
Kaisar Barnett hanya bisa memekik marah saat mengetahui bahwa pasukannya telah dipukul mundur oleh satu kerajaan.
Setelah menguasai seluruh negara di benua ini cita-citanya menguasai dunia telah sirna dalam sekejap, dibanding dirinya yang marah sosok Nightmare duduk tenang selagi memakan apel sementara di jendela Solomon hanya melirik ke arah matahari tanpa mengatakan apapun.
"Kalian berdua telah membantuku sejauh ini, cepat lakukan sesuatu... kalau tidak hanya menunggu waktu mereka akan menyerang ke negaraku."
Nightmare yang membalasnya.
"Sayang sekali tapi kesepakatan yang telah kami buat hanya sampai di sini saja, seperti yang kau janjikan berikan benda yang kami inginkan."
"Kau?"
"Alasan kenapa kau kalah karena pasukanmu sendiri yang terlalu lemah."
"Itu karena kau tidak ikut dalam peperangan."
"Kau ingin mengirim wanita seperti diriku pergi berperang, itu sangat menyebalkan... yang kuinginkan hanyalah peta yang menunjukkan di mana kediaman para naga itu berada, mereka selalu berpindah-pindah tempat jadi sulit untuk melacaknya."
Mengetahui bahwa posisinya sulit untuk bernegosiasi, Barnett mengambil peta di lacinya lalu melemparkannya ke arah Nightmare.
"Kita sudah mendapatkannya Solomon, mari tinggalkan negara ini... ada apa? Kau marah karena kalah oleh Lion."
Solomon menatap Nightmare hingga dalam sekejap jendela yang melapisi ruangan ini hancur berserakan.
"Jangan marah begitu, selagi kita bergerak dia pasti akan selalu ada untuk mencoba menghalangi kita, kau masih memiliki waktu lain kali."
Solomon hanya mendecapkan lidahnya lalu berjalan pergi.
Nightmare melompat kecil setelah memasukan peta yang dibawanya ke dalam belahan dadanya.
"Aku tidak tahu lokasi persis mereka tinggal, hanya saja di sana merupakan informasi dari orang-orang yang tidak sengaja melihatnya."
__ADS_1
"Aku tahu, naga itu sangat tersembunyi," balas Nightmare.
Barnett mengerenyitkan alisnya.
"Benar juga, Kekaisaran ini pasti kesulitan... akan kubantu untuk terakhir kalinya, pergilah ke dungeon tengkorak di sana ada sesuatu yang bisa membantumu."
"Dungeon itu sangat berbahaya."
"Bagi sebagian orang tapi sebenarnya ada ruangan rahasia yang belum pernah orang temukan, aku pernah tidak sengaja melihatnya... di lantai pertama carilah sudut ruangan paling akhir lalu tekan maka jalan rahasia akan terbuka."
"Apa kau bisa mempercayaimu?"
"Terserah kau mau percaya atau tidak yang jelas aku mengatakan hal sesungguhnya."
Nightmare tersenyum tipis lalu berjalan bagaikan seorang model.
Barnett terdiam untuk memikirkannya, setelah beberapa saat berlalu ia akhirnya memutuskan untuk pergi pada keesokan harinya bersama beberapa pasukan miliknya.
Membunuh kaisar pertama lalu memfitnah Casandra yang merupakan rubah ekor serigala, jika semuanya hanya berakhir dengan kegagalan maka dia tidak akan menerimanya begitu saja.
"Semua di dunia ini adalah milikku, akulah yang harus berada di puncak segalanya dan menjadi sosok yang mendekati dewa itu sendiri.. jika aku bilang orang harus mati maka mereka harus mati, benar... itulah yang harus semua orang terima."
Sesampainya di dungeon tengkorak ia melakukan apa yang dikatakan oleh Nightmare, ia menemukan sebuah batu menonjol di dinding, saat dia menekannya sebuah ruangan muncul tanpa terduga.
Ruangan itu berisikan kumpulan mawar berwarna putih cerah, jika melihat ke atas cahaya matahari bisa menembus lubang-lubang di langit memberikan nuansa seolah berada di taman bunga yang indah namun diantara itu sesuatu yang tidak seharusnya berada di tengah bunga, menampilkan sisi yang berbeda dari ruangan ini.
Benar.
Itu adalah sebuah peti mati hitam.
Semua pasukan berbisik satu sama lain dan mencoba mencegah pemimpin mereka membuka peti itu, namun demi mimpinya dia tidak akan pernah berhenti dan secara kasar menolak semua usulan.
__ADS_1
Dia membuka peti dan melihat sosok wanita berambut pirang tertidur di dalamnya, ia memiliki rambut pirang sebahu yang diikat bergaya twintail, sementara bagian tubuhnya tertutup gaun gothic berwarna hitam pekat dengan pita di bagian dadanya.
Barnett melukai tangannya dengan pisau lalu meminumkan darahnya pada sosok tersebut hingga wanita itu terbangun dari tidurnya.
Wanita itu melayang di udara lalu mendaratkan sepatu hak tingginya di lantai.
"Haha dengan ini kau akan menjadi anak buahku, aku ingin kau menghancurkan seluruh negara kecuali negaraku dan menjadikan aku penguasa sesungguhnya."
Wanita itu hanya memandang tanpa ekpresi, jika harus digambarkan dia seperti sebuah boneka cantik yang hidup.
Barnett dengan arogan mengangkat tangannya selagi melirik ke arah pasukannya.
"Dengan ini waktu sebagai kaisar agung akan dimulai."
Srak.
Sebelum dia menyadari apa yang terjadi sebuah tangan telah menembus jantungnya, di ujung tangan itu sebuah jantung masih berdetak.
"Kau?"
Tentu saja yang melakukannya adalah seorang yang baru dia bangunkan, yang merupakan seorang vampir.
"Aku tidak melayani siapapun, oranglah yang harus melayaniku... tapi jangan khawatir aku akan membuat negara ini menjadi seperti apa yang kau pikirkan, tentu semua orang akan berubah menjadi vampir."
Jantung itu dihancurkan dengan mudah.
Para pasukan hendak berlarian namun semuanya telah terlambat mereka dibunuh dengan tragis, darah mereka dihisap sampai kering kerontang sementara kulit dan tulang dibiarkan begitu saja.
Wanita bernama Blossom itu tersenyum kecil menampilkan kedua taring di bawah bibirnya.
Bunga mawar yang sebelumnya berwarna putih kini telah berubah menjadi warna darah dan kelopaknya mulai berterbangan melewati lubang-lubang di atas dungeon.
__ADS_1