
"Mundurlah Lion, biar aku sendiri yang mengalahkannya... kami berdua sama-sama monster."
"Tidak, aku juga akan bertarung," protesku demikian. Kita belum tahu kekuatan seperti apa lagi yang Solomon sembunyikan.
Semakin banyak orang maka semakin bagus hasilnya.
"Lion, kau?"
"Bukannya dua lawan satu lebih baik."
"Jangan lupakan kami juga," suara itu berasal dari Kizuna yang berdiri bersama Glory dan juga Ireta.
"Meski aku sedikit melemah paling tidak aku akan membuat celah nanti," ucap Ireta yang mana mendapatkan anggukan kecil yang lainnya.
Clarisa hanya menaikkan bahunya selagi menggelengkan kepalanya.
"Kalian ini keras kepala sekali, kalau begitu apa boleh buat.. kita kalahkan monster itu."
"Baik."
__ADS_1
Kami memosisikan diri siap bertarung sementara Solomon mengarahkan ujung pedangnya pada kami semua.
"Majulah kalian semua."
Seperti apa yang dikatakannya kami menyerbu ke arahnya serempak, Kizuna dan Ireta mengambil serangan pertamanya di susul Glory dan aku, kemudian Clarisa.
Kami membagi peran secara merata, Solomon menahan pedang Kizuna lalu mendorongnya jauh ke belakang, di saat yang sama Ireta mengayunkan kedua sabitnya dari belakang dan Solomon menahannya dengan pelindung tak terlihat.
Pelindung itu sama ketika dia menahan teknik IAI milikku. Namun itu hanya bertahan sebentar sebelum Clarisa melompat dengan tinjunya menghancurkannya dengan mudah.
Ada celah dimana aku dan Glory memanfaatkannya untuk menebas tubuh Solomon sebelum dia bereaksi menahan pedang kami, darah menyembur dari bekas luka berbentuk tanda X di tubuhnya.
Dia menyelimuti dirinya dengan kegelapan lalu menghempaskan kami secara bersamaan hingga kami tergerus tanah, aku menancapkan pedangku untuk bangkit.
Dari kami tidak ada siapapun dalam posisi baik. Clarisa yang masih memiliki kekuatan meluncur untuk menyerang Solomon dengan tangannya.
Dia mengambil tendangan lomotif yang dia kombinasikan dengan gerakan mirip pada olahraga tinju, di pukulan terakhir dia menggunakan teknik uppercut sayangnya Solomon menyadari hal itu dan dengan lihai menghindarinya sebelum mengirim tendangan pada ulu hati Clarisa, itu menciptakan ledakan angin menghempaskannya sejauh beberapa meter dengan dentuman keras.. agar terhenti aku menciptakan tanaman yang menopangnya.
Solomon menancapkan pedangnya sebelum mengarahkan tangannya ke udara dan dari sana ratusan lingkaran sihir bermunculan di atas kepala kami.
__ADS_1
"Dia benar-benar kuat," kata Charlotte tanpa mendapatkan balasan.
Dari setiap lingkaran itu mengeluarkan pedang raksasa yang berjatuhan pada kami layaknya sebuah hujan.
Jelas sesuatu yang sulit dihadapi namun bagi Clarisa dia telah menyiapkan sihir balasan.
Di depan kami lingkaran sihir dengan jumlah sama diciptakannya, seperti Solomon dari sana ratusan pedang ditembakkan hingga saling bertubrukan di udara.
Meski teratasi, serpihan dari pedang tetap berjatuhan karena hal itu aku menciptakan sebuah tanaman yang membentuk dirinya sebagai jaring pelindung.
Setelahnya area kami tampak kacau balau, yang tersisa hanya ruang di mana Solomon dan Clarisa berdiri, walau terlihat tubuh mereka normal namun sejujurnya mereka bertarung dengan kekuatan titan sesungguhnya.
"Nah Solomon, kau masih ingin melanjutkan pertarungan ini... dunia bawah telah menjadi dunia yang indah berkat bantuan Lion, sepantasnya kau kembali saja ke sana."
"Sudah kubilang sudah tidak ada tempat lagi untukku."
Clarisa melirik ke arahku sambil mengangguk kecil, ia ingin aku menyelesaikan pertarungan ini.
Aku pun akhirnya mengangguk sebagai balasan dan mereka semua mengikuti Clarisa untuk melangkah maju, aku mengurung diriku dalam sebuah balutan tanaman sampai persiapannya selesai aku punya waktu satu menit untuk mengirim serangan kuat dan mereka akan menciptakan kesempatan itu.
__ADS_1