
Sudut pandang Lion.
Aku terbangun di sebuah ruangan putih tanpa apapun kecuali seorang dewi yang kukenal yang sedang duduk di kursi selagi menatapku dengan penuh belas kasih.
Dia adalah Amnesty yang mengenakan baju pendeta.
"Terima kasih karena sudah berjuang keras, tapi sayangnya kamu telah mati jadi aku harus mereinkarnasimu ke dunia lain. Jika ada pertanyaan katakan saja?"
"Kukira aku tidak akan mati begitu saja."
"Sudah ketahuankah, padahal aku melakukan apa yang kupelajari dari ini."
Amnesty mengeluarkan sebuah komik ke tangannya.
"Yah bukannya itu manga eechi," kataku lemas.
Pantas saja penampilannya terbuka.
"Jadi kenapa aku berada di sini?"
"Aku hanya ingin menyapamu saja dengan cara berbeda," balasnya demikian.
Walau tidak ada apapun di sini, paling tidak aku masih hidup. Saat aku pingsan dewi Amnesty menjelaskan apa yang terjadi.
Singkatnya.
Wisteria yang membawa jimat tersebut menempelkannya ke kening Echidna sehingga tubuh Ringbel dan dirinya terpisah.
Di saat yang sama Wisteria memenggal kepala Echidna lalu membedah perutnya untuk mengambil tanganku dan kini tangan itu maupun diriku dibawa ke istana, bagaimanapun aku tidak bisa muncul dengan wujud biasanya di kediaman Wisteria.
__ADS_1
"Kalau begitu sudah berapa hari yang telah kulewati?"
"Tiga hari," balas cepat Amnesty membuat wajahku memucat.
"Aku sudah pasti melewatkan festivalnya."
Amnesty tersenyum jahil bukan karena keadaanku melainkan keadaan yang berbeda.
"Ah benar, Rion sedang hamil sebaiknya kau segera kembali ke duniamu."
"Eh?"
"Kenapa malah terkejut, aku penasaran bagaimana anak kalian.... hmm pernikahan manusia dan dewi pasti anak kalian setengah dewi, pokoknya selamat."
"Bukan begitu, di dunia bawah aku masih punya urusan lain kini aku ingin segera kembali," teriakku frustasi.
"Aku tahu."
Di sisi lain aku berharap Amnesty tidak mengatakannya sampai urusanku selesai tapi di sisi lain aku juga senang mendengarnya.
Yang bisa kulakukan hanya bersabar.
Tubuhku mulai tranparan.
"Sudah waktunya Lion bangun, Ringbel berada di kamarmu sekarang, dia juga telah menyatukan tanganmu kembali katakan bahwa dia bisa kembali ke alam dewi jika mau."
"Aku mengerti."
Karena keputusan Echidna semua rencana dimana aku akan merawatnya telah berubah seluruhnya.
__ADS_1
Meski pertarungan di dunia bawah telah selesai masih ada pertarungan lainnya, hanya menunggu waktu sampai hal itu terjadi.
Aku terbangun dan menemukan diriku di kediaman istana, aku yakin ini kamar Hime. Di sampingku duduk dengan mata perak serta rambut emas sepanjang kakinya.
Jika tidak salah dia pasti Ringbel.
Ia mengenakan gaun terusan sederhana dengan menampilkan bahu dan setengah dadanya yang terbuka.
"Selamat datang kembali, apa mau mandi dulu? Makan? Atau aku?"
Entah kenapa aku merasakan firasat sama seperti saat bertemu Rion. Mungkin cuma perasaanku saja.
"Kenapa bengong?"
"Tidak, perkataanmu tidak cocok untuk dikatakan pada orang yang tak sadarkan diri selama tiga hari."
Saat aku mengatakan itu ekpresinya mulai memerah dia berjongkok selagi menangis.
"Padahal aku ingin sedikit bercanda, maafkan aku karena aku tidak bisa diharapkan untuk membuat lelucon."
Sudah kuduga, dia sama persis dengan Rion hanya berbeda dari segi kepribadiannya saja.
"Kalau begitu aku akan menembusnya dengan tubuhku, silahkan nikmati sepuasnya."
Aku hanya mendesah pelan saat pintu terbuka dengan keras.
"Ada yang bilang nikmati tubuh, aku ikut."
"Jangan asal menyelonong selagi mengatakan hal aneh seperti itu," kataku pada Himekawa.
__ADS_1