
Aku muncul tepat di sebuah gua yang diterangi berbagai cahaya dari bebatuan, di sini semua orang berkumpul dan saat melihatku Rion maupun Diona mendekat.
"Kau baik-baik saja Lion?" orang yang pertama mengkhawatirkanku tentu saja Riona, dia seorang dewi walaupun diturunkan ke dunia ini dia tetap cantik dan sekarang dia mirip elf.
Adapun untuk Diona hanya ingin mendapatkan perlindunganku saja.
Tapi mungkin kabar yang akan kuberikan akan membuatnya syok, meski begitu aku ingin mengatakannya sekarang sebelum dia mengetahuinya sendiri.
"Dengar Diona, saudarimu telah terbunuh."
"Kau pasti bercanda, kau tidak mungkin."
Aku melepaskan topengku agar dia melihat ekspresiku yang tidak main-main.
Dia menutup mulutnya lalu terduduk selagi berlinang air mata.
"Saat bertarung dengan Laxus, seorang wanita bernama Solo mengatakannya, aku tidak yakin tapi kurasa itu memang bukan kebohongan."
"Mustahil."
"Tenangkan saja dirimu di sini."
Aku berjalan lalu duduk dengan yang lainnya yang merupakan monster dan juga para Beast termasuk yang aku temui sebelumnya.
Minotaurus memperkenalkan dirinya sebagai Deren dan sisanya White Tiger.
Salah satu Lamia memberikanku minuman jus terbuat dari buah-buahan di sekitar dungeon, Rion hanya duduk di sampingku selagi memeluk lenganku.
"Untuk tadi kami sangat berterima kasih, kupikir kau sama akan menghabisi kami."
"Aku hanya menghabisi monster yang jahat yang akan menyerangku, apa kalian tidak keberatan?"
"Tidak masalah, kami juga terkadang membunuh monster lainnya."
__ADS_1
Mereka memiliki pikiran seperti manusia rupanya.
Aku menyeruput minumanku sebelum Diona duduk di samping Rion, dia tampak kacau kendati demikian Lamia yang sebelumnya memberikannya minuman juga.
".. Um... terima kasih."
"Rasanya aneh saat gadis suci mengatakannya padaku."
Gadis suci adalah pemimpin kerajaan ini yang membenci semua ras kecuali manusia karenanya sangat jarang dia memperlakukan monster secara setara.
Tapi bukan itu yang harus kami bahas.
Aku berkata.
"Pertama mari satukan apa saja masalah yang terjadi dan mari tentukan tujuan agar kita bisa bekerja sama."
"Hoh, kau memulai dengan pernyataan yang sulit kami bayangkan."
"Walau terlihat seperti ini aku sangat jenius."
"Bukannya aneh ketika seseorang menyebut dirinya jenius, harusnya itu keluar dari mulut orang lain."
"Oh ayolah, bisakah tidak menggodaku saat aku sedang bersikap keren."
Semua orang tertawa dan White Tiger menjelaskan.
"Tadinya kota Prima adalah kota kami para Beast namun saat kerajaan suci menginvasi untuk memperluas wilayahnya kami kemudian beralih tempat tinggal di sini, kami memutuskan untuk tidak terlibat lagi dengan manusia namun orang bernama Laxus sialan itu... tiba-tiba mengadakan pertandingan aneh hingga mereka juga menyerang kemari dan mengambil monster-monster di sini termasuk para beast."
"Apa hubungan kalian dengan monster, apa kalian akur?"
"Awalnya tidak tapi karena kami memiliki tujuan yang sama kami akhirnya bekerja sama, tentu ada beberapa monster yang benar-benar tidak memiliki pikiran jadi kami masih sering bertarung dengan mereka."
"Mungkinkah mereka hanya mengambil monster yang bisa bicara."
__ADS_1
"Benar sekali, dengan itu pertarungan monster akan terlihat lebih menarik."
"Baiklah satu masalah akhirnya kita dapatkan."
"Selanjutnya masalah gadis suci ini, dia diserang oleh demi human dan mereka sangat brutal, apa kalian berkerja sama dengan mereka?"
Semuanya menggelengkan kepala lalu Deren menjelaskan.
"Kami tidak memiliki sangkut pautnya dengan mereka, yang kami inginkan hanyalah mengambil rumah kami dan menghentikan manusia seperti mereka."
Untuk alasan yang tidak kuketahui gadis suci yang berada di sampingku hanya terlihat gelisah selagi menundukan kepalanya.
Sepertinya dia sudah menyesali apa yang telah terjadi pada mereka.
Membayangkan monster bisa bertingkah seperti manusia juga cukup mengejutkan.
Mereka setidaknya lebih bijak sana dibanding orang-orang dipermukaan tanah.
"Aku bisa menawarkan kesempatan tapi tergantung keputusan Diona juga."
"Apa yang ingin kau inginkan dariku?"
Dia menaikan wajahnya untuk melihat ke arahku.
"Mudah saja, aku ingin kau merubah sistem kerajaan yang sekarang dan bilang bahwa negaramu akan memberlakukan sistem kesetaraan entah itu demi human, monster tipe berakal ataupun para Beast."
"Mustahil?"
"Aku tidak membuatmu untuk menggabungkan mereka di satu tempat melainkan memberikan mereka wilayah masing-masing dan melindungi mereka dengan hukum kerajaan."
"Soal itu..."
Diona jelas sekali sangat memikirkannya. Jika dia bisa berfikir terbuka, saranku adalah sesuatu yang masuk akal untuk menyelesaikan semuanya.
__ADS_1
Dibanding masalah Titan, hal seperti ini jelas lebih sederhana.