Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 390 : Pertarungan Raja Iblis Bagian Lima


__ADS_3

Ireta mendecapkan lidahnya saat dia dengan susah payah kembali bangkit.


"Kau baik-baik saja?"


"Tak apa, hanya saja kita kedatangan musuh menyebalkan."


Kizuna mengikuti pandangan Ireta dan melihat satu orang lagi pengguna topeng yang tersisa. Dia adalah Azazel yang menggunakan pedang besar di tangannya.


Charlotte mendesah pelan.


"Tekanan mananya benar-benar tidak normal, hati-hati Kizuna dia.."


Dentrang.


Sebelum Charlotte menyelesaikan perkataannya Azazel telah selangkah di depannya mengirimkan berbagai serangan, Ireta memotong.


"Jangan lupakan aku?"


Azazel telah melompat ke belakang sementara ujung sabit Ireta telah meledakan pijakan Azazel sebelumya. Tanah berhamburan bersamaan udara yang menyapunya ke samping.


Ireta maupun Kizuna saling bersebelahan.


"Apa kau butuh bantuan dengan orang ini?"


"Sungguh kesal mengakuinya tapi kurasa aku memang perlu bantuan."


"Ireta tidak bisa jujur."


"..."


"Jadi apa yang kau inginkan?"


Kizuna mengalihkan pertanyaan pada Azazel namun dia sama sekali tidak menjawabnya.


"Apa-apaan dengan dia?"


"Percuma saja, aku sudah mengajaknya bicara sejak awal sayangnya dia tidak pernah menjawabnya."


"Mungkinkah dia tak bisa berbicara?"


"Mungkin saja "

__ADS_1


Azazel melesat maju dengan pedang besar di tangannya, Ireta mengenakan topeng iblisnya demi menahan tebasan tersebut.


Sesama pengguna topeng mereka bertarung dengan hebat, Kizuna mengambil kesempatan untuk memotong leher musuhnya, jika dia tak menghindarinya semuanya akan jauh lebih mudah.


Pedang besar menghantam Ireta kemudian menerbangkan Kizuna hingga keduanya terlempar beberapa meter sebelum sejajar dengan tanah.


Azazel mengayunkan pedangnya kembali menciptakan bilah hitam raksasa berbentuk bulan sabit. Kizuna berguling untuk menghindarinya kini diantara dirinya dan Ireta tampak sebuah jurang dalam yang memisahkan keduanya.


Ireta bangkit selagi menggerak-gerakkan kedua sabitnya sebelum melesat maju, bersama dengan Kizuna mereka secara bergantian menyerang Azazel.


Dentrang.... dentrang... dentrang.


Bam.


Asap debu menyembur ke udara memuntahkan seluruh material ke segala arah. Kizuna melompat di udara untuk memberikan gerakan tusukan yang mana masih bisa ditahan dengan pinggir pedang Azazel.


"Yamata no Orochi... tebasan kesembilan."


Kepala ular memang muncul namun sebentar sebelum Azazel menebas mereka dengan ringan.


"Bagaimana bisa?"


Keduanya saling menghantamkan senjata lagi. Di saat yang sama Ireta telah melompat lebih tinggi dari keduanya, melihat itu Kizuna menendang tubuh Azazel membuatnya sedikit terdorong ke belakang.


Itu menciptakan sebuah retakan yang pada akhirnya terbelah dengan rapih, sebelumnya mereka bertanya-tanya seperti apa wajah yang ada dibalik topeng tersebut dan ternyata itu adalah sepasang mata yang berwarna merah.


Wajahnya memang tampan namun lebih ke arah dingin tak berekpresi.


Ireta menyeringai akan hal itu.


"Lama tak bertemu Solomon, aku memang sedikit curiga sejak awal dan ternyata itu memang benar."


"Ireta Lapiz, bagi seorang yang pernah berguru pada orang yang sama kau sangat merepotkan."


"Kau sudah tidak berhak memangilnya guru... hari ini akan kubunuh kau."


Kizuna hendak ingin menghentikan Ireta, sayangnya melihat bagaimana dia sangat marah Kizuna tak bisa berbuat banyak.


"Sebaiknya aku membantunya."


"Tunggu dulu Kizuna, mari kita lihat beberapa saat lagi... orang bernama Solomon itu mungkin bukan lawan kita."

__ADS_1


Untuk pertama kalinya Charlotte mengatakan hal demikian, jika rekannya berkata demikian pastilah Solomon bukan orang yang mudah dikalahkan.


Ireta menebaskan kedua sabitnya dengan gerakan super cepat, Solomon mengikutinya dengan pedang besar miliknya, terdengar bunyi hantaman logam bersamaan kilatan cahaya yang super cepat.


Keduanya berhenti di detik yang sama, berbeda dari kedua sabit yang digunakan Ireta pedang Solomon hancur berserakan memaksanya untuk mengeluarkan pedang hitam biasanya dari tangannya.


Dia menebas dan Ireta menahan hingga tubuhnya terlempar sejauh beberapa meter.


"Sekarang Kizuna," teriak Charlotte dan ia telah mengambil jarak dekat dengan musuhnya mengambil gerakan memenggal kepala.


"Percuma saja. Pedang ratu roh tak mungkin melukaiku."


Dengan tangan kosong Solomon menahannya lalu menusukan pedang miliknya menembus perut Kizuna hingga dia memuntahkan darah sebelum melemparkan tubuhnya melesat jauh ke arah Ireta yang berhasil menangkapnya.


"Kizuna, Kizuna."


"Sakit sekali."


"Tunggulah sebentar, biar aku sendiri saja yang menghabisinya."


Solomon tampak bermain-main dengan pedang Kizuna di tangannya.


"Charlotte."


"Menyedihkan sekali."


Charlotte kembali ke wujud sedia kala, dia menarik dua pisau yang diselipkan di pinggangnya untuk menikam Solomon di dada


Bukan darah yang keluar dari sana melainkan kedua pisau itu yang hancur berkeping-keping.


Pedang Solomon terayun dan dalam sekejap tubuh Charlotte terbelah dua bagian.


"Tidak?!" teriak Kizuna sementara Solomon mengambil potongan kepala Charlotte sampai pinggang sebelum melemparkannya jauh dari potongan satunya lagi.


"Ratu roh tidak bisa dibunuh namun dengan ini cukup membuatmu kesulitan."


"Sialan kau, Solomon."


Sebuah pedang lain menembus kepala Charlotte hingga dia tak bisa berbicara lagi.


Ireta menggigit ujung bibirnya demi menahan emosi dari dalam dirinya.

__ADS_1


"Tak kusangka Julie telah merawat monster sepertimu."


"Sekarang giliranmu Ireta.... biar kuberitahu satu hal, aku sebelumnya tinggal di dunia bawah, iblis di sana hanya bisa mati saat kau memenggal kepalaku, jika itupun kau bisa."


__ADS_2