
"Bagaimana sebuah gerbang bisa menembus alam dewi? Setahuku gerbangnya hanya ke dunia lain secara acak."
Echidna menopang kepalanya dengan tangan kanan selagi memiringkannya ke arahku.
"Tentu saja karena gerbang itu belum sempurna, jika kau perhatikan yang ada di bawahmu itu adalah pola lingkaran sihir yang bisa mengaktifkannya... berbeda dari yang dimiliki Azure di dalam tubuh wanita itu hanya tiruannya tapi sudah cukup untuk memenuhi impianku."
Aku melirik ke sekeliling untuk memastikan siapa saja musuhku.
Untuk para ninja mereka hanya tentara bayaran dan sisanya hanya pasukan biasa, di sini yang paling kuat hanyalah Shiramaru Kaori dan juga terakhir Echidna. Selain ketiganya mereka lawan yang mudah dikalahkan.
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Tentu saja melawan."
"Aku ingin lihat seberapa jauh kau melakukannya."
Aku dengan mudah melepaskan ikatan taliku lalu mengeluarkan pendangku untuk mengincar leher Kaori. Dengan mudah dia menghindarinya kemudian melemparkan tubuh Hime ke arah Echidna.
Echidna mengulurkan tangannya.
"Hanya dengan gerbang ini, aku pasti bisa menjadi seorang dewi."
Tepat saat dia menyelesaikan perkataannya tangan miliknya terpotong rapih, Echidna tak bisa berkata apapun kecuali menghindari tebasan berikutnya.
Hime yang terikat dengan tali dengan mudah meloloskan diri selagi mengayunkan pedang ke arahnya, Kaori dan Shiramaru tampak terkejut bersamaan itu panah ditembakkan dari belakangku untuk menghabisi semua pasukannya.
__ADS_1
"Bagaimana bisa?"
Hime yang kubawa kembali ke wujudnya sedia kala yaitu Wisteria. Dari awal aku tidak berniat membawa Hime ke dalam pertempuran ini meskipun dia mengajukan sendiri untuk ikut, sementara seorang yang memimpin panah ini adalah Yukisa.
Kaori mendecapkan lidahnya lalu berusaha menyerangku dengan tangannya, dengan cepat Yukisa berada di depanku untuk menahannya.
"Lawanmu adalah aku."
"Yukisa."
"Akan kubalas perbuatan kalian pada Genjitsu."
"Dia hanya orang tak berguna yang mudah di manfaatkan."
"Kau akan membayarnya."
Aku dan Wisteria saling mengangguk sebelum kembali bergerak.
Tangan Echidna yang terpotong kembali ke tubuh utamanya hingga dia tertawa.
"Tak kusangka aku bisa dibohongi, sungguh skill dosa mematikan sangat merepotkan."
Alasan kenapa Echidna tidak bisa menyadari Wisteria karena skill tersebut, setelah aku mencobanya ternyata perubahan bisa kulakukan pada tubuh orang lain juga.
Aura gelap tercipta di pedangku, saat aku mengayunkannya itu menciptakan bilah hitam yang tertuju langsung pada Echidna.
__ADS_1
Dia hanya menepisnya ke samping dan bilah itu berbelok dengan mudahnya.
"Kau yakin ingin membunuhku, jika kau lakukan maka Ringbel yang ada di tubuhku juga akan mati... dia sangat ingin sekali bisa kembali ke alam dewi hingga membuat perjanjian denganku agar dia tidak berubah jadi iblis saat termakan gerbangnya sendiri, bayangkan bagaimana dia akan sedih."
"Jika memang tidak ada jalan lagi maka aku akan membunuhnya juga."
Atas perkataanku Echidna tampak terkejut.
"Bukannya kau datang untuk menyelamatkannya."
"Jika tidak bisa diselamatkan apa boleh buat bukan?"
"Kau benar-benar bukan pahlawan."
"Biar aku katakan sesuatu yang menarik... aku melakukan semua ini hanya untuk menghilangkan kebosananku, dari awal aku bukan pahlawan lagipula aku dipanggil ke dunia ini oleh dewi jahat."
"Terserahlah.... jika perkataanku tidak bisa membuatmu bimbang maka aku hanya harus memotong-motong tubuhmu."
Mulut Echidna merobek ke arah telinga menampilkan gigi berjeruji. Dia melanjutkan dengan suara berbeda.
"Jangan pikir skill dosa mematikanmu akan berpengaruh padaku bahkan sihir suci juga bukan apa-apa bagiku."
Akar tanaman muncul di sekelilingnya lalu menjeratnya dengan ikatan kuat, seolah tak terpengaruh dia hanya berjalan dengan senyuman di wajahnya sementara Magic Tree yang kuciptakan dihancurkan begitu saja.
"Ini adalah kemampuanku yang disebut Anti Magic Skill... menghilangkan Buff, sihir abnormal bahkan serangan apapun dari lawan, semua seranganmu sekarang tidak berguna."
__ADS_1
Bos terakhir memang sangat merepotkan.