Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 511 : Akhir Ujian Dan Awal Pertarungan Akhir


__ADS_3

Dengan tangan yang gemetaran aku terus menyerang sosok diriku yang lain dengan kedua pedangku, dia menangkisnya lalu menendangku hingga aku terpental ke belakang.


Seberapa banyak aku memaksakan diriku untuk menyerang maka sebanyak itulah yang kudapatkan sebagai balasan.


"Kau mau menyerah, jika kau menyerah kau tidak harus bertarung lagi."


"Tidak, di luar sana masih banyak orang yang menungguku untuk menyelesaikan masalah ini."


"Sungguh keras kepala, bukannya kau maupun diriku hanya bertarung untuk menghilangkan kebosanan, kita tidak perlu melibatkan diri kita pada sesuatu yang berbahaya."


"Awalnya aku juga berpikiran begitu tapi sekarang aku lebih ingin menyelamatkan semua orang, terkadang kebosanan yang kurasakan juga tidaklah terlalu buruk.. hidup damai dan menghabiskan waktu bersama dengan banyak orang yang berharga, itulah yang kuinginkan sekarang."


"Kau benar-benar berubah diriku yang lain."


"Kuharap kau juga jadi sepertiku."


Aku menyarungkan satu pedangku dan hanya menggunakan satu pedang lainnya, begitu juga diriku yang lain, kami diam beberapa saat sebelum melangkah maju di waktu bersamaan.


Kami saling membelakangi dan diriku yang putih mulai menjadi serpihan cahaya lalu menghilang ke udara.


"Kau yang menang, kurasa kau sekarang bisa menyelamatkan mereka."


"Aah, selamat tinggal diriku yang lain."


Kurasa ujianku adalah bagaimana aku memilih untuk menyerah dibanding bertarung sempai akhir, aku keluar dari pintu yang tiba-tiba muncul dan melihat Ringbel dan Venus berdiri di sana.

__ADS_1


"Lion, kau berhasil... syukurlah," ucap Ringbel yang mendapatkan anggukan kecil Venus.


Aku menjawab dengan santai.


"Begitulah tapi aku tidak merasakan sesuatu yang aneh dari tubuhku."


"Bagi kami, kami merasakan energi dewa darimu."


"Begitukah, ngomong-ngomong di mana Amnesty?"


"Ia sedang bertarung dengan Nightmare."


"Kurasa aku tidak bisa membuatnya terus menunggu... sampai nanti."


"Semoga beruntung."


"Maaf menunggu, akulah yang akan mengalahkanmu di sini."


Nightmare tersenyum puas.


"Lion, dari awal aku memang merasa akan berhadapan denganmu sebagai pertarungan akhir, sekarang tunjukan padaku semua kemampuanmu."


"Kau juga."


Aku memilih menggunakan kedua pedangku untuk melawannya, dia memunculan puluhan tengkorak sebagai pembuka. Aku menebas mereka sampai hilang sebelum menyerang Nightmare secara langsung.

__ADS_1


"Sepertinya tengkorakku sudah habis."


"Jika begitu kita hanya akan bertarung satu lawan satu sekarang."


"Kau sangat bersemangat sekali."


Pedang kami saling bertubrukan dengan kecepatan tinggi, salah satu dosa mematikan memiliki kemampuan untuk menghilangkan satu kemampuan musuh dan aku memiliki satu hal yang ingin kuhilangkan dari Nightmare, dan itu adalah.


Kami berdua sama-sama mengarahkan tangan lalu menggunakan skill dosa mematikan secara bersamaan.


Aku menghilangkan kemampuan dosa mematikan Nightmare, begitu juga dirinya sebelum kami saling menjaga jarak.


Sementara aku terkejut Nightmare tertawa.


"Sepertinya kita memiliki pemikirannya yang sama bukan."


"Rasanya aneh jika disebut kebetulan, kau membaca pikiranku... kau mengambil kemampuan dewi lainnya bukan."


"Benar sekali, meski tanpa skill dosa mematikan aku memiliki seluruh kemampuan mereka."


Aku menghentakan kakiku dan sebuah tanaman meluncur pada Nightmare, saat aku sadari darah menyembur dari tubuhku sementara Nightmare berdiri di samping tanaman yang kugunakan untuk menyerangku.


"Barusan, kemampuan Venus menghentikan waktu."


"Kau menyadarinya juga, aku barusan menebasmu dari sini dan juga."

__ADS_1


Nightmare memunculkan sebuah lonceng kecil di tangan lainnya, dan saat dia ayunkan sebuah dentingan terdengar hingga seluruh tanaman yang kukeluarkan barusan hancur berserakan.


Ini jelas sangat merepotkan.


__ADS_2