
Makhluk di depanku memperkenalkan dirinya sebagai Echidna, dia menciptakan lingkaran sihir raksasa dan dari sana sebuah senjata menyerupai piringan besi ditarik olehnya.
Di tengahnya terdapat semacam bentuk tanda x yang berguna mempermudah memegangnya.
"Kau mungkin orang yang sangat kuat karena itu aku akan serius menghadapimu."
"Sebuah pujian jika kau menganggapku seperti itu," kataku maju menyerang.
Hantaman benda logam terdengar jelas, aku memutar pedangku dan "Prang" cahaya menyilaukan tercipta.
"Tunjukan lebih kekuatanmu."
Aku menghindari piringan tersebut setipis rambut beberapa helai dari kepalaku berjatuhan saat serangan berikutnya kembali dilancarkan.
Dentrang.
"Terbakarlah."
Aira dan Rion sedikit mengerang kesakitan hingga aku segera mundur.
"Kalian berdua baik-baik saja."
"Kami tak apa."
"Jadi begitu, pedang itu dibuat dari dewi... yah bukan masalah bagiku, aku akan menghancurkan mereka berdua."
Mungkinkah dia sosok iblis yang bisa membunuh dewa sekalipun.
"Kenapa kau diam, mari lanjutkan pertarungan ini."
Jika aku masih bertarung dengan pedangku, itu sangat berbahaya, Aira dan Rion yang sadar dengan pikiranku berkata.
"Jangan lakukan itu Lion?"
Terlambat aku telah menggunakan Teleportasi Gate dan mengirim kedua pendangku ke negaraku Elfdian.
"Menarik, apa mungkin kau berusaha melawanku sendiri... aku puji keberanianmu."
"Yah, mereka terlalu berharga untuk tersakiti."
__ADS_1
"Cinta kah, kurasa perasaan itu sering kudengar dari manusia."
Aku tidak mungkin melibatkan istriku dalam hal berbahaya, sekarang lawanku jelas berbeda dia bukan iblis yang bisa dikalahkan dengan hanya secara biasa aku harus mengeluarkan segala kekuatanku.
Aku mengeluarkan dua pedang dari sihir penyimpananku, mereka cukup bagus dalam menyerang.
"Aku akan menyerang lagi coba tahan ini."
Setiap aku menahan serangannya itu terasa seperti sedang melawan seekor badak dengan hanya perisai, tubuhku terpental ke belakang namun sejauh itu aku baik-baik saja.
Kugunakan sihir api yang dipadukan dengan sihir air untuk menyerangnya dan dengan mudah dihilangkan dengan sebuah perisai miliknya.
"Anti Magic Barrier."
"Itu?"
"Sayang sekali bocah, seharusnya kau tidak boleh membuang kekuatanmu begitu saja, dua pedang sebelumnya hanyalah alat harusnya kau bisa memanfaatkannya dengan baik."
"Aku tidak memperlakukan mereka seperti alat."
"Haha naif sekali, yang harus dipercayai di dunia hanyalah kekuatan, perasaan hanyalah sebuah gangguan bahkan di alam iblis hirarki tetap menjadi aturan dasar kehidupan, iblis lemah melayani iblis kuat dan begitu juga manusia."
"Sekali-sekali tidak masalah untuk seperti ini."
Dengan kekuatanku aku pasti bisa mengalahkannya meksipun itu hal merepotkan.
Mari gunakan cara lain yang lebih mudah.
"Jadi apa yang ditawarkan oleh orang yang menyuruhmu datang kemari?"
"Tidak ada, kami hanya mematuhi siapapun yang telah memanggil kami kemari."
"Dengan kata lain posisimu berada di bawah orang memanggilmu."
Echidna tertawa.
"Sepertinya begitu, lebih baik aku cepat menghabisimu."
"Kalau aku bisa menawari hal yang jauh lebih baik apa kau akan lebih melayaniku?'
__ADS_1
"Namamu?"
"Lion."
"Dengar Lion, membuat kesepakatan dengan iblis bukan hal bagus, walau mereka memberikan tawaran bagus pada akhirnya mereka akan mengambil hal yang berharga untukmu."
"Tunggu kenapa kau mengatakan hal itu Ringbel."
"Aku cuma ingin mengatakannya."
Aku terkejut.
"Kau sebenarnya siapa? Aku merasakan dua jiwa di dalam tubuhmu.
Itulah yang kulihat sekarang.
"Lihat Ringbel ini semua gara-garamu."
"Maafkan aku, kita sudah keluar dari dunia itu, bukannya lebih baik kita tidak menuruti siapapun."
Cukup mengerikan juga melihat seseorang berbicara sendiri.
"Meski kau bilang begitu, peraturan pemanggilan tidak bisa dilanggar begitu saja atau kita akan kembali ke sana."
Pada akhirnya.
"Biar aku bicara dengannya Echidna."
"Terserah padamu."
Sayap kelelawar berganti menjadi sayap putih yang lebar, dari atas kepalanya sebuah lingkaran cahaya muncul, Echidna yang berambut merah berubah menjadi biru dan senyumannya kembali sedia kala.
"Kau pasti terkejut, namaku Ringbel, jangan salah paham dulu biar aku jelaskan, mari panggil dua orang sebelumnya."
Dia mengulurkan tangannya dan dalam sekejap entah Rion dan Aira muncul. Mereka tampak terkejut hingga memelukku dengan erat.
Namun suara Ringbel lebih dulu membuat mereka tidak bisa berkata-kata lagi.
"Kau?"
__ADS_1
"Aku merasakan gerbang neraka Tiamat dari pria di sana, bisakah kau memberikannya padaku."