
Estelle melompat ke udara saat jenderal goblin melayangkan tebasan pedang padanya, itu sekitar lima kaki saat dia berhasil melewatinya dengan baik untuk mengirimkan belati lempar menembus tangannya hingga jenderal goblin menjatuhkan senjatanya ke tanah.
Jenderal goblin yang tidak bisa menggunakan tangan kanannya berganti dengan tangan kirinya untuk mengambil pedang miliknya, saat jarak Mamia mendekat dia menahan tebasan Mamia lalu melemparkannya jauh ke belakang.
Varlia yang sudah siap dengan pedangnya mempersempit jarak kemudian menebaskan pedangnya secara vertikal, tubuh goblin terhuyung ke belakang sebelum akhirnya jatuh ke tanah.
"Sudah selesai," katanya tersenyum lebar. Ini pertama kalinya ia sangat senang saat bertarung bersama seseorang, setelah meninggalkan istana. Varlia selalu berjuang sendirian.
Ia teringat bagaimana dia mendaftar di guild hingga sampai sejauh ini
Saat itu.
"Selamat datang di guild, apa ada yang bisa saya bantu... Ugh?"
Wajah resepsionis yang berdiri di depan Varlia memucat.
"Bu-bukannya anda putri Varlia."
"Aku bukan lagi putri, mulai sekarang tolong panggil aku Varlia Vallaha saja, aku ingin menjadi seorang petualang."
Vallaha adalah nama keluarga dari ibu Varlia, ibunya berasal dari rakyat biasa jadi saat seorang raja menikahinya ia berganti dengan nama bangsawan miliknya.
"Kalau begitu tolong isi formulir ini dan saya akan menjelaskan semua pertarungan di guild dan bagaimana cara mengambil permintaan pekerjaan."
Varlia saat itu hanya seorang peringkat terendah yang hanya bertarung dengan mengandalkan sedikit pengetahuannya dari istana.
Beberapa orang pernah mengajaknya untuk bergabung dalam party namun Varlia akan selalu menolaknya, ia jelas tidak bisa mempercayai siapapun, ia berfikir bahwa orang lain akan berniat buruk dengannya bahkan jika seseorang terlihat baik di permukaannya.
Dengan asumsi itu Varlia mulai tubuh semakin keras, dia pergi ke hutan monster sendiri dan bertarung sebanyak ia bisa lakukan.
__ADS_1
Pagi goblin.
Siang goblin.
Sore goblin.
Malam goblin, goblin, goblin.
Setiap hari dia hanya hidup untuk bertarung, seiring waktu dia mulai melawan sesuatu yang lebih besar, besar dan besar hingga tanpa ia sadari telah menjadi petualang atas yang menganggumkan. Ia seorang gadis cantik dengan kekuatan luar biasa seiring waktu popularitasnya mulai meningkat. Saat seekor naga menyerang desa hanya dialah yang mau mengalahkannya.
Dengan sekali tebasan dia memenggal kepalanya dan saat itu dia berubah menjadi seorang yang disebut pembunuh naga.
Suara Estelle menyandarkannya dari lamunan.
"Kau baik-baik saja?"
"Dia ada di sana terbaring di tanah."
"Ah."
"Serangan tadi benar-benar sangat keras."
Estelle maupun Varlia hanya tersenyum masam.
***
Itu adalah goblin terakhir yang kukalahkan lewat pedangku, menyadari bahwa pertarungan mereka sudah selesai maka tugas kami di kota ini telah berakhir.
Pemimpin dari pasukan ini menepuk bahuku dengan akrab.
__ADS_1
"Meski kau memakai topeng mencurigakan kau sangat kuat, kami beruntung bahwa kau ada di sini."
"Begitulah, kami akan melanjutkan perjalanan lagi."
"Kau tidak akan ikut perayaan dulu.. guild master pasti sangat berterima kasih, kau juga belum mendapatkan bayaran dari guild."
Aku berdiri bersama Estelle, Varlia dan juga Mamia lalu berkata.
"Berikan saja pada keluarga yang telah gugur dalam pertarungan ini, selamat tinggal."
"Dadah," tambah Mamia meninggalkan pria yang kebingungan itu.
"Sebenarnya apa yang ingin kalian lakukan?"
Varlia yang menjawabnya.
"Kami akan mengalahkan raja iblis dan juga pahlawan sialan itu, sampai saat itu tiba jangan mati."
"Kalian semua?"
Mereka bersikap keren saat itu namun saat sudah jauh dari kota ketiga gadis berguling-guling di tanah.
"Sakit, tubuhku sakit sekali."
"Aku juga."
"Awawawa."
Perjalanan mereka mengalahkan raja iblis ataupun pahlawan jelas sangatlah panjang.
__ADS_1