Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 215 : Elf Dengan Kekuatan Luar Biasa


__ADS_3

Clarisa melompat tinggi melebihi 50 kaki, dia menendang Iblis Titan terdekat membuatnya jatuh ke dalam kota dengan hentakan keras.


"Kalian semua cepat lari."


"Ba-baik."


Clarisa kembali melanjutkan perburuannya, dia menahan satu dari mereka yang mengirim tinju ke arahnya, mendorongnya sedikit hingga Iblis Titan tersebut terlempar ke luar kota sebelum akhirnya menghancurkan gunung.


Dia melompat ke atas atap rumah dan melihat bahwa paling tidak ada 100 raksasa menyerupai iblis yang telah menyerang kota ini, sementara itu gerbang yang sebelumnya mengeluarkan mereka telah tertutup dan menghilang.


"Bagaimana bisa? Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang melakukan ini semua.


Seberapa keras dia memikirkannya hal itu tidak akan pernah terjawab, Clarisa memutuskan untuk tidak bertarung dengan mereka dan mencoba mengevaluasi orang sebanyak mungkin.


"Terima kasih."


"Lebih baik kita tinggalkan kota ini."


Semua orang mengangguk mengiyakan, sementara itu sepasang keluarga mendekatinya dengan gelisah.


"Putriku belum ditemukan, tolong selamatkan dia, aku mohon."


"Tapi."


"Aku mohon nona."


"Aku akan mencarinya."


Clarisa melompat jauh dan mendarat di atas trotoar jalan, ia menengok ke segala arah untuk mencarinya, Iblis Titan yang sudah mengetahui keberadaannya serempak berlari padanya.


Mereka tidak seperti raksasa, mereka seolah memiliki kecerdasan untuk menghadapi segala situasi. Clarisa menarik satu bangunan ke tangannya kemudian melemparkannya jauh menimpa salah satunya.


Di saat itu dia mendengar tangisan.


Senyum terlukis di wajahnya.


"Jadi di sana."

__ADS_1


Ia berlari dengan kecepatan tinggi lalu mengambil anak perempuan itu dalam dekapannya sebelum melompat ke rumah-rumah, para Iblis Titan mengejarnya meski begitu mereka langsung kehilangan jejaknya saat Clarisa mengecohnya.


Apa yang menantinya selanjutnya hanya keluarga yang berterima kasih lalu pergi bersama rombongan lainnya.


Clarisa meletakan kedua tangannya di pinggang selagi menghela nafas lega.


Sekali lagi dia menoleh ke arah kota dan melihat mereka masih mencarinya.


"Sebaiknya aku juga segera pergi, sebelum itu aku ingin pergi dulu ke pemukiman Dark Elf, apa mereka baik-baik saja?"


Rambut emasnya terayun angin saat dia melangkahkan kakinya.


***


Untuk memperbaiki tubuh orang-orang yang terluka ini, aku menggunakan sihir air... walau perlu waktu lama semuanya berjalan baik.


Dengan nafas kelelahan aku duduk di bawah pohon, Selena masih tak sadarkan diri karenanya dia hanya berbaring di dekatku.


Sihirku juga telah berhasil menyembuhkannya.


"Kalau begitu Lion, kami akan mandi dulu di sungai... kau yakin tidak mau ikut?" suara itu berasal dari Rion yang menunggu bersama Aira , Valentine dan Harty.


"Fufu apa Lion tidak akan mandi hari ini?"


"Aku akan mandi nanti sendirian."


"Padahal di rumah selalu bersamaku, apa kau bisa membersihkan dirimu dengan baik."


"Yang lain sudah menunggu."


"Kami pergi."


Dia hanya berusaha menggodaku atau sebagainya.


Sisi kekanakan-kanakannya masih tidak berubah.


Beberapa saat setelah kepergian ketiganya Selena akhirnya membuka matanya.

__ADS_1


"Kau sudah sadar."


"Lion? Semua orang."


Perkataannya terhenti saat dia melihat semua penduduk sudah dikumpulkan di satu tempat.


"Mereka semua."


Dia menangis selagi menutupi mulutnya sementara aku memotong.


"Jangan khawatir masih ada yang bisa kita lakukan dengan mereka."


"Apa maksudmu? Mereka sudah meninggal."


"Memang benar mereka telah meninggal tapi masih ada cara untuk menghidupkannya kembali."


Selena menatapku dengan tatapan yang sulit dikatakan, itu terlihat seperti berharap namun dia saat yang sama memiliki sorot keputusasaan.


"Aku tidak membohongimu, masih ada yang bisa kita lakukan...lihat saja nanti, aku bisa membuat mereka hidup kembali."


Tepat saat aku mengatakan itu seseorang tiba-tiba saja melompat ke belakangku. Dia memiliki rambut pirang twintail dengan penampilan gaun terusan yang cocok dengannya.


Untuk memaksimalkan tinggi darinya ia mengenakan sepatu bot berhak tinggi.


"Kenapa ini? Desanya hilang," katanya.


Selena menatap gadis elf itu dengan keterkejutan.


"Anda?"


"Loli."


"Aku memang loli, apa kau menyukainya?"


"Tentu."


"Aku berikan harga khusus untukmu."

__ADS_1


Aku melupakan satu hal yang penting, aku lupa mengenakan topengku.


__ADS_2