
Mengingat bagaimana tempat ini beroperasi aku sama sekali berusaha tidak terlibat hal semacam ini.
Aku duduk di kursi biasa saat Wisteria dan Yukisa kembali setelah bertanya pada pemilik tempat ini. Seperti yang diduga para anggota pilar pernah datang kemari dan mereka selalu datang seminggu sekali atau singkatnya hari ini saja.
Saat mereka tiba kami akan menangkapnya dan mengintrogasi tempat persembunyian mereka, semalaman aku tidak tidur jadi ini sangatlah melelahkan.
Dari tujuh pilar pondasi, empat diantaranya telah dihabisi, pertama adalah Zeranium, Akami, Makao dan terakhir Saratobi.
Hanya tersisa tiga orang lagi yang harus kami kalahkan. Wisteria mengerenyitkan alisnya saat melihat bagaimana tempat ini berjalan.
Dia hanya gadis perawan karena itu pemandangan seperti ini cukup mengganggunya, ngomong-ngomong soal mengganggu kedua orang ini terus melekat padaku seperti prangko.
"Kalian berdua..."
"Jika kami sendiri itu berbahaya, kami harus terikat dengan satu pria yang bisa membuat kami tetap aman."
Mereka ternyata takut.
Beberapa pria mendekat ke arahku.
"Kau punya wanita cantik di sana, apa kau akan menjual..."
Sebelum dia selesai berbicara aku meninju wajahnya hingga tumbang, orang yang bersamanya segera menyeretnya dan pergi.
Aku tidak ingin terlibat hal merepotkan tapi kurasa barusan aku tidak memiliki jalan lain, pukulan selalu menyelesaikan masalah di dunia ini.
__ADS_1
Atau mungkin tidak.
Beberapa saat kemudian seorang yang kupukul muncul bersama tiga orang yang kami tunggu.
Sungguh kebetulan bahwa yang kupukul adalah anak buah dari orang-orang yang kami cari yang disebut sebagai pilar pondasi. Salah satu pria yang berpenampilan seperti wanita bernama Zil.. satu pria berkepala plontos serta bertubuh kurus Draken dan satu wanita dengan rambut mirip buah anggur Cerly.
Kurasa semuanya lengkap.
"Draken mencengkeram kerahku."
"Yo kudengar kau memukuli anak buahku, kota ini telah diambil alih oleh kami jadi jika kau macam-macam kau akan mati."
"Dia memakai topeng aku yakin wajahnya sangatlah jelek," tambah Zil sementara itu Cerly tetap diam untuk mengawasi kami.
Dia mungkin menyadari sesuatu dan jawabannya tepat.
Tepat saat dua pedang yang dilesatkan oleh Wisteria dan Yukisa terhunus, Draken berhasil menghindarinya.
"Mereka pasukan elit, cepat lari.."
Ketiganya berlari seperti apa yang Cerly katakan, mengingat mereka sebagai pilar pondasi melarikan diri adalah sesuatu yang tak terduga.
Mereka berpencar untuk membuat kami melakukan hal sama.
"Mereka sengaja melakukannya," kata Wisteria.
__ADS_1
"Apa boleh buat aku akan ke sini, dan kalian berdua sisanya," atas pernyataanku mereka mengangguk lalu pergi sesuai jalan yang diputuskan.
Aku memilih Draken sebagai musuhku di mana dia berdiri di depan gang buntu sementara aku mengikutinya setelah menarik dua pedang ke tanganku.
"Sepertinya kalian hanya berpura-pura saja, bukan begitu?"
"Kami mendapatkan perintah bahwa ketika berhadapan dengan kalian kami harus melawan satu sama lain agar menang."
Aku jelas tertawa.
Lalu melanjutkan.
"Kami membutuhkan informasi keberadaan tuanmu, apa kau mau mengatakannya?"
"Tentu saja, tak masalah untuk mengatakannya pada orang yang akan mati... dia berada..."
Sebuah bilah dari pedang yang terhunus memotong kepala Draken hingga kepala itu jatuh dengan mudahnya.
Seorang yang melakukannya adalah orang dengan wajah mengerikan menyerupai iblis sempurna.
Seluruh tubuhnya dipenuhinya mata termasuk di wajah yang berjumlah sepuluh buah.
"Akhirnya kau muncul juga," kataku sok keren.
"Sejak kapan kau tahu?"
__ADS_1
"Sejak kami memutuskan untuk mengejar ketiganya, alasan kenapa kau bilang bahwa mereka harus melawan kami satu persatu adalah saat mereka kalah kau akan membunuhnya termasuk saat mereka membocorkan informasi, apa aku salah?"
"Memang benar tapi ada satu hal penting yang terlewat... aku juga bisa membunuhmu."