
Aku duduk di lantai dingin itu selagi menyandarkan diri ke tembok belakangku.
Ini jelas adalah penjara yang di mana hanya aku yang berada di dalamnya, jika dibilang khusus kurasa tidak demikian.
Aku berfikir bahwa penjara ini berada di kediaman gadis suci dan merupakan bukan bagian dari negara.
Aku menyesalinya karena melakukan hal tidak termaafkan, Rion yang sebelumnya hanya pedang ditaruh di luar dan duduk selagi menatapku dengan dingin.
"Jika kau ingin melakukan itu, kau bisa mengatakannya padaku dan aku akan memberikannya."
"Aku berencana agar gadis suci membawaku ke penjara di istana sayangnya gadis yang kulecehkan sepertinya ingin menghukumku sendiri."
Aku seharusnya tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan.
"Jadi itu yang kau rencanakan, jika sulit untuk mendapatkan Kekuatanku dengan baik-baik, maka lakukan secara kasar.. itu tidak masalah."
Aku hanya ingin mengambil kekuatan Rion dan kembali pulang, sayangnya hal itu gagal.
Negara suci memiliki kekuatan yang hebat bahkan jika aku melibatkan diri dalam pertarungan aku masih akan kerepotan.
Menyadari ada seseorang datang Rion berubah kembali jadi pedang dan yang masuk berikutnya adalah gadis suci tersebut.
Dia masih menunjukan wajah merah dengan air mata yang hampir tumpah.
"Rasanya masih sakit, kau... apa kau binatang buas?"
"Aku sulit mengendalikan diri, bisakah kau buat seolah hal itu tidak terjadi."
__ADS_1
"Tutup mulutmu, sampai aku puas menyiksamu di sini, jangan berfikir kau akan lolos."
"Aku akan menerima apapun yang aku tabur."
Gadis suci yang entah siapa namanya menerobos masuk dengan cambuk di tangannya, tanpa menunggu lama dia mengayunkannya dan aku menderita soal itu.
Ada kalung di leherku yang memiliki efek penurunan status kendati demikian aku tidak merasa bahwa aku akan mati.
Jika balasanku adalah ini aku tidak keberatan.
"Aku tidak mengikat rantai padamu tapi kau tidak melawan."
"Tidak masalah, aku memang yang salah di sini, jika kau ingin mengambil tanganku aku tidak keberatan tapi tolong sisakan yang sebelah."
Tentu aku tidak berniat kehilangan satu tangan pun.
"Jika kau berkata itu maka aku akan melakukannya."
"Ngomong-ngomong siapa namamu?"
"Diona."
"Nah Diona, apa kau tinggal di sini dengan banyak pelayan?"
"Tidak, kenapa kau mengatakan itu."
Aku buru-buru merangkul Diona, dan di saat yang sama sebuah panah menembus jendela terarah pada gadis suci.
__ADS_1
Dengan baik aku menangkapnya sebelum ujung tajam itu menyentuh matanya.
"Ba-bagaimana bisa? Kau membawa komplotanmu."
"Aku mana mungkin melakukannya itu, terlebih sepertinya mereka mengincarmu."
"Eh."
Aku mengambil pedangku lalu menarik tangan Diona naik ke atas tangga.
"Panah sebelumnya digerakkan dengan sihir bahkan jika kau bersembunyi di bagian tak terlihat panah itu akan terus mengejarmu."
"Bagaimana bisa? Apa mereka menargetkanku sebagai target pembunuhan."
Aku melirik dari atas ke luar jendela.
Aku sempat memikirkan hal ini tapi tak kusangka semuanya bergerak sangat cepat.
Semua yang menyerang merupakan ras demi human.
Negeri ini telah melakukan perbatasan pada mereka dan mungkin lebih dari itu mereka semua dianggap monster jadi tidak aneh bahwa penyerangan ini akan terjadi.
"Kau bisa mengatasi mereka sendiri?"
"Mana mungkin, kekuatanku hanyalah pengobatan berbeda jauh dengan saudariku yang lain."
Itu berita buruk.
__ADS_1
"Tenang saja para penjaga pasti akan muncul untuk menyelamatkan kita, pos mereka tidak jauh dari sini."
Mereka memang datang hanya saja mereka tidak cukup kuat untuk mengalahkannya, dengan kata lain mereka datang hanya untuk dihabisi.