Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 221 : Balas Dendam


__ADS_3

Nightmare menendang pintu saat orang-orang sedang berpesta di dalam ruangan, melihat sosok Nightmare berdiri di sana semuanya menelan ludah lalu tertawa terbahak-bahak.


"Bukannya kau barang yang dijual bos, kau datang kemari lagi apa kau ingin menjadi budak lagi?"


"Sayang sekali tebakan kalian salah."


Dua kepala wanita yang terpenggal dilemparkan ke arah pria yang bertanya demikian, wajahnya memucat pasih.


"Ara, jangan terkejut begitu kalian juga akan mengalami hal sama."


"Dasar sialan."


Mereka semua memecahkan botol sebelum melesat maju untuk menyergap Nightmare yang telah menarik pisaunya, dia menahan salah satu serangan kemudian membalas dengan tendangan hingga pria itu terlempar jauh menghantam meja.


"Kalian lebih lemah dari yang kubayangkan."


"Kau."


Nightmare melompat ke atas salah satu pria lalu memasukan kepalanya ke dalam roknya lalu menusuk lehernya sebelum melompat ke meja untuk menghindari serangan rekannya.


Para wanita berlarian namun tentu Nightmare tak akan membiarkannya, dia melemparkan pisaunya menusuk mereka dari belakang hingga roboh.


Sementara itu pria yang masih hidup berusaha untuk menghabisinya meskipun semua serangan hanya meleset, setiap Nightmare mengayunkan pisaunya akan ada orang yang tewas hingga pada akhirnya hanya menyisakan satu orang yang pertama membuka mulutnya saat bertemu dengannya.


"Ampuni..."


Sebuah botol minuman hancur di dalam mulutnya hingga rahang pria itu rusak, saat dia menangis pisau telah menggorok lehernya.


"Sekarang tinggal kau... Tarnus."


Naik ke lantai dua Nightmare bisa melihat seorang pria besar yang duduk di sofa selagi ditemani banyak wanita yang terkulai lemas.

__ADS_1


Mereka sudah digunakan karena itulah hampir sulit untuk mereka bangun.


"Siapa ini, bukannya ini Nightmare."


"Lama tak bertemu Tarnus, yah kau masih membuat wanita kesusahan.. saat pertama kali aku kesakitan loh."


"Jadi apa yang kau inginkan?"


"Tentu saja nyawamu, akan kunikmati setiap tubuhmu itu."


"Haha memangnya kau mampu melawanku... aku ini pemilik kemampuan tujuh dosa mematikan kesombongan, kau tidak akan bisa mengalahkanku."


"Cuma satu dosa, itu bukanlah hal bisa dibanggakan."


Tarnus menerjang ke depan lalu mencengkeram leher Nightmare dengan erat.


"Ah, ah, ini sangat menyenangkan... mari main tuan Tarnus," kata Nightmare memiringkan kepalanya dengan wajah mesum.


Tarnus melemparkan tubuh Nightmare ke arah tembok hingga dia menabrak beberapa bangunan sebelum jatuh ke lantai batu, dosa mematikan adalah kemampuan luar biasa namun bukan berarti hal itu tidak memiliki kelemahan.


Nightmare bangun selagi membuang darah yang timbul di mulutnya, sementara itu Tarnus telah mendekatinya dan dengan mudah dia memperbanyak dirinya menjadi puluhan.


Tentu itu hanya sebuah ilusi yang menjadi kemampuan dosa kesombongan.


"Bagaimana, apa kau bisa mengatasinya?"


"Jangan khawatir, aku datang karena sudah mempersiapkan segala hal."


Nightmare mengarahkan tangannya dan berkata.


"Inferno."

__ADS_1


"Mustahil, dari mana kau bisa mempelajari sihir."


"Sihir bukan sesuatu yang sulit dipelajari," jawab Nightmare.


Api bagaikan Tsunami menyapu seluruh ilusi tersebut, ketika api membumbung tinggi sosok Tarnus melesat dan muncul di depan Nightmare yang tersenyum lebar.


"Kena kau," katanya demikian.


Nightmare mengayunkan pisaunya, sebelum mengenai lehernya, Tarnus telah menyadarinya lebih awal meski begitu serangan sesungguhnya adalah setelahnya.


Satu kaki Tarnus telah terpotong membuatnya jatuh, meski ini sudah malam hari cahaya bulan masih membuat pemandangan tersebut terlihat jelas.


"Aaaarrggh."


"Teriakan yang indah, bukannya aku juga berteriak sama waktu itu, tapi darah yang kuhasilkan tidak sebanyak ini... indah sekali."


"Kenapa kau melakukan ini semua, harusnya kau membalas dendam pada para naga."


"Jangan khawatir aku juga akan melakukannya."


Tebasan lain memotong kaki Tarnus satu lagi.


Dia berteriak kesakitan namun Nightmare sepenuhnya menikmati itu.


"Lebih, lebih, aku ingin lebih mendengarkan kesakitan ini... ah, aku sangat bahagia, aku selalu berharap hari ini akan datang."


"Hentikan."


"Hentikan, jangan bercanda... ini baru dimulai."


Setelah memotong-motong seluruh bagian tubuhnya tanpa tersisa, Nightmare tertawa lepas, darah membasahi wajahnya yang sesungguhnya terlihat cantik, saat dia berhenti air mata menetes dari wajahnya.

__ADS_1


"Loh.. aku menangis, ini pasti tangisan kebahagiaan," katanya demikian.


__ADS_2