
Tanpa terasa kami harus berpisah dengan semua orang di benteng, sebuah pesta telah digelar untuk kami sekaligus perayaan akan berakhirnya faktor bencana.
Roxy mengulurkan tangannya ke arahku yang mana kuterima dengan baik.
"Jika ada kesempatan mari bertemu lagi."
"Tentu, jaga diri kalian semua."
Karl maupun Amarzuki tersenyum di belakangnya.
Bagiku ini sebuah perpisahan, aku juga tidak tahu akan kembali lagi kemari atau tidak paling tidak masa depan adalah sesuatu yang sulit ditentukan.
Setelah mendaki bukit kecil aku menggendong Rion di punggungku sementara Harty dan Valentine berjalan beriringan di depan.
"Akan lebih baik jika Rion menjadi pedang saja."
"Aku sudah bosan terus dalam wujud pedang aku ingin lebih lama merasakan hembusan angin dengan kulitku sendiri."
"Aku tidak keberatan hanya saja paling tidak berjalanlah sendirian dan juga berhenti sengaja menggosokan dadamu ke punggungku."
"Padahal kau menyukainya."
Dasar dewi mesum.
Aku hanya bisa mengumpat hal itu di dalam hatiku sampai setelah perjuangan lama akhirnya kami sampai di wilayah negeri angin.
Ada dua kincir angin raksasa yang menyambut kami di sini dan di bawahnya padang bunga tampak membentang luas sejauh mata memandang.
Di sini penjualan budak dilakukan secara legal, mereka diperlakukan sebagai mestinya dan dilarang melakukan kekerasan dalam bentuk apapun pada mereka.
__ADS_1
"Tadinya jika situasinya buruk aku akan menghancurkan negara ini namun sepertinya hal itu tidak perlu dilakukan lagi."
Valentine bertanya ke arah salah satu pria yang kami temui untuk mendapatkan informasi kota terdekat.
"Dari sini ada sebuah kota kecil yang selalu dikunjungi para pedagang ibukota, jika kalian mau kalian bisa meminta mereka mengantar kalian ke sana."
Itu jelas informasi yang kami butuhkan.
Aku kembali menyeret kakiku lagi.
Tubuh Rion cukup berisi jadi aku akan menganggapnya ini bentuk latihanku.
Untuk alasan yang tidak kuketahui dia mencubit pipiku.
"Tidak sopan jangan mengomentari berat badanku, lagipula aku tidak seberat itu."
Dia membaca pikiranku.
Sesampainya di kota aku bisa merasakan otot-otot pinggangku terasa sakit, Rion yang sejak tadi digendong menarik nafas dalam-dalam selagi membentangkan tangannya.
"Perjalanan yang menyenangkan."
"Bagimu menyenangkan tapi bagiku sangat melelahkan."
Valentine hanya tersenyum pahit sementara Harty mulai mengendus ke sekeliling.
"Di sini banyak makanan enak, aromanya sangat harum."
"Bagaimana jika Harty dan Valentine mencoba berkeliling dan membeli sesuatu sementara kami berdua akan menunggu di kursi panjang itu."
__ADS_1
"Aku tidak keberatan."
"Aku juga."
Aku memberikan sekantong uang untuk mereka yang mana kudapatkan sebagai imbalan dari penjaga benteng.
Aku tidak memiliki alasan mencurigakan seperti ingin berduaan dengan Rion saja, aku hanya ingin beristirahat untuk menyembuhkan kakiku yang pegal.
Ketika kami berdua duduk orang-orang sangat memperhatikan kami, khususnya dengan Rion yang penampilannya sangat cantik.
Salah satu pria mendekatiku.
"Bukannya kau elf."
"Benar."
"Hebat sekali, selain di ibukota aku tidak tahu bahwa budak elf ada di pinggiran wilayah juga... tuan kamu pasti orang kaya."
"Tunggu, apa maksudmu? Bukannya Elf hidup di hutan Arfa."
"Apa kau bukan elf berasal dari sana.. Hutan Arfa sudah dimusnahkan dan para elf telah dijadikan budak di negeri ini."
Mendengar itu wajah Rion mengeras seolah emosi terkumpul di dalam dirinya.
Ini jelas berbahaya jadi aku segera memotong.
"Bisakah kau kemari sebentar, aku ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya? Bisakah kau mengatakan semuanya padaku."
Aku menyodorkan uang padanya.
__ADS_1
"Baiklah."
"Aku suka orang yang cepat mengerti," kataku ringan dari balik topengku.