
Aku menempel selembaran di dekat pemandian umum, dan saat aku melakukannya semua orang mengejarku.
"Tangkap si topeng mencurigakan itu."
"Aku bukan topeng mencurigakan," teriakku.
Mereka semua malah menuduhku sebagai pengintip, sementara orang yang menyuruhku menempel di sana tertawa puas.
"Sekarang kau tahu rasanya seperti apa dikejar-kejar oleh warga."
Orang ini.
Aku menarik pipi Wisteria hingga dia kesakitan. Selama perpindahan kota banyak hal yang menyenangkan yang telah kami lewati, dibanding menganggapnya pekerjaan itu lebih mirip seperti liburan sehari di beberapa kota sekaligus.
Setelah sore tiba aku bisa membaringkan tubuhku di kediaman Wisteria, aku menatap langit-langit yang sudah mulai akrab denganku selagi mengintip jimat yang sebelumnya diberikan oleh Amnesty.
Ada beberapa pola yang tidak kumengerti tapi jelas bentuknya mirip seperti kertas untuk menyegel vampir atau sebagainya.
Aku akan tahu nanti saat aku menggunakannya. Ketukan terdengar dari luar kamarku di mana suara Wisteria terdengar.
"Makan malam sudah siap loh, turunlah."
"Aku mengerti... aku perlu ganti baju dulu."
"Boleh aku bantu."
Sebelum aku menjawabnya Wisteria sudah menggeser pintunya di mana aku sedang telanjang sekarang.
__ADS_1
Ia mengembungkan pipinya.
"Kau kembali ke wujud Aoi?"
Akan aneh jika seluruh pelayan tahu bahwa seorang gadis berubah jadi seorang pria dalam waktu semalam, selama di sini aku jelas akan memakai wujud ini.
"Bukan itu yang harus kau katakan setelah menerobos masuk."
"Ah.. maafkan aku, aku pikir ini kesempatanku."
Aku harus berhati-hati dengannya mulai sekarang.
Aku mengenakan kimono dengan haori bermotif kupu-kupu sementara rambutku akan kuikat. Aku sering melihat Rion menggunakan gaya seperti ini tapi sulit juga untuk melakukannya.
"Kau pasti tidak terbiasa, akan kubantu."
"Jangan malu-malu, biar aku lakukan.. akan lebih bagus jika kau mengepangnya juga."
Aku duduk di kursi di depan cermin sementara Wisteria mulai menata rambutku seperti seorang profesional dalam bidangnya.
"Pertama kita rapikan dulu."
Skill dosa mematikan benar-benar berbeda dari skill lainnya, biasanya orang tidak akan bisa menyamar seperti ini namun dengan skill ini malah sangat mudah.
Aku yakin Nightmare menggunakan kemampuan ini setiap hari tanpa kesusahan.
"Lihat cantik kan."
__ADS_1
"Walau penampilanku seorang gadis di dalamnya masih pria."
"Kukira kau akan bilang om-om hidung belang."
"Memangnya aku seperti itu, apa?"
Setelah selesai kami duduk di meja yang sama sementara para pelayan mulai melayani kami seperti memberikan serbet dan juga menuangkan air untuk mengisi gelasku yang kosong.
Sungguh kehidupan bangsawan seperti ini tidak cocok denganku, meskipun hidangan yang mereka sajikan benar-benar kualitas terbaik.
Pagi berikutnya festival telah diadakan, telah banyak orang yang datang kemari termasuk dari kota lainnya. Aku sekarang adalah pengawal Hime karena itu selagi berkeliling aku juga bertugas melindunginya.
"Lihat itu Lion, mari ke sana?"
Hime lebih tertarik dengan kios-kios yang banyak menarik pembeli, dia juga tidak keberatan untuk berdesak-desakan dengan yang lainnya.
"Tolong satu."
Kami memesan buah yang aneh, ukuran serta bentuknya seperti melon namun saat dimakan rasanya seperti pisang. Aku yang memakannya di pinggir jalan hanya kebingungan.
Sungguh dunia yang aneh.
Hime tertawa lalu melanjutkan selagi menepuk punggungku.
"Kau pasti tidak bisa berkata-kata setelah memakannya, ini jelas enak bukan."
Aku tidak tahu harus mengatakan apa, walau rasanya tidak asing bentuknya jelas berbeda.
__ADS_1