
Satu jam berlalu semenjak keduanya bertarung habis-habisan, Rion memunculkan tanaman yang membentuk dirinya menjadi seperti sebuah tombak bor ke tangannya.
Dia melemparkannya dan Amnesty menahannya dengan satu tangan membuat tangannya tersakiti.
"Sampai kapan kita bertarung, akuilah kekalahanmu Rion," nafasnya tersengal-sengal.
Rion menjawab setelah menyeka keringat yang jatuh dari pelipisnya.
"Sampai aku bisa menendangmu, aku akan berhenti."
"Itu tidak adil, jika kau membenciku katakan saja jangan menggunakan kekerasan."
"Heh?"
"Apa maksudnya itu?"
Mereka telah mempermalukan satu sama lain serta melukai diri mereka sendiri sebanyak yang mereka bisa tahan, hanya menunggu waktu sampai salah satu dari mereka mengaku kalah.
Rion mengepalkan otot-otot tangannya dengan erat, begitu juga Amnesty, Amnesty berfikir bahwa Rion akan menyerangnya dari depan sayangnya firasatnya jelas salah.
Rion hilang dan muncul di belakangnya selagi tersenyum senang.
"Celaka."
"Kena kau."
Dengan santai Rion menendang pantatnya hingga dia tersungkur memeganginya selagi mengusap-usapnya pelan.
"Sakit, hmmm," wajah Amnesty hampir menangis.
"Sekarang aku sudah selesai, mari anggap pertarungan ini seri."
Terhadap Rion yang mendeklarasikan dengan seenaknya, Amnesty menuntut.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan?"
"Yang barusan keinginanku, kau membuat peraturan aneh jadi aku sedikit kesal."
"Benar-benar, aku mengerti aku akan mengembalikan semuanya sedia kala, kau puas."
__ADS_1
Rion tersenyum bangga.
"Itu baru tendangan untuk peraturanmu, sekarang untuk Harfilia dan juga untukku."
"Tunggu, aku tidak mau."
Amnesty menghela nafas panjang, dengan pertarungan yang telah diselesaikan keduanya kini alam dewi seutuhnya telah rusak, pulau-pulau banyak yang berlubang dan banyak dewi melirik ke arah Rion dengan penuh permusuhan.
Meski Amnesty sebagian besar mengambil peran atas kerusakannya mereka lebih memilih untuk menyerahkan semuanya pada Rion.
"Aku seperti dibenci di dunia dewi dan dunia fana juga."
"Itu salahmu sendiri, jadi apa yang kau lakukan setelah ini? Bagaimanapun aku tidak membuat kesalahan apapun, aku memberikan hukuman dengan adil."
Rion memicingkan matanya karena semua itu memanglah benar.
Amnesty mengalihkan pandangan selagi berpura-pura bersiul.
"Aku tahu," balasan Rion membuatnya sedikit terkejut.
Dia melanjutkan.
"Ah itu... konflik yang sekarang memang cukup berat di sana, tapi berkatmu kurasa kedamaian akan tercipta."
"Tidak, kau salah... aku bersiap dengan sesuatu yang lebih mengerikan."
"Apa maksudmu?"
Rion memilih mengabaikan hal itu untuk berbisik di telinganya. Ia mengatakan sebuah permintaan hingga Amnesty terkejut.
"Kau yakin?"
"Benar."
"Aku mengerti, tapi sebelum itu mari mandi bersama... aku pikir tidak baik untuk saling bermusuhan."
Amnesty menjentikkan jarinya dan dalam sekejap seluruh alam dewi kembali pulih seolah tak terjadi apapun, pulau-pulau yang hancur telah dikembalikan dan dewi yang bersedih mendapatkan senyuman mereka.
"Maaf atas gangguannya kalian bisa kembali melakukan aktivitas seperti biasanya."
__ADS_1
Saat itu Rion menyadari sesuatu.
"Mungkinkah barusan kau sengaja mengalah."
"Mana mungkin aku melakukan itu. Rion benar-benar kuat."
"Mungkin saja kau sebenarnya ingin dilecehkan."
Pipi Amnesty memerah tomat.
"Ah jadi benar."
"Mana mungkin, kita memang seimbang... tolong jangan menyebarkan rumor aneh, pokoknya cepat bergegas."
"Ah baiklah."
Keduanya saling membasuh diri di sebuah kolam air panas sebelum berendam untuk memulihkan tenaga. Mereka hanya mengobrol dengan ringan sebelum kembali mengenakan pakaian mereka.
"Kalau begitu sesuai yang kau inginkan aku akan mengirimmu ke sana lagi, dan akan menyuruh pengikutku untuk menangkapmu, tentu ia akan memberikan fasilitas apapun yang kau inginkan nantinya."
"Aku menghargainya."
"Kalau begitu sampai jumpa."
"Aah, sampai jumpa."
Rion muncul di sebuah kota dan saat dia membuka matanya seorang telah berdiri di depannya, dia mengenakan pakaian putih berenda dengan rok pendek ketat serta rambut ikat sanggul.
"Oh, kau?"
"Namaku Gracia Roux, aku ditugaskan untuk membawamu ke penjara, aku dengar kau adalah dewi jahat tapi anehnya aku harus memperlakukanmu dengan baik."
"Begitulah, kau sudah hidup lama jadi tolong buatkan aku fasilitas apapun yang kuinginkan di penjara."
Gracia menghela nafas panjang.
"Karena dewiku bilang begitu, apa boleh buat.. ikut aku."
"Um."
__ADS_1
Keduanya berjalan pergi.