
Pagi itu aku membantu para pekerja untuk membuat jalan, setelah menyusun bebatuan secara merata aku berisitirahat bersama semua orang, karena statusku seorang raja orang-orang sempat melarangku walau begitu aku masih menolak.
Aku tidak tahu apa itu raja? Yang kutahu hanyalah terlalu bosan hanya tetap duduk di rumah tanpa melakukan apapun.
Kizuna muncul dengan Charlotte dalam wujud manusianya.
"Kalian berdua?" kataku.
"Lama tak bertemu Lion? Kau masih menutup wajahmu dengan topeng."
"Ini sudah ciri khasku, bagaimana dengan negaramu?"
"Soal itu.. itu alasan aku datang kemari, aku perlu bantuanmu."
Kizuna mengedipkan sebelah matanya sementara Charlotte membuang wajahnya ke samping, dia mungkin tidak menyukaiku seolah aku akan mengambil Kizuna darinya.
"Kalau begitu aku akan mampir."
Kami tiba di kerajaan Kizuna dalam hitungan detik, kerajaannya sendiri disebut sebagai kerajaan Orielda, walau terkesan ke barat-baratan bangunannya sendiri mengambil gaya abad Edo dengan rumah-rumah tradisional dan orang-orang memakai apa yang disebut sebagai kimono.
Yang jelas aku tampak mencolok dengan pakaianku sekarang.
"Jadi bantuan seperti apa yang kau butuhkan dariku?"
"Bantuan untuk menilai negaraku."
Keheningan muncul di antara kami berdua.
"Dibanding datang seharusnya kau bisa mengirim permohonan kepadaku," kataku lemas.
__ADS_1
"Aku ingin menarikmu secara langsung kemari."
Karena sudah di sini aku tidak perlu mengeluh lagi, singkatnya yang akan kami lakukan hanyalah seperti sebuah tour keliling di mana pemandunya orang penting itu sendiri.
Aku berbisik ke arah Kizuna.
"Bukannya hal ini jadi masalah jika Charlotte ikut dengan kita?"
"Sepertinya Charlotte sedikit membencimu dan ia takut kalau aku kenapa-kenapa jika berduaan denganmu."
"Aku malah dicurigai sebagai penjahit kalau begitu."
"Penjahat."
Charlotte memotong.
"Aku bisa mendengarnya oi."
"Tajam pala lu...kalian berbisik-bisik dia wajahku," teriaknya.
Aku dan Kizuna tertawa, senang bisa menggoda gadis loli.
Aku mengangkatnya.
"Hentikan, jangan perlakukan aku seperti anak kecil... sampai kapanpun aku akan membecimu."
"Aku tidak berniat mengambil Kizuna darimu, kami hanya berteman."
Charlotte memalingkan wajahnya.
__ADS_1
Kurasa hubungan keduanya lebih dari kata dekat. Aku menurunkan Charlotte kemudian Kizuna membawaku seperti apa yang dia inginkan.
Pertama adalah melintasi jalan pohon sakura.
Sepanjang jalan utama banyak pohon sakura yang ditaruh di pinggirnya, saat aku mendengar jumlahnya aku sedikit kagum. Semuanya ada sekitar 101 buah di mana untuk pertokoan dan bangunan ada di belakang pohon tersebut.
Keindahan pertokoan telah disulap menjadi sesuatu yang jarang orang pikirkan, di mana dedaunan pohon sakura yang berjatuhan menimpa rumah-rumah menjadi sebuah arsitektur alami di negara ini.
Orang-orang juga lebih suka berjalan di banding menaiki kereta untuk berpergian, yang menarik di sini adalah tentang keberadaan becak di mana yang menariknya adalah pria berotot.
"Itu di sebut Jinrikisha, di negaraku alat transportasi seperti ini masih digemari banyak orang."
Ah, aku pernah melihatnya. Itu hampir serupa dengan becak di negaraku hanya saja pengemudinya duduk di belakang selagi menggoes namun Jinrikisha ditarik dari depan oleh orang.
"Mau mencobanya."
"Tentu."
Sayang kalau tidak dilewatkan.
Aku dan Kizuna duduk bersebelahan sementara Charlotte duduk di pangkuannya, karena Kizuna mengenakan kimono pendek dia menutupinya dengan kain.
"Kalau begitu saya mulai bergerak yang mulia ratu."
"Pelan-pelan saja."
"Baik."
Kami bergerak dengan kecepatan pelan.
__ADS_1
Becak ini dibuat untuk dinaiki dua orang pria gemuk bahkan kami yang bertiga juga sepertinya bukan masalah bagi pria berotot ini.