
Sebelum aku hendak pergi bersama Venus dan Ringbel, Amnesty telah muncul di depanku dengan senyuman lembut yang terkesan sedih.
"Dari sini biar aku yang mengantar kalian," tepat saat ia mengatakannya kami semua telah menghilang dan muncul kembali di sebuah area serba putih di mana hanya ada sebuah pohon raksasa saja di sana.
"Jadi ini pohon Yggdrasil," kataku.
"Pohon ini yang menjaga keseimbangan antara dunia bahkan alam semesta, setiap cabang mewakili keberadaan masing-masing dunia yang dijaga oleh para dewi dan dewa, jika diibaratkan pohon ini adalah penyangga sementara pandalium adalah pemutar waktu agar dunia tetap pada jalurnya."
Sementara ketiga dewi hanya mengawasi dari belakang aku memutari sekeliling pohon dan menemukan sebuah ukiran di pohon, meski hanya sebuah gambar namun aku bisa mengerti apa yang ada di sana.
"Itu adalah sebuah ramalan yang telah ada di sana sejak lama," ucap Amnesty dan aku memegangi kepalaku.
Di sana diceritakan bagaimana para Titan yang sebelumnya hidup untuk melayani para dewa-dewi mulai memberontak dan dikirim ke alam manusia bagaimana peperangan antara iblis, manusia, Titan dan dewa-dewi dimulai semuanya sangat jelas.
"Kalian semua sudah tahu tentang ini tapi kalian tidak mencegahnya dari awal."
"Kami tidak bisa ikut campur begitu saja, yang bisa kami lakukan adalah mengirim utusan saja, dibandingkan semua orang yang telah kami kirim, di luar dugaan hanya Lion yang mampu untuk mencegah semuanya."
"Jangan bilang, utusan yang kalian bilang tujuh mahkota dewi itu bukan berhenti karena Venus memilih tinggal di dunia itu melainkan.."
Venus dan Ringbel hanya diam sementara Amnesty yang terus menjawab pertanyaanku.
"Kecuali Gracia mereka semua telah mati, Gracia selamat karena aku pura-pura jadi dewi biasa yang mengirimnya ke dunia sana lalu melindunginya segenap kemampuanku."
__ADS_1
"Berapa banyak tujuh mahkota dewi yang kalian semua kirim?"
"Lebih dari puluhan ribu, ini adalah bencana yang akan menentukan takdir dunia."
"Semuanya tidak masuk akal."
"Kami akan mengabulkan satu permintaanmu saat kau berhasil mengalahkan Nightmare hanya itu yang bisa kami janjikan padamu, bahkan jika kau ingin kembali ke dunia sebelumnya kami bisa melakukannya."
Aku hanya terdiam sejenak lalu membuka mulutku.
"Jika aku berhasil mencegah ini semua saat itulah aku menggunakan permintaanku."
"Kami mengerti."
"Tepat sekali, di dalam pohon ini ada ujian yang membuatmu bisa menjadi seorang dewa... jika kau bisa melewatinya kau bisa setara dengan Nightmare."
"Setara, bukannya kalian dewi... kalian bisa setara dengannya."
"Sayangnya tidak, kami memang dewi tapi tidak setara dengan tujuh dosa mematikan milik Nightmare, dari awal kekuatan itu ditujukan untuk membunuh dewi."
"Jadi begitu."
"Sampai sekarang aku masih kagum dengan Riona, dia mencari kebenarannya sendiri lalu mencari solusinya dengan tangannya sendiri, sampai sekarang aku pikir ia yang lebih pantas mengambilnya tempat sebagai ratu para dewi dibanding aku."
__ADS_1
"Rion jelas tidak ingin mendapatkan hal seperti itu."
"Aku tahu itu."
Sebuah pintu cahaya muncul di dalam pohon tersebut.
"Saat Lion masuk maka Lion akan tahu sendiri."
"Aku mengerti."
"Meski ada sebagian kekuatan dewi dari tubuh Lion namun itu hanya sedikit kekuatan Rion, jika Lion berhasil kamu akan menjadi dewa sesungguhnya, semoga berhasil semua orang mengandalkanmu."
"Aah, aku pergi."
Aku berjalan masuk.
"Anda yakin ingin membuat Lion sebagai dewa? Padahal hanya dengan memakan buah dari pohon ini saja ia bisa memiliki kekuatan dewa sementara waktu."
"Kurasa dengan hanya itu, dia tidak akan bisa mengalahkan Nightmare, Venus."
"Apa ini ada sangkut pautnya dengan menara Babel."
"Benar, iblis sesungguhnya akan muncul setelah pertarungan ini."
__ADS_1