
Aku bersama anggota partyku dari dunia ini mengunjungi desa yang dimaksud, itu berada di wilayah pinggir kerajaan yang jauh dari pusat kota besar dimana desa terpencil adalah hal yang pas untuk menggambarkannya.
Bahkan sulit untuk menempuh jalan demi pergi ke sana meski begitu jika seseorang berniat membuat jalan, itu bukanlah hal mustahil.
Kami sampai di sebuah bukit dan di bawah kami bisa terlihat desa yang hampir mirip sebagai reruntuhan, Ivy merambat di sekitar dindingnya dan lumut-lumut berkembang baik di sana.
Mengabaikan keadaan seperti itu tampak sekitar 20 penjahat dari aliansi kejahatan bersantai di sana.
Satu pria yang menjadi pemimpinnya adalah pria botak dengan otot besar, dia pengguna kapak kembar yang sedang duduk di kursi ditemani para penjahat wanita.
Aku berkata.
"Tidak ada rencana untuk ini karena itu serang saja langsung."
"Itu lebih mudah dilakukan" balas Mamia dan ia melesat lebih dulu dibanding kami.
"Ikuti saja Mamia, mari bergerak."
Kami menuruni bukit dan menyerang secara frontal. Estelle melompat selagi menekuk lututnya yang mana menghantam tepat di wajah salah satu musuh yang belum siap.
Akibat dampak dari hantaman tersebut dia mengerang kesakitan sebelum ditendang hingga pingsan.
Hualing berbisik padaku.
__ADS_1
"Bukannya Estelle tampak menakutkan."
"Pura-pura saja tidak melihatnya."
Kami terus menjatuhkan musuh secara bergantian, seorang pria hendak membacok dan aku menangkap senjatanya sebelum membalas dengan pukulan.
"Guakh.. siapa orang-orang ini?"
Sementara kami berurusan dengan anak buah yang tidak kuat, Estelle berhadapan langsung dengan pemimpinnya setelah menjatuhkan 5 orang lewat tangannya.
"Mustahil?"
"Siapa yang mengizinkan kalian tinggal di sini, ini adalah desaku tidak ada yang berhak menempatinya tanpa seizinku."
Itu mirip perkataanku yang kukatakan pada Rion di atas ranjang.
"Aku tidak akan menahan diri Rion."
"Silahkan saja berapa ronde pun akan kulayani."
Sebaiknya aku tidak harus memberitahukan hal itu.
Aku menumpuk para penjahat dan duduk di atasnya tanpa membuka topengku, pertarungan Estelle pasti akan menarik ditonton maka jangan sampai dilewatkan.
__ADS_1
Mamia duduk di kananku dan Hualing di sebelah yang lain selagi membawa camilan.
"Lion mau?"
"Tentu."
"Aku juga."
Pertarungan Estelle dimulai dengan tembakan sihir api darinya, pria botak menebas api tersebut lalu menahan serangan Estelle yang secara langsung dia lesatkan dari depan, itu menciptakan dentingan yang memekakkan telinga.
Otot kaki pria botak sangatlah kuat ditambah otot-otot tangannya itu mampu melempar Estelle sedikit menjauh.
Estelle mengelak saat bilah kapak terayun lurus padanya. Itu memotong sedikit rambutnya sebelum dia menendang pria botak itu hingga terlempar ke samping.
Darah menetes dari mulut musuhnya namun belum cukup untuk menjatuhkannya, sekarang pria botak itu menyelimuti kedua kapaknya dengan api dan terkesan seperti cambuk.
Estelle pengguna sihir es maka dari itu api tidak berpengaruh padanya, serangan musuh berhasil di blokir sementara api di kapaknya mulai membeku.
Estelle bergerak maju dengan menggunakan teknik tebasannya yang cepat dia mampu membuat gerakannya seolah-olah menari di udara, dia melemparkan kedua senjata musuhnya sebelum memasukan senjata dirinya sendiri dan menggantinya dengan serangan tangan kosong.
Memukul beberapa titik organ vital sampai pria botak itu terhuyung-huyung ke belakang sebelum akhirnya tumbang karena pingsan.
Dia benar-benar pahlawan bahkan kemarahannya tidak membuatnya untuk membunuh seseorang.
__ADS_1