Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 349 : Kunjungan Ke Ortodoks Suci


__ADS_3

Di ruangan itu aku, Misa, Friella, Laina dan juga Ricol sedang berdiskusi soal pembuatan kota bagi ras rubah.


Ada dua kota yang telah selesai di kerajaan Elfdian, sekarang kami ingin meletakan kota rubah di tempat yang strategis.


Misa berkata.


"Rubah sama seperti kucing mereka pasti suka berjemur diterik matahari untuk menghangatkan dirinya."


"Iyah, kami tidak seperti itu," bantah Ricol.


Memangnya mereka hewan berdarah dingin.


Friella menambahkan disusul Laina.


"Ras rubah pasti suka berenang mari buat kota di dalam air."


"Itu ide bagus."


Mereka sudah jelas ingin menjahili Ricol, padahal dia ras rubah namun tidak ada yang menanyakan usulannya hingga dia mengembungkan pipinya selagi mengibaskan ekornya.


"Kalian bertiga."


"Kami hanya bercanda, Ricol sangat imut saat dijahili."


"Hentikan itu, hey suamiku katakan sesuatu."


"Ricol memang imut."


"Cuma itu," teriaknya.


Setelah memutuskan bahwa kota rubah akan dibangun diantara dua kota lainnya, kecuali Misa mereka meninggalkan ruangan


"Apa ada yang bisa aku bantu Misa?" tanyaku.


"Sebenarnya itu?"


Dia tersenyum jahil dan aku merasakan firasat buruk tentang ini semua. Tak lama kemudian Harty, Aira dan juga Valentine menerobos masuk saat aku dan Misa sedang melakukan itu.

__ADS_1


Harty menunjukkan wajah bermasalah sementara Misa yang kubaringkan di atas meja terus mengeluarkan suara imut, dia sepenuhnya telanjang tanpa pakaian sedikitpun.


"Astaga kalian melakukan itu di tempat ini," kata Harty.


Valentine memalingkan wajah dengan malu sementara Aira menatap penuh harap.


"Kalian berdua ingin ikut bergabung," tanya Misa.


"Kalau begitu aku juga."


"A-aku juga."


Harty menghela nafas lalu melanjutkan.


"Akan kujaga pintunya, lakukan dengan cepat aku tidak ingin menunggu terlalu lama."


Aku tidak tahu harus mengatakan apa jadi aku biarkan begitu saja, tak kusangka Harty bisa membaca suasana padahal dia selalu kekanak-kanakan tapi di saat tertentu dia sangat dewasa. Aku sangat berterima kasih dari lubuk hatiku yang terdalam.


Menunggangi Harty dalam wujud naganya kami pergi ke kerajaan ortodoks suci untuk melihat pembuatan kapal yang telah dilakukan. Dari atas terlihat bahwa mereka telah menyelesaikan setengahnya.


Glory juga tampak sedang mengawasi antara cetak biru dan pekerjaan semua orang.


Tapi kurasa hal itu tidak membebaninya lagi.


Ketika dia melihat kami berjalan ke arahnya ia menyapa.


"Tuan Lion, senang bertemu denganmu."


"Yo... sudah lama yah, kau bisa memanggilku Lion."


"Tidak, aku harus dituntut bersikap sopan pada siapapun."


Dalam waktu singkat sepertinya semua orang berubah. Aku akan menerimanya.


"Jadi bagaimana pembuatannya?"


"Semuanya terkendali hanya perlu beberapa minggu aku yakin semuanya akan selesai."

__ADS_1


"Begitu."


Aku mengalihkan pandangan kembali untuk memeriksanya.


Banyak orang yang dikerahkan dalam pembuatan ini dan mereka tukang kayu yang ahli dalam bidangnya.


Aku terkesan.


Kami diajak berkeliling dan dengan senang Glory menjelaskan semuanya pada kami.


Dia melanjutkan.


"Apa kalian akan tinggal di sini? Kami bisa menyediakan kamar dan keperluan lainnya segera mungkin."


"Tidak usah, kami hanya mampir sebentar saja... saat aku bilang akan datang kemari mereka memaksa untuk ikut katanya mereka ingin mencoba makanan yang sedang populer di kota ini."


"Ah yang itu."


Harty, Misa, Aira dan juga Valentine menatap Glory dengan tatapan berbinar.


"Ada apa dengan kalian?" tanya Glory bingung.


"Mereka ingin mendengar seperti apa makanan tersebut," potongku demikian.


"Jadi begitu, makanan itu hanya mie raksasa dengan daging serta baso yang dibumbui kuah kental, aku peringatkan bahwa makanan itu sangat pedas tidak ada yang bisa memakannya lebih dari lima suapan dan kudengar mereka sedang mengadakan perlombaan sekarang."


"Eh, bukannya kita datang di waktu yang tepat," ucap Aira yang mendapatkan anggukan yang lainnya.


"Jangan bilang kalian ingin mencoba ikut berpatisipasi?"


"Tentu saja."


Aku menghela nafas panjang, aku harap mereka tidak memaksakan diri.


"Semoga berhasil, lurus saja cuma empat blok dari sini."


"Terima kasih."

__ADS_1


Kami melambai ke arah Glory.


__ADS_2