
Suatu hari aku pernah bermimpi, aku melihat seorang gadis duduk di sebuah padang bunga indah dengan dua sosok di depannya.
Satu sosok merupakan sosok yang disebut Titan dan satu sosok lagi adalah sosok iblis.
Titan itu berpenampilan seperti manusia lengkap dengan pakaian longgar serta jenggot dan rambut yang telah memutih sementara iblis memiliki dua tanduk di kepalanya serta ekor di belakang tubuhnya yang berwarna merah.
Keduanya memiliki tubuh raksasa dan masing-masing dari mereka menyodorkan bunga untuk gadis tersebut.
Gadis yang membelakangi itu mengulurkan tangannya dan saat aku ingin tahu bunga siapa yang akan diambilnya, aku bangun dari tidurku.
Sekarang yang ada di depanku hanya wajah cantik dari Rion yang sedang tertidur pulas.
Kami sedang dalam perjalanan menuju ibukota wilayah angin dengan menumpang di kereta pedagang.
Sementara aku tidur di pangkuan Rion aku mengalihkan pandanganku ke arah Valentine dan Harty yang saling menyandarkan kepala mereka.
Kurasa sudah tiga jam semenjak kami meninggalkan kota sebelumnya. Aku bangun lalu memindahkan kepala Rion di bahuku.
Menurut pria yang kuberi uang, Hutan Arfa telah diserang pihak kultus Dewi suci dengan dalih untuk mencegah kemunculan dewi jahat selanjutnya, mereka semua ditangkap dan dibawa ke benua manusia sementara ada dua wanita elf yang berhasil selamat namun mereka menjadikan diri mereka sebagai budak di ibukota.
Karena itulah kami segera pergi ke sana tanpa beristirahat.
Harga elf sangatlah mahal hingga sampai sekarang mereka belum terjual sedikitpun.
Hal ini mungkin cukup mengejutkan untuk Rion yang dulu pernah menyelamatkan desanya, aku belum mendengar cerita lengkapnya namun saat dia ingin menceritakannya aku akan siap mendengarkan.
__ADS_1
"Ah, aku tertidur."
"Tak apa, tidurlah lebih lama lagi."
"Um."
Walau Rion disebut sebagai dewi jahat bagiku dia terlihat seperti gadis pada umumnya, rambut yang keperakan serta kulit yang seperti salju memang sangat mencolok darinya.
Selagi menyandarkan kepalaku di dinding kereta aku memikirkan banyak hal tentang mimpiku ataupun tentang keadaan kami semua.
Bagaimanapun kami hidup lebih seperti seorang dalam pelarian.
Sebuah suara menyadarkanku dari lamunan.
Itu suara pedagang yang mau membawa kami bersamanya.
"Tidak masalah, sepertinya kami juga perlu beristirahat."
"Baiklah, besok kita akan langsung berangkat, sebelum matahari terbit pastikan sudah siap."
"Tentu."
Kereta kami diparkir di salah satu lokasi luas yang digunakan sebagai peristirahatan, sekitar lima kereta terparkir rapih saat kami turun dari sana.
"Apa kalian yakin tidak ingin minum-minum dulu, kami akan ke bar sekarang?"
__ADS_1
"Anggota partyku sudah lelah, kami akan menyewa kamar saja."
"Sayang sekali kalian pasti kelelahan kalau begitu aku izin permisi."
Aku mengangguk sebagai jawaban lalu membawa anggota partyku ke penginapan tak jauh dari sini.
"Aku ingin memesan satu kamar dengan dua ranjang untuk malam ini saja.
"Itu sekitar satu koin perak."
"Terima kasih."
Harty dan Valentine naik ke ranjang mereka sementara aku tidur dengan Rion. Aku akan menjamin bahwa tidak akan ada sesuatu tentangku atau tentangnya kecuali hanya berbagi selimut.
"Di sini sangat hangat hehe."
"Tidurlah lagi.. besok pagi kita akan langsung berangkat."
"Menurutmu apa para elf akan baik-baik saja?"
"Tidak usah memikirkannya, jika mereka masih hidup aku akan menyelamatkannya bahkan jika harus memulai perang lagi aku pasti akan melakukannya."
"Itu sangat melegakan."
Rion menutup matanya.
__ADS_1
Aku sudah terlibat sejauh ini, kurasa tidak ada pilihan untuk mundur.
Jika impian Rion untuk hidup damai di suatu tempat, maka aku hanya ingin mewujudkannya saja.