
Pagi berikutnya di guild para petualang dikejutkan dengan pernyataan Estelle yang tiba-tiba, aku menunggu di luar jadi hampir tidak terlibat dalam perdebatan yang ada di salam sana.
Setelah menunggu beberapa saat dia keluar dengan perasaan lega, aku bertanya padanya.
"Apa kau baik-baik saja?"
"Tak apa, aku merasa bahwa ini yang selama ini aku rasakan."
Dengan keluarnya Estelle dari sini maka kami juga akan pindah ke ibukota, jika kami terus berada di sini akan memancing banyak kemarahan yang lainnya, singkatnya mereka akan menyalahkanku sebagai orang yang menghasutnya.
Sebelum pergi kami mengunjungi pandai besi.
Banyak senjata yang ditawarkan di tempat ini dan aku membiarkan Estelle mencoba apapun yang dia inginkan.
Ia mencoba menggunakan tombak, kemudian gada disusul pedang namun dari semua ini pisau belatilah yang pantas untuk dipakai. Tak hanya senjata aku juga mendandaninya seperti seorang petualang pada umumnya tanpa menghilangkan ciri khasnya.
Ia kini memakai seragam putih berlengan panjang yang bagian bawahnya sampai ke bagian paha. Mungkin lebih mirip disebut gaun terusan ketat. Untuk punggung masih terbuka.
Di pinggangnya melingkar ikat pinggang yang dapat digunakan untuk menggantung belatinya, semuanya ada tiga buah, di belakang serta di sampingnya.
Ia mengenakan sepatu bot tinggi dengan kaos kaki panjang hitam, untuk rambutnya ia biarkan terurai begitu saja dengan hiasan bando di atasnya.
Penampilan memang bisa membuat seseorang berubah.
__ADS_1
"Semuanya 200 koin emas."
"Tentu."
"Bukannya itu terlalu mahal," protes Estelle tapi sejujurnya aku tidak peduli dengan berapapun uang yang akan kukeluarkan asalkan semua peralatan ini sesuai yang kuinginkan.
Pakaian ini tahan api serta serangan itu sudah cukup untuk digunakan seorang petualang.
"Kuminta dua lagi untuk cadangan."
"Oke."
"Lion? Jika sebanyak itu bahkan membayarnya dengan tubuhku tidak akan cukup sekali."
"Siapa yang menginginkannya."
Kenapa wanita selalu peka dalam hal seperti itu. Apa mereka memiliki sensor sendiri saat pria melihatnya. Hal itu masih belum diketahui.
Aku membeli beberapa roti dan kami mulai melangkah meninggalkan kota tersebut. Kami tidak memilih jalan yang biasa dilewati kereta melainkan jalan penuh rintangan yang memungkinkan seseorang untuk bermalam di alam liar, selain melatih tubuh Estelle dalam perjalanan ini aku juga akan mengajarinya berbagai hal yang diperlukan dalam bertarung serta bertahan hidup latihan pertama yang harus dilakukan adalah menangkap ikan dengan sebuah tombak di air sungai yang dingin.
"Hiyah."
Dia mengeluarkan suara imut saat dia melemparkan tombaknya, sungguh, apa dia bisa hidup di dunia keras yang dipilihnya atau tidak.
__ADS_1
"..."
"Gagal."
"Lakukan lagi."
"Baik, makanan yang kau makan sebanyak jumlah yang kau tangkap hari ini, selain melatihmu terbiasa dengan gerakan lawan ini juga membantumu melatih refleks dalam bertarung."
"Baik, hiyah."
Ia hanya mendapatkan satu ikan yang tidak cukup untuk dirinya sendiri sementara aku memakan ikan sebanyak lima ekor.
"Hey Lion, tolong minta satu."
"Apa boleh buat... cuma hari ini saja."
"Terima kasih banyak."
Sore hari adalah latihan fisik, aku meminta Estelle untuk berlari dengan rantai terlilit pada bola besi kemudian ditambah dengan sit up serta push up.
"Dadaku terlalu besar untuk melakukannya, ini sulit."
Dia memiliki masalah yang sama dengan Rion saat berolahraga. Hal itu terus dia ulang setiap harinya. Pagi dan sore ia berlatih fisik, siang harinya dia berlatih ketangkasan dalam berburu, kini tubuh Estelle sedikit lebih memiliki bentuk sempurna, kecuali lemak berlebih di dadanya sisanya sama sekali tidak ada.
__ADS_1
Dia tidak terlalu berotot juga, semuanya ideal.
Sudah waktunya mengajarinya bertarung serta sihir kurasa.