Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 35 : Malam Pembunuhan Bagian Tiga


__ADS_3

"Yah, dunia ini sangat indah banyak yang boing-boing, tunggu.... sepertinya aku berubah lagi."


"Fufufu akhirnya aku yang terus menggodamu membuahkan hasil."


"Pengaruh rekan sebaya memang mengerikan," balasku santai.


"Lion?"


BAM!


Sesuatu meluncur dari atasku tepat saat aku menghindar itu menciptakan ledakan dahsyat. Baru saja keluar dari bangunan ini aku harus menghadapi musuh yang merepotkan.


"Kau baik-baik saja?"


"Tak masalah... bukannya sangat pengecut saat menyerang seseorang yang sedang lengah," ucapku pada seorang yang berdiri di atas genteng, dengan ringan dia melompat hingga menciptakan retakan kecil di bawah kakinya.


"Botak?"


"Aku tidak botak, aku memang sengaja memotongnya begitu.. namaku Galendo, aku adalah orang suruhan raja dari wilayah barat. Kulihat kau telah menghancurkan rencanaku dan sekarang kau harus membayarnya."


Pria di depanku menggunakan penggorengan besar sebagai senjatanya.


"Apa kau sedang ingin memasak?"


"Benar sekali, dan hidangan yang ingin kusajikan adalah dirimu."


Dia melesat maju ke arahku sementara aku menangkis setiap serangannya dengan bilah katanaku, walau hanya dengan penggorengan saja dia sangat kuat.


"Jika kau kalah dengan orang seperti ini, aku akan marah loh."


"Pedangmu bisa bicara?"


"Kau tidak perlu menghiraukannya."

__ADS_1


Aku menendang wajahnya hingga dia terbanting menabrak bangunan dengan ledakan kecil. Bola-bola cahaya melesat ke arahku dan aku menahannya dengan bola air.


"Dengan penggorengan seperti itu apa aku bisa memasak makanan enak?"


"Rasa ditentukan oleh si pembuatnya kurasa alat masak tidak berpengaruh."


"Kurasa begitu."


"Jangan berbicara santai saat kau bertarung denganku."


Galendo muncul dari atas kepalaku,dia dengan baik menghantamkan senjatanya hingga terdengar 'Trang' saat mengenai kepalaku.


"Bagaimana seranganku, mantap kah."


"Yah aku tidak tahu apa itu serangan kuatmu atau tidak tapi rasanya sangat lemah."


"Apa? Mustahil sebenarnya statistikmu setinggi apa?"


"Hari ini kurasa sudah cukup."


"Kau tidak membunuhnya? Dia mungkin orang yang mengawasi Misa."


"Aku sudah lelah membunuh untuk hari ini, biarkan saja."


Kami berdua kembali ke penginapan VIP.


Tak kusangka wajah Harty dan Valentine tampak sangat manis saat tertidur, wajah Lien juga.


Sementara Rion membuatkan teh untuk kami nikmati bersama.


"Ambillah."


"Kau sedikit perhatian sekarang."

__ADS_1


"Anggap saja seperti itu."


Aku duduk di sofa selagi menyesap teh ke dalam hidungku, aromanya sangat menenangkan bagiku termasuk rasanya juga walau ada sedikit pahitnya.


Rion yang berdiri sebentar duduk di pangkuanku menatap bulan seperti yang kulakukan sekarang.


"Sudah sejak lama aku melihat bulan yang begitu sempurna," ucapnya demikian.


Untuk sesaat dia terlihat tampak mempesona, bagaimana mengatakannya dia seperti dewi sesungguhnya.


"Ada apa Lion?"


"Bukan apa-apa," kataku tersenyum kecil lalu meregangkan tanganku.


"Setelah mandi aku ingin cepat tidur."


"Kita mandi bersama."


"Bukannya kau tidak pernah mandi sendirian."


"Jika mandi sendirian sulit untuk menggosok punggungku."


Aku hanya menghela nafas panjang.


Rutinitas seperti ini mulai terbiasa bagiku.


Pagi berikutnya aku maupun anggota partyku berkumpul bersama Lena beserta pasukannya.


Dia mengatakan soal beberapa peledak yang dibelinya beberapa lalu yang akan kami gunakan untuk menghancurkan temboknya.


Lien tampak kebingungan, bagaimanapun dia masih kehilangan ingatannya.


Tiba-tiba diberitahukan bahwa dia seorang ratu ekpresinya benar-benar sangat terkejut. Seiring waktu kuharap ingatannya akan kembali sedia kala.

__ADS_1


__ADS_2