah sekarang, nanti tetaplah nanti... tentu aku juga akan memberikan imbalan termasuk membantumu, bukannya kau sedang mengumpulkan kemampuan dosa mematikan."


"Itu memang kemampuan yang bagus untuk digunakan melawan dewi... bahkan jika dewi mencobanya itu sangatlah sulit untuk membuang jiwa suci kami."


"Tunggu sebentar, kau pikir aku ini tidak suci kukatakan aku masih perawan."


"Begitu, aneh sekali."


"Dari awal sudah kukatakan aku ini bukan dewi lagi."


Protes Rion sama sekali tidak didengarnya malah Venus yang balik bertanya.


"Jadi apa pilihanmu? Membantuku lalu aku membantumu, ngomong-ngomong sulit untuk bisa mencapai alam dewi dengan kemampuanmu sekarang."


Rion memikirkannya sesaat dan jawabannya tentu menerima apa yang ditawarkan oleh Venus.

__ADS_1


"Kalau begitu akan kucari orang-orang dengan kandidat dosa tersebut, aku tidak bisa membunuh mereka jadi kaulah yang melakukannya sendiri."


"Aku tahu."


Venus menyeruput tehnya lalu berdiri setelahnya.


"Aku akan menemuimu lagi."


"Tunggu sebentar Venus. Saat kau membunuh pemimpin titan apa kau membunuh putrinya juga?"


"Kami hanya membunuh titan yang bersalah saja."


"Dengan kata lain diluar sana ada para titan yang masih hidup."


"Benar, mereka bisa membaur dengan manusia namun beberapa lagi sepertinya menaruh kebencian pada manusia hingga waktunya tiba mereka pasti akan menyerang."


"Jangan bilang karena itulah kau membangun tembok-tembok tinggi ini."


"Benar sekali."


"Lalu dimana putri Harfilia?"


Rion hanya bisa memberikan pertanyaan singkat padanya.


"Entahlah, saat aku datang ke sana dia sudah tidak ada."


Rion hanya terdiam saat kepergian Venus. Dengan kata lain situasi dimana Venus tidak bisa menemukan anak tersebut akan berdampak sama terhadap Harfilia.


"Kuharap dia baik-baik saja?" gumamnya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2