Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 163 : Hal Yang Hilang


__ADS_3

Pagi berikutnya seseorang telah menerobos masuk ke kamarku lebih dulu dibandingkan para pelayan.


"Yo Lion, kau masih tidur jam segini... bangunlah."


Aku membuka mata dan melihat ayahku telah berdiri di sana selagi tersenyum lebar, tubuhnya cukup berotot dengan setelah kemeja kantornya.


"Ayah," aku memanggil sosok itu dan ia melemparkanku bola bisbol yang kutangkap baik di tangan.


"Ibumu masih tidur, bagaimana jika bermain lempar tangkap dengan ayahmu sebentar."


"Tidak, aku harus pergi ke sekolah."


"Sebentar saja."


Karena ayahku memaksa aku akhirnya menuruti perkataannya, di luar halaman rumah aku secara bergiliran mengirimkan bola dari waktu ke waktu.


"Bagaimana sekolahmu?"


Aku menangkap.


"Seperti biasanya, tidak ada yang menarik."


Aku melempar.


"Haha seperti itu... menjadi orang jenius tidaklah mudah."


Aku menangkap.


"Lalu apa ada seseorang yang kau sukai?"


"Sepertinya ada mungkin tidak ada."


"Jawaban apa itu, itu sangat membingungkan."


Aku melempar sampai sebuah suara lain terdengar.


"Kalian berdua sedang bermesraan di perkarangan rumah, aku cemburu."


Yang berkata demikian adalah ibuku yang muncul dengan pakaian tidurnya, ia berjalan lalu menarikku masuk.


"Lion akan bersamaku seharian ini jangan menganggu kami."


"Heh, tapi aku baru saja meluangkan waktu bersamanya."

__ADS_1


"Lupakan, ayo Lion... hari ini ibumu akan membuatkan makanan enak."


"Ah.. ya."


Meski aku mendapatkan semua ini rasanya aku tidak senang, ada sesuatu yang hilang namun aku tidak pernah tahu apa itu.


Aku berdiri di atas atap sekolah selagi memandang pemandangan yang ada di bawahku, Gracia yang sejak tadi mencari keberadaanku membuka pintu atap lalu berjalan dengan kesal.


"Aku sudah mencarimu kemana-mana, kau bolos sekolah.. apa kau sedang sakit?"


"Tidak, banyak hal yang sedang kupikirkan sekarang."


"Coba katakan pada pacarmu ini, aku akan mendengarkannya?"


"Semua hal di dunia ini terasa aneh."


"Aneh bagaimana, bukannya ini hari biasanya."


"Bukan itu yang kumaksud."


Aku terus memikirkannya dan mendengar seseorang memangilku semakin aku berusaha mengingat maka semakin sakit kepalaku.


"Lion, kau baik-baik saja?"


Siluet seseorang muncul di dalam benakku, ia seolah berdiri di sebuah padang rumput selagi menatap ke arahku dan tersenyum lembut.


Apa ini?


Siluet itu semakin lama semakin jelas dan aku bisa melihat rambut peraknya berkibar tertiup angin.


Siapa?


Siapa?


Seberapa banyak aku bergumamkan hal demikian aku semakin tidak tahu.


"Lion kau menangis?"


Benar, aku menangis.


Apa ini sedih karena aku tidak mengingatnya? Ataukah aku memang sangat bahagia bisa melihatnya.


Dalam waktu sesingkat itu, ingatan yang begitu asing masuk ke dalam kepalaku. Aku ingat bahwa orang tuaku tidak pernah ada bahkan saat aku membutuhkannya, aku tidak pernah memiliki teman dan Gracia dia sudah meninggal.

__ADS_1


Tepat saat aku ingin menemuinya untuk menyatakan perasaanku dia telah mengalami kecelakaan.


Semua itu salahku, jika aku tidak mengajaknya keluar dia tidak akan mengalami hal buruk, aku terus menyalahkan diriku dan mengurung diriku selama yang kuinginkan. Setiap harinya aku hanya menghabiskan waktuku bermain game dan game, lalu saat aku pergi untuk membelinya aku telah dipanggil ke dunia lain.


Seorang yang memanggilku mengatakan dirinya sebagai dewi jahat dan aku harus melindunginya.


Benar.


Aku akhirnya tahu namanya.


Aku menatap Gracia lekat-lekat, dengan menempatkan tanganku di bahunya aku berciuman dengannya.


"Lion?"


Aku tersenyum lebar lalu berkata.


"Dunia ini tercipta sesuai yang kuinginkan, memang menyenangkan namun banyak orang yang menungguku."


"Apa kau ingin pergi?"


"Bagiku ini hanyalah dunia mimpi, memang menyakitkan jika harus mengingat apa yang terjadi padaku meski begitu itu adalah hidupku, seberapa buruknya hal yang kulalui aku akan melewatinya dengan semangat dan melihat akhir seperti apa yang akan kuterima."


"Walau dunia memperlakukanmu seperti itu kau hanya ingin menerimanya."


"Benar, kupikir akan selalu ada kebahagiaan saat kau memutuskan untuk tidak menyerah... walau awalnya sulit tapi sekarang aku memiliki banyak yang membutuhkanku, aku harus kembali... selama tinggal."


Langkahku tiba-tiba terhenti.


"Ampun... aku mengambil ingatanmu dan membuat dunia yang kau inginkan, sepertinya ujian yang kubuat gagal dan kau malah menciumku juga."


"Haha soal itu aku minta maaf, aku terbawa emosi Dewi Amnesty."


"Aku benar-benar tidak senang, kau bisa mengetahuiku hanya dengan melakukan hal tidak senonoh padaku.. kita masih memiliki waktu, bagaimana jika kita berbicara sebentar. Aku mengundangmu untuk ke acara pesta teh para dewi.. kau bisa mencaci mereka karena sudah membuat dunia ini kacau balau."


"Aku tidak berani melakukan itu tapi akan kuterima."


"Mari pergi."


"Tunggu, bagaimana dengan Rion dan Aira?"


"Mereka sudah kuberitahu."


Dewi Amnesty kembali ke wujud dirinya lalu menjentikkan jarinya hingga seluruh pemandangan telah berubah.

__ADS_1


__ADS_2