
Di dataran tinggi itu ketiga anak sedang duduk selagi menikmati pemandangan jauh di depannya, di sebelah kiri adalah anak dengan rambut hitam serta mata merah bernama Solomon, di sebelah kanan anak yang tampak biasa saja bernama Jinma Raiku dan duduk di tengah keduanya seorang gadis bernama Himekawa Rinju.
Ketiganya saling mengenal sebagai orang yang memiliki nasib buruk, bagaimanapun dunia bawah memiliki hirarki dimana iblis lemah harus mentaati iblis yang lebih kuat darinya.
Himekawa mengepalkan tinjunya selagi berteriak.
"Suatu hari akan kubuat sebuah kekaisaran yang hebat yang tidak mempermasalahkan hirarki menyebalkan ini, dan semua orang akan mengagumi sosokku yang agung."
"Kau mengatakan hal aneh lagi Hime," balas Raiku di sampingnya yang mendesah pelan.
"Panggil aku Hime -sama."
"Ogah, bagaimana denganmu Solomon?"
"Aku pikir aku ingin pergi ke dunia permukaan selagi membawa desaku."
Mendengar hal itu Raiku dan Hime hanya menatapnya datar.
"Kau lebih parah dari Hime, hal seperti itu tidak mungkin terjadi kita akan terjebak di sini selamanya."
"Benar Solomon sayang, kita tidak akan bisa pindah kemana-mana para iblis ditakdirkan untuk tetap tinggal di sini."
__ADS_1
"Siapa yang kau panggil sayang."
"Awawaw sakit... sakit Raiku, Raiku, pipiku ditarik oleh Solomon."
"Itu salahmu sendiri, kalau aku, ingin menjadi lebih kuat.... aku ingin menjadi iblis terkuat dengan begitu aku tidak perlu merasa takut dengan siapapun."
Solomon dan Himekawa hanya tersenyum kecil padanya.
Raiku menyelimuti pedang di tangannya dengan aliran petir hitam sebelum berlari ke arahku.
Aku mempererat genggamanku saat bilah itu diayunkan, berbeda dari iblis lainnya sihir suci tidak berpengaruh padanya meski aku menyelimuti pedangku dengan cahaya itu menjadi sia-sia saja.
Semua naga itu ditebas dengan begitu baik menjadi potongan lidi, pengguna pedang serta kekuatannya melebihi apa yang kubayangkan.
Dia mengumpulkan seluruh energi petir di ujung pedangnya lalu menembakannya seolah itu wajar. Aku menggunakan dinding tanah sesaat saat kakiku mendarat di permukaan.
Aku telah menggunakan banyak teleportasi jadi itu terlalu menguras mana kalau terus digunakan secara terus menerus. Dinding tanah tertembus oleh petir menyerepet sedikit bahuku dengan sebuah goresan setelahnya.
Raiku bergerak kembali dengan seluruh kekuatannya untuk beradu pedang denganku, debu berterbangan ke udara bersamaan kilatan cahaya yang memercikan api ke udara.
Pedang kami saling menyisir ujung bagian luar lalu menembus bahu diwaktu bersamaan.
__ADS_1
Kesepuluh mata di wajahnya menatapku secara serempak.
"Kau memilih jadi monster seperti ini, apa kau tidak menyesalinya?"
"Tidak ada yang harus kusesali, yang harus kusesali cuma jika terlahir lemah."
Kami menarik pedang secara bersamaan lalu membenturkannya kembali.
"Orang yang lemah tidak selalu kalah, mereka terkadang lebih kuat dari siapapun."
"Tidak ada hal seperti itu... di dunia ini jika kau lemah kau akan mati sementara jika kau kuat kau akan hidup."
Dia.
Aku memukul tubuhnya hingga tidak bergeming, sebagai serangan balasan dia mementalkan pedangku kemudian menendangku sehingga tubuhku meluncur di tanah.
Aku berputar-putar sesaat sebelum menjaga keseimbanganku selagi menahan tebasan berikutnya.
Dentrang... Dentrang.... Dentrang... Dentrang... Dentrang... Dentrang.... Dentrang.
Lengah sedikit kematian merupakan bayarannya.
__ADS_1