Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 128 : Pembebasan Para Elf


__ADS_3

Setiap harinya tepat jam 10 pagi akan ada kereta bermuatan roti dan susu yang akan masuk ke dalam penjara itu, dan saat itulah kami akan menyusup ke dalam.


Di saat salah satu kereta melaju di jalan, Paula menggunakan kemampuan aktingnya untuk berpura-pura pingsan hingga kereta berhenti di depannya.


Salah satu orang turun untuk mengecek keadaan Paula.


"Kau wanita ******, cepat pergi dari sini kau mengahala..." sebelum dia menyelesaikan perkataannya sebuah katana telah menembus jantungnya.


Untuk satunya lagi yang berada di kereta aku telah mengurusnya dengan menusukan pisau di jantungnya.


Tanpa perlu mencabutnya lagi aku menggulingkan mayat tersebut jauh dari kereta lalu mengambil alih kemudinya.


Kizuna dan Paula naik ke kereta barang lalu menyembunyikan senjata mereka di sana dan berpura-pura sebagai pengirim makanan sepertiku.


Di depan bangunan putih itu para penjaga mulai memeriksa kami.


"Kalian orang baru?" tanya penjaga dan aku menjawab dengan anggukan.

__ADS_1


Mereka sempat curiga terhadap Kizuna dan Paula namun sepertinya mereka tidak terlalu memikirkannya. Salah satu penjaga mengantarkan kami ke ruangan penyimpanan makanan.


Saat dia hendak membuka pintunya aku mematahkan lehernya hingga tewas, Kizuna melemparkan pedangku sementara dia dan Paula bersiap untuk menyerang.


Penjara ini hanya digunakan sebagai penjara elf jadi tidak ada tahanan lagi selain mereka, ada sebuah lapangan luas yang digunakan para elf untuk bekerja jadi kami akan berniat memindahkan tahanan ke sana saat itu aku akan menggunakan sihir teleportasi untuk mengirim mereka ke benua iblis.


Para elf di sini dipekerjakan untuk memasok kristal sihir yang diisi oleh sihir mereka, aku tidak tahu untuk apa semua itu namun jika dalangnya adalah Venus hal itu pasti sesuatu yang buruk.


Kizuna dan Paula saling mengangguk sebelum akhirnya berpencar untuk pergi ke ruangan sel penjara.


Kebanyakan pahlawan yang menjaga tembok ini akan selalu berada di luar kota karena itu kami tidak boleh memicu alarm supaya mereka tidak ada kemari.


Aku menggunakan pipa besi sebagai pijakan lalu melompat dengan dua pedang membunuh satu penjaga, penjaga yang lain mulai berdatangan selagi mengirim sihir tingkat rendah yang mana masih bisa kuhindari lalu menebas tubuhnya dengan gerakan cepat hingga berjalan melewatinya saat darah menyembur dari tubuhnya.


Ketika aku berfikir semuanya berjalan lancar salah satu wanita yang kukenal akhirnya muncul juga, dia seorang wanita bertubuh besar dengan pakaian hanya sebatas bra dan rok pendek.


Di tangannya sebuah gada diayunkan dan itu menciptakan angin yang menerbangkan apapun di sekelilingnya.

__ADS_1


"Lama tak bertemu Vivi, kau tambah besar sekarang," kataku.


"Ternyata kau Ryker, kukira kau mati saat kota yang dijaga olehmu diserang Titan, tahunya kau malah berkhianat."


"Terserah kau mau bilang apa, tapi aku akan mengalahkanmu di sini."


Asap keluar dari mulutnya dengan nafas berat.


"Sama seperti orang-orang yang melawanku mereka hanya akan mati dengan senjata ini, bersiaplah."


Dia mengayun gadanya dari samping dan aku berjongkok untuk menghindarinya hingga tembok samping meledak dahsyat.


Dia menarik senjatanya lagi dan berusaha mengayunkan serangan berikutnya. Aku hanya menghindarinya dan sesekali mencoba untuk mencari celah untuk mengirimkan tebasan.


Walau menahannya dengan kekuatan sebesar itu aku masih akan terlempar, satu kali saja aku bisa mati.


"Ayolah Ryker kau bukan orang yang lemah seperti ini, cepat tunjukan kekuatanmu lagi haha."

__ADS_1


__ADS_2