Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 307 : Perayaan Sebelum Pertemuan


__ADS_3

Dengan langit yang berwarna cerah Hime mengumumkan sebuah perayaan besar-besaran di ibukota, panggung pertunjukan telah dibangun serta kios-kios telah berderet dengan rapih.


"Aku pesan seratus tusuk."


"Siap laksanakan."


Aku berdiri di depan kios untuk memesan beberapa sate, ngomong-ngomong orang yang pesan seratus tusuk itu adalah seorang bernama Wisteria.


"Lihat ini Lion... maksudku Aoi, mereka menambahkan sayuran ke dalam satenya."


"Bukannya itu luar biasa," teriakku.


Aku benar-benar terpancing saat melihat makanan yang berbeda yang tak lazim ada di tempat lain namun memiliki rasa yang enak.


Aku mengambil beberapa tusuk untuk memasukannya ke dalam mulutku, daging yang dipenuhi lemak bersatu dengan buah-buahan memberikan rasa yang unik.


"Enak sekali."


"Benar kan, karena itulah aku pesan seratus tusuk."


"Bukannya itu berlebihan."


"Tidak ada berlebih untuk makanan lezat."


Aku suka gayanya.


Kami berdua duduk di kursi selagi melihat pawai yang sedang berlangsung, karena Hime seorang kaisar jadi dia berada dipawai tersebut selagi melambaikan tangannya dengan senyuman yang terkesan dipaksakan.


"Nona Hime tidak suka tampil mencolok apalagi dengan pakaian yang sangat rapih."

__ADS_1


Dia mengenakan kimono yang cukup tebal sepertinya.


Aku hanya menikmatinya selagi memakan sateku sebelum seorang berdiri di depan wajahku.


"Anu... jangan menghalangi pandanganku."


"Hoh, sepertinya kau bersama Wisteria."


"Siapa?"


Yang berdiri di depanku adalah seorang pria berambut merah panjang, ia mengenakan Kimono motif naga.


"Namaku Genjitsu salah satu pasukan elit kekaisaran."


"Kau terlihat tidak kuat."


"Haha kebanyakan orang bilang begitu, apa kau mau mencoba bertarung denganku, kulihat kau memiliki pedang bagus tapi kita bisa menggunakan pedang kayu."


Walau penampilanku seorang wanita di dalamnya tetap saja pria, aku tidak mungkin bisa mengabaikan seseorang yang memberikan tantangan begitu saja.


Ah benar, mungkin Wisteria tidak akan setuju.


"Bagus, Genjitsu hajar dia sampai bonyok."


Malah sebaliknya, dia punya dendam padaku sebesar apa. Genjitsu hanya tersenyum masam dia jelas bukan orang yang seperti itu.


Kami memutuskan pergi ke aula latihan, di dalamnya banyak pedang kayu serta beberapa peralatan pendukung juga, mungkin lebih tepat disebut sebagai Dojo juga.


Aku menangkap pedang kayu yang dilemparkan oleh Genjitsu.

__ADS_1


"Aoi sangatlah kuat jadi tidak perlu menahan diri."


"Jika begitu aku tidak ada segan."


Seharusnya dia mendukungku bukan orang ini, mau bagaimana lagi kurasa dia sudah lebih lama mengenal orang bernama Genjitsu.


Kami saling berhadapan lalu membungkuk sekali sebelum masuk ke dalam posisi siaga.


"Pertandingan latihan dimulai."


Jika orang lain memiliki festival di luar maka ini adalah festivalku sendiri, kami berdua melangkah maju. Dalam teknik pedang pernafasan adalah sesuatu yang utama karena itulah saat mengayunkan pedang kami dituntut untuk tidak membuat gerakan sia-sia.


Pedang kami saling berbenturan yang mana menghasilkan suara khas dari kayu, aku menangkis pedang secara vertikal, saat aku hendak akan mengenai kepalanya dia telah lebih dulu melindungi dirinya dengan pedang.


"Seperti yang dikatakan Wisteria kau sangat hebat."


"Dia terlalu memandang tinggi diriku."


Aku terus menyerangnya sekuat tenaga sementara Genjitsu masih dalam posisi bertahan, sejauh ini dia bisa menahan semua seranganku.


Dia menggubah posisinya dalam sekejap dimana dari posisi bertahan menjadi menyerang, aku jelas dipukul mundur olehnya hingga pedang kami saling tertahan satu sama lain sebelum mundur menjaga jarak.


Orang ini tidak mudah untuk dikalahkan.


Aku mengangkat tanganku dan berkata.


"Bolehkah aku meminta satu pedang lagi."


"Tentu."

__ADS_1


Aku menerima pedang lain dan memosisikan diri dalam posisi siaga, begini lebih baik.


__ADS_2