Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 42 : Benteng, Faktor Bencana Dan Bulan Merah


__ADS_3

Di jalanan utama itu seorang tiba-tiba saja menyentuh kakiku, aku sedikit terkejut terlebih pria yang melakukannya terbaring dengan berceceran darah.


"Jangan dulu bergerak aku akan menyembuhkanmu."


Valentine maupun Harty mengawasi sekeliling sementara Rion dalam bentuk pedang di pinggangku.


Ini aneh karena tidak ada siapapun yang mau menolongnya, kugunakan sihir penyembuh hingga setiap luka darinya menutup dengan baik.


"Terima kasih."


"Apa yang terjadi?"


"Di dekat sini ada sebuah benteng pertahanan yang melindungi kota dari serangan monster yang ada di Hutan Iblis, sayangnya aktivitas mereka belakangan ini meningkat dan kami kewalahan.. aku hendak ingin pergi ke guild untuk meminta bantuan sayangnya aku diserang monster."


Harty menyela.


"Kau menggiring monster datang kemari juga?"


"Mustahil, aku tidak mungkin melakukannya."


"Apa ada yang aneh Harty?" aku balik bertanya.


"Aromanya seperti monster, aku kira monster yang kau temui menyemburkan cairan atau semacamnya."


Mungkinkah para penduduk mengetahuinya juga.


"Aku tidak tahu, aku ceroboh," perkataan pria itu diselimuti penyesalan.


Dari kerumunan penduduk seorang petualang yang suka mengejekku muncul bersama anggotanya.


"Minggir kau, dia telah membawa monster ke tempat ini. Aku harus membunuhnya."


"Jangan bertindak sejauh itu.. dia hanya belum tahu."

__ADS_1


"Aku baru dikirim ke benteng, aku sama sekali tidak mengetahuinya."


"Bersalah tetaplah bersalah, paling tidak kau akan mati sebagai penebusan dosamu atau sebagai tumbal."


Dia mengayunkan goloknya dan aku menahannya dengan katanaku.


"Aku tidak akan membiarkannya."


"Apa? Kau berani melawanku level satu."


Para petualang lain pun ikut bermunculan bersama para staf guild. Dengan arogan pria yang sedang kutahan senjatanya menjelaskan semua yang terjadi.


"Mustahil? Ini sangat berbahaya."


"Maafkan aku, ini semua salahku padahal aku datang kemari untuk meminta bantuan kalian, kalau begini kapten dan semua orang di benteng tidak akan terselamatkan."


Aku maupun pria arogan menarik kembali pedang kami.


Ketika pria itu putus asa aku berkata ke arahnya.


"Biar aku dan anggota partyku yang membantu."


"Kau hanya level satu kau hanya akan jadi beban semua orang."


Harty yang marah meninju perut pria arogan hingga dia terlempar menembus tiga rumah sebelum akhirnya tertahan di dinding tembok.


"Dia membuatku kesal, jika ada yang berani mengejek Lion datanglah kemari dan aku akan menghajarnya dengan pukulanku."


"Aku juga," tambah Valentine.


"Pria tidak tahu malu, berani berlindung di balik punggung wanita."


Tidak ada waktu untuk membahas hal ini.

__ADS_1


Aku membantu pria yang sebelumnya kuselamatkan dan memintanya segera mengantar kami ke arah benteng.


"Namaku Karl, aku berada di unit penjaga benteng."


"Aku Lion, sebelumnya bisakah kau menjelaskan sedikit yang terjadi?"


"Setiap 5 tahun sekali ada yang dinamakan sebagai 'Faktor bencana' di mana aktivitas monster meningkat secara signifikan, fenomena ini diawali dengan kemunculan bulan merah dan di saat itu monster bertambah banyak dan lalu menyerang desa-desa di sekitarnya."


Jika diperhatikan walau masih siang hari memang ada bulan merah di sana.


"Lalu soal Hutan Iblis?"


"Itu tempat di mana para monster, Undead maupun iblis tinggal.. kudengar wilayah negara tanah pusat sedang dilanda krisis peperangan antar dua pemimpin karena itu kami tidak bisa meminta bantuan dari sana."


Ini soal masalah Lien sebelumnya.


Beberapa pasukan memang dibunuh olehku.


Sekarang aku merasa bertanggung jawab tentang ini semua.


Beberapa serigala hitam muncul di depan kami.


"Celaka."


"Terus saja maju, Harty, Valentine."


"Serahkan pada kami."


Saat mereka berdua menghadapinya aku maupun Karl mengambil jalan memutar.


"Lewat sini."


"Baik."

__ADS_1


__ADS_2