Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 45 : Sarapan Bersama


__ADS_3

Sesuatu yang lembut membangunkanku dari tidurku, aku sedikit menekannya dan itu menghasilkan suara yang imut hingga aku membuka mataku dengan terkejut.


"Harty?"


"Hoaamm... selamat pagi Lion."


"Pagi jidatmu, kenapa kau di dalam selimutku dan juga kenapa kau telanjang."


"Kemarin malam aku banyak makan dan lalu tidur di sini."


Tiba-tiba saja hawa dingin menusuk punggungku, aku dengan gerakan robot menengok ke arah lain di mana Valentine dan Rion berdiri dengan tatapan yang tajam seolah tatapan itu bisa mengeluarkan laser menembus jantungku.


Aku bisa melihat ada awan petir di kepala mereka walaupun itu hanya imajinasiku.


"Jangan bicara dulu, lihat baik-baik.. aku masih mengenakan pakaianku dengan kata lain Harty menyelinap tanpa pengetahuanku kemari."


Awal gelap itu menghilang dalam sekejap.


"Benar juga."


"Pastinya."


"Haaah."


Tanpa sadar aku menghela nafas panjang sebelum berdiri kembali, hari ini kelompok kami diajak untuk menjelajahi Hutan Iblis oleh Roxy dan Amarzuki. Mereka meminta kami untuk membantu dengan bayaran lumayan karena itu tidak ada alasan untuk menolak.


Aku menutup wajahku dengan topeng lalu berjalan ke luar kemah selagi meregangkan otot-otot tubuhku yang kaku.


Ini hanya gerakan senam sederhana turun naik yang biasa dilakukan di dunia lamaku.


Tanpa kusadari mereka bertiga juga malah ikut-ikutan.

__ADS_1


"Aku tahu ini latihan untuk memperbesar payudaraku."


"Sepertinya begitu," potong Harty bersemangat sementara Rion tersenyum bangga.


Aku bisa melihat itu menghasilkan efek boing-boing.


Kenapa ukurannya sangat besar maupun sangat lembut.


Melihatku Rion langsung nyengir.


Dia pasti membaca pikiranku barusan.


Mari hilangkan pikiran negatif apapun dari kepalaku.


Tak lama Roxy yang merupakan ketua dari kelompok ini muncul dengan armor berat biasanya.


"Kalian sudah bangun."


"Baru saja."


"Terima kasih."


Kami bersama yang lainnya berkumpul selagi memakan sup hangat tersebut yang di dalamnya diisi daging, kentang serta beberapa potong jamur sebagai tambahan.


Aku mengambil daging dari mangkukku lalu memberikannya pada Harty.


"Kau memberikanku daging tambahan Lion."


"Kau pasti tidak akan cukup dengan milikmu sendiri."


"Benar sekali," balas Harty tersenyum lebar.

__ADS_1


Valentine dan Rion terlihat sedikit cemburu karena itu aku memberikan sisanya pada mereka.


Amarzuki yang entah muncul dari mana merangkul leherku.


"Kau memiliki anggota yang cantik-cantik, kau pasti sangat beruntung hingga membuatku iri."


"Aku tidak bisa menyangkal hal itu namun disisi lain mereka cukup merepotkan."


"Rion adalah gadis desa yang dikutuk sebagai sebuah pedang, Valentine adalah putri bangsawan yang lari bersamamu karena mau dinikahkan dengan pria yang tidak dicintainya sementara Harty dia anak malang yang kehilangan rumahnya dan memutuskan untuk ikut denganmu jika dilihat hal itu memang pasti kau memiliki banyak masalah."


Aku menatap Amarzuki dengan tatapan bermasalah.


"Dari mana kau mengetahui cerita itu?"


"Dari Rion."


Aku melirik ke arah dewi tersebut dan ia segera memalingkan wajahnya.


Dia mengarang cerita terlalu berlebihan.


Kuharap dia tidak mengatakan hal aneh-aneh tentangku.


"Lalu tentang dirimu sendiri Amarzuki, sudah berapa lama menjadi penjaga benteng di sini?"


"Aku baru satu tahun bergabung, aku tadinya seorang petualang atas saat aku tahu bahwa pihak penjaga benteng selalu kewalahan aku memutuskan untuk pergi dan bergabung dengan mereka sampai sekarang."


"Kau pasti luar biasa, baru sebentar kau sudah diangkat menjadi wakil ketua."


"Haha sepertinya begitu, maklum kebanyakan orang kuat lebih suka menjadi petualang dibanding penjaga benteng katanya lebih banyak menghasilkan uang."


Aku bisa mengerti hal itu.

__ADS_1


Sekarang aku dibayar sebagai petualang yang disewa para penjaga.


Karenanya upahku lebih banyak dibandingkan gaji mereka.


__ADS_2