Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 91 : Pertarungan Dalam Ruangan


__ADS_3

Dada Gracia bersinar terang dan dari dalam tubuhnya ujung pedang terlihat menyeruak keluar, dia dengan baik menariknya dan tampak pedang bercahaya itu terpantul dengan indah.


"Lion?"


"Aku tahu."


Gracia meluncur ke arahku dengan cepat, aku pun sebisa mungkin mengimbangi tebasannya menciptakan kilatan cahaya dari setiap benturan.


Dentrang dentrang dentrang.


Dalam waktu lama kami terus bertarung hingga saling menahan satu sama lain.


"Bagaimana kau bisa bersama dewi jahat."


"Kau pasti sudah menyadarinya dari awal."


"Sudah jelas begitu."


"Nah, Lion dia itu mantan tujuh anggota mahkota dewi bahkan sebelumnya dia juga sudah hidup sangat lama," sela Rion.


"Dia abadi."


"Aku yakin teman-temannya sudah tidak ada di dunia ini, ngomong-ngomong dialah orang yang mengurungku di sini."


"Dewi harusnya kau mengatakan itu dari awal."


"Ini bukan salahku, salahmu sendiri tak bertanya... apa kau tahu pepatah malu bertanya bonyok di wajah."


"Sepertinya ada yang salah dengan kalian berdua, bisa-bisanya kalian bersantai di saat seperti ini."


"Yah, kau salah paham.. dia sudah tidak berniat menghancurkan dunia, dia hanya ingin hidup santai."


"Lalu kenapa kalian datang kemari jika ingin hidup santai."


"Aku hanya ingin memperbaiki dunia ini jadi lebih baik semuanya keinginanku."

__ADS_1


"Aku tidak mungkin percaya itu."


Pedang putih di tangan Gracia membesar.


"Pedang ini bernama pedang Theresa... aku bisa membuatnya membesar sebesar yang kumau."


"Apa, tunggu, tunggu, bukannya kau akan menghancurkan sekolah ini."


"Itu harga yang pantas untuk membunuh dewi jahat."


Orang ini saraf.


"Percuma Lion, dia ini terkenal paling keras kepala."


"Aku bisa melihatnya, bagaimana agar kau bisa percaya?"


"Kalahkan aku."


Aku merubah mata kiriku menjadi gelap gulita, bersamaan itu seluruh pakaian Gracia robek.


"Oh, kau menggunakan mata jahatmu," ucap Rion bersemangat.


"Hanya dengan cara ini aku bisa menghentikannya tanpa melukainya."


"Dasar ca-cabul."


Gracia terduduk dengan wajah hampir menangis. Tidak, sebenarnya dia menangis hingga membuat keributan.


Saat aku kembali ke kelas rumor tentangku mulai menyebar, itu bukan rumor yang mengerikan hanya saja aku dianggap sebagai orang yang bisa membuat Gracia menangis.


Beberapa orang bahkan memintaku untuk memberitahukan caranya, sepertinya Gracia memang sosok tegas yang sedikit tidak disukai siswanya.


Dua hari berikutnya, aku mengambil tempat di atas akademi selagi menikmati roti lapis bersama Nibela dan Rion yang kembali ke wujud elfnya.


"Aku sedikit penasaran Nibela, bukannya kau ahli dalam menggunakan belati tapi saat kau memegang pedang kau malah tidak terbiasa."

__ADS_1


"Aku tidak suka yang panjang."


Rion memotong.


"Pedang Lion juga pendek, cepat tunjukan Lion pedang excaliburmu."


"Pedang?" Nibela memiringkan kepalanya.


"Jangan dengarkan dewi saraf ini."


"Hoh... kau berani mengatai diriku padahal aku ada di sebelahmu, syukurlah aku membawa ini."


"Tunggu, sejak kapan kau membawanya."


Aku berlari berputar-putar sementara Rion membawa palu di belakangku, tak lama dia berhenti saat sosok Gracia muncul dari belakang.


"Ah, Gracia?"


"Bisakah kau sedikit hormat padaku, aku ingin bicara denganmu berdua saja."


"Pulang sekolah aku punya waktu."


"Baguslah."


Nibela dan Rion saling berbisik satu sama lain.


"Harem baru."


"Benar, dia juga akan jadi istri Lion juga."


"Kalian berdua ini."


Bukan aku yang menginginkan Harem tapi dunia ini yang tidak membiarkanku untuk memilih satu pasangan saja.


Ini jelas dunia yang mengerikan.

__ADS_1


__ADS_2