Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 189 : Pertarungan Di Ibukota Bagian Dua


__ADS_3

"Sialan..." bersama teriakan itu Renard melesat maju begitu juga denganku, tanpa memperlambat gerakanku aku terus menebaskan pedangku menciptakan suara memekakkan telinga, dalam jeda sesingkat itu kami beradu pedang kemudian beradu sihir tanpa berhenti.


Sayatan muncul di tubuhku begitu juga di tubuh Renard yang terus menetes sedikit demi sedikit ke permukaan tanah.


Pedang kami berdua tertahan satu sama lain.


"Kenapa kau melakukan hal sejauh ini, padahal jika kau bergabung dengan ras Titan kita tidak perlu bertarung satu sama lain, dan dunia yang kita impikan akan tercipta."


"Dunia yang kalian buat hanya dunia yang cacat, dengan membunuh orang tak berdosa apa keinginan kalian akan tercipta."


Kami mendorong satu sama lain ke belakang kemudian maju kembali untuk mengayunkan pedang secara bersamaan.


Sebelah tanganku dan tangan Renard terlempar ke udara dengan darah memuncrat ke segala arah.


Aku mengayunkan tangan kiriku yang memegang pedang Aira bersiap memenggal kepalanya, sebelum pendangku mengenainya.


Tangan lain Renard telah berada di dadaku dengan sihir petir aku meledak lalu terlempar ke udara setinggi-tingginya.


Renard mengambil pedang dari tangannya yang terputus sementara aku jatuh meluncur padanya.


"Aku tidak akan kalah dari orang lemah sepertimu, aku yang mewarisi darah dewa akan jadi pemenangnya."

__ADS_1


Dia melapisi pedangnya dengan kilatan petir begitu juga denganku yang melapisi pedangku dengan sihir air.


"LION!"


"RENARD."


Kami memanggil nama satu sama lain dengan kecepatan tinggi pedang kami bertubrukan menghasilkan ledakan besar.


Renard berdiri dengan wajah terkejut karena tangan yang lain telah terpotong juga.


"Sialan."


Aku mengayunkan pedang dari atas berniat membelah kepalanya namun sebelum itu benar-benar mengenainya ledakan asap tercipta bersamaan angin yang menghempaskanku ke belakang.


Aku menangkap tanganku yang terbang lalu memasangkannya kembali seperti sebuah puzzle, Rion dan Aira berubah ke wujud mereka lalu menahanku untuk tidak terhempas semakin jauh.


"Kalian berdua."


"Kami selaku bersamamu Lion."


"Benar, jangan lepaskan tangan kami."

__ADS_1


Aku melihat asap tinggi telah mengepul ke udara di barengi teriakan yang mengerikan, sebuah kepala raksasa menyeruak dari sana.


Itu bukan kepala Titan seperti biasanya yang menyerupai manusia atau tertutup helm gelap melainkan wajah dari sebuah lava panas yang tertutup bebatuan merah dengan tetesan batu cair yang jatuh ke tanah.


Setiap tetesan menciptakan api yang membakar semuanya seolah dia benar-benar keluar dari neraka.


Dia melempar bola api ke arah kami dari tangannya dan aku memegangi Rion dan Aira sebelum melompat menghindar, tempat di mana aku berada telah menjadi kawah raksasa.


"Graaaaaah."


Aku menurunkan keduanya sebelum berbalik ke arah Titan Magma itu.


"Kalian menjauhlah, dari sini biar aku yang mengatasinya sendiri."


Mengatakan itu aku berlari ke arah musuhku berada, dari tubuhku asap mengepul dan selanjutnya aku juga berubah menjadi raksasa lalu memukul wajahnya dengan keras.


Renard meraung layaknya monster dan aku pun demikian, hingga kami saling mendorong satu sama lain.


Setelah saling melepaskan diri, kami saling bertukar pukulan beberapa kali. Renard menarik tangannya lalu melemparkanku menghancurkan beberapa bangunan di bawahku, dia melompat selagi menginjak perutku beberapa kali. Saat dia mengincar wajahku aku menarik kakinya sehingga dia jatuh menggantikanku kemudian aku duduk di perutnya dan beberapa kali mengirim tinjuku ke wajahnya.


Setiap tinju merobek kulitnya yang terbuat dari bebatuan kemudian dia memuntahkan lahar mengenai wajahku hingga aku mundur ke belakang.

__ADS_1


__ADS_2