
Yang kami temui sekarang adalah seorang pria tua dengan tongkat, akan lebih mudah jika aku memanggilnya pria tua satu.
Pria tua satu menjelaskan.
"Sebenarnya kamilah yang lebih dulu membangun desa di pinggir sungai ini namun tiba-tiba saja orang dari sisi lain membangun desa yang sama hingga kami berselisih terus menerus."
Valentine lah yang membalasnya sebagai perwakilan kami. Jujur mengandalkan sisanya akan berakhir buruk.
Rion selalu membuat kerusuhan.
Aira terlalu polos.
Harty masa bodo.
Sedangkan Clarisa lebih tertarik dengan hal yang semua orang lewatkan.
"Bukannya batu ini terlihat lucu, mari pasangi aksesoris."
"Benar sekali, mari tumpuk batunya dan sembunyikan di tempat gelap mereka pasti bertambah banyak."
Lihat kan.
"Konflik seperti apa yang terjadi pada kalian?"
"Kebanyakan soal sumber daya alam seperti ikan yang kami tangkap. Ketika kami bertemu tanpa sengaja kami akan langsung saling mengejek."
Mereka sudah dewasa tapi malah terlihat seperti kekanak-kanakan.
"Aku yakin jika salah satu desa pergi maka kedamaian akan tercipta."
__ADS_1
"Meski begitu kalian sama-sama sudah nyaman di sini hal seperti itu tidak akan bisa dilakukan" kataku menyela.
Sejauh ini, aku bisa mengasumsikan bahwa mereka marah karena awalnya yang dikira wilayah ini hanya untuk mereka tinggali tiba-tiba saja desa lain membangun tepat di hadapan mereka.
Sekarang mari dengarkan penjelasan desa satu lagi, setelah memberitahukan tentang bahwa kami berasal dari guild kepala desa yang kuberikan nama pria tua dua mulai menjelaskan.
"Tadinya kami akan pindah kemari, namun tiba-tiba saja ada desa yang telah mendahului kami kemari, itu membuat kami marah dan berusaha agar bisa mengusir mereka dari sini."
Aku melirik ke arah Rion dan ia mengkonfirmasi bahwa pria tua dua tidak berbohong, aku melanjutkan.
"Bukannya ada peribahasa siapa lebih cepat dia yang dapat."
"Ugh."
Pernyataanku membuat kepala desa terdiam, bukan berarti aku akan mengusirnya tapi entah siapapun desanya mereka tidak berhak mengusir desa lain, akan lebih baik jika mereka bisa hidup berdampingan.
"Tapi kami lebih dulu memikirkannya berarti kami lebih cepat."
Beberapa saat kemudian akhirnya aku mengumpulkan kepala desa dari kedua desa bersama para penduduk sebagai perwakilan, baru saling menatap mereka langsung rusuh.
Sudah kubilang mereka terlalu kekanak-kanakan.
"Lihat, ada seorang wanita terjatuh dan pakaian dalamnya kelihatan," suara Clarisa mampu membuat semua pria terdiam untuk mengalihkan pandangan ke arahnya.
"Apa?"
"Siapa?"
"Di mana?"
__ADS_1
"Aku ingin melihatnya."
Orang-orang ini.
Mereka pelawak kah?
"Tenanglah kalian, aku pikir selama ini kalian salah paham satu sama lain.. tidak ada yang berhak menguasai wilayah ini untuk satu desa, semua orang berhak mendapatkan hak yang sama."
"Itu tidak benar, kami lebih dulu mendirikan bangunan maka desa lain harus pergi."
"Siapa yang lebih dulu, jelas kami... kami sudah memikirkan hal ini sejak jauh hari tapi kalian langsung membangunnya dan mencuri tanah kami."
Mereka semua bodoh, tanah ini dimiliki kerajaan harusnya mereka paham hal tersebut.
Pria tua satu dan pria tua dua masih bersikeras.
Mereka bergulat.
Pada akhirnya aku punya ide yang cukup gila untuk semua ini.
"Harty."
"Laksanakan."
Harty berubah menjadi naga kemudian menggoncang tanah hingga mereka terdiam.
"Naga."
"Itu seekor naga."
__ADS_1
Berapa kali kalian mengatakan naga, sudah jelas semua orang tahu itu.
"Jika kalian berisik aku akan memakan kalian," intimidasi Harty mampu meredam semuanya.