
"Theo."
"Okay."
Seekor belalang sembah raksasa mengirim tangan sabitnya pada Dalius yang mana diblokir cepat oleh perisai Theo.
Itu menciptakan suara dentuman keras namun hanya sebatas itu sebelum Siel dengan pedangnya melompat kemudian memotong tubuh monster itu menjadi dua bagian. Aku yang berada di posisi belakang melantunkan mantra penyembuhan untuk ketiganya.
"Thanks you Farida," ucap Dalius yang mana kujawab dengan anggukan senang.
Kami sedang melakukan quest perburuan di sekitar kota dan sekarang kami harus melaporkannya ke pihak guild, di sana tampak sesuatu yang aneh telah terjadi ada beberapa wanita yang sedang dikerumuni banyak orang dan salah satu pria bertopeng yang dibiarkan begitu saja.
Dalius yang menjadi pemimpin kami dengan akrab bicara dengannya. Aku ingin sekali memiliki kemampuan bicara seperti itu sayangnya itu jelas mustahil.
Sebagai gantinya Dalius memperkenalkan kami juga sebelum pergi setelah Siel melaporkan hasil perburuan kami. Di luar guild Dalius berkata.
"Apa kau merasakan juga Siel?"
"Aah, tidak salah lagi orang bertopeng itu bukan orang biasa."
Theo yang sama kebingungan denganku angkat bicara.
"Apa maksudnya, bukannya dia hanya level satu?" aku juga mengangguk untuk menegaskan hal itu tapi Dalius memiliki sedikit ekpresi sulit di wajahnya sebelum menjelaskan.
__ADS_1
"Kemungkinan besar itu hanya tipuan, sudah jelas orang itu berada di tingkat S atau setingkat Paladin maupun Sage."
Mendengar itu jelas aku sedikit tidak percaya, tapi jika Dalius bilang begitu kemungkinannya memanglah tidak salah. Dalius bisa merasakan energi mana dari semua orang yang ditemuinya, Siel pun bisa melakukannya hanya saja tidak sekuat milik Dalius sendiri.
Dalius melanjutkan.
"Pokoknya kita akan beristirahat selama beberapa jam jadi pastikan untuk menyiapkan apapun yang kalian butuhkan nanti."
"Kami mengerti."
"Kalau begitu sampai nanti."
Aku yang hendak pergi telah dirangkul oleh Siel.
"Kenapa, kau tidak suka berbelanja denganku?"
Aku menggelengkan kepalaku lalu mengangguk beberapa kali, Siel terkadang memiliki selera aneh dalam berbelanja terakhir kali dia membeli boneka menyeramkan yang dibawanya ke pertempuran sebagai jimat dan Dalius membakarnya pada akhirnya.
Kuharap itu tidak terjadi lagi.
"Lihat Farida, ada peramal di sana.. mari pergi."
Tunggu, bukannya kita pergi untuk berbelanja.
__ADS_1
Seolah bisa membaca ekpresiku Siel membalas.
"Tak apa, cuma sebentar.. mari kita lihat peruntungan kita."
Siel selalu bersikap dingin saat ada pria di sekelilingnya namun saat itu hanya wanita dia akan menjadi lebih ramah dari siapapun. Dia pasti memiliki masa sulit dengan pria.
Kami duduk di depan peramal yang mencurigakan.
"Jadi apa yang bisa kubantu untuk gadis-gadis cantik ini?" katanya.
"Kami ingin tahu apa kami akan menemukan sesuatu yang hebat saat penjelajahan nanti," ucap Siel dan peramal mengangguk kecil sebelum membalas.
Dia menatap bola kristal di tangannya dan berkata.
"Kalian akan menemukan sesuatu yang akan merubah hidup kalian."
"Merubah hidup kalian?"
Itu perkataan yang terdengar tidak jelas namun aku yakin itu sebuah ramalan bagus, sebagai gantinya Siel memberikan satu koin perak sebagai pembayaran sebelum pergi ke tempat lain.
Aku melirik ke arahnya dan berkata dalam hati apa dia benar-benar suka ramalan.
"Ini pertama kalinya aku mencoba ramalan, sesungguhnya aku tidak terlalu mempercayainya tapi bagaimana melihat orang-orang mencobanya aku jadi sedikit penasaran."
__ADS_1
Aku mulai mengerti apa yang dia rasakan, itu seperti mencoba gaya tren yang dilakukan orang-orang, kupikir Siel hanya wanita biasa seperti yang lainnya.