
Kuayunkan pedangku untuk menangkis dan membalas serangan mereka, selain kuat gerakan mereka sangat cepat.
Dentrang.
Percikan menyebar ke udara saat aku menahan tebasan si wanita. Dua pria lain menyerang dari samping.
"Kena kau."
Kugunakan skill dosa mematikan kemarahan membuat tubuhku kebal dengan serangan atau efek mereka.
"Apa?"
"Sebagai pahlawan aku tahu kalian bertiga memiliki jendela status mirip pada sebuah game, apa kalian bisa menebak levelku dengan skill kalian."
"Kau hanya berlevel satu bagaimana bisa?"
Aku menerbangkan mereka dengan putaran pedang, membuat mereka menjauh dariku.
"Dia pasti faker, aku yakin levelnya bukan hanya segitu."
"Sudah jelas begitu, pokonya jangan beri celah."
"Siap."
"Mengeroyok satu orang bukanlah cara yang dipakai pahlawan kalian tahu."
"Kami tidak bisa meremehkanmu."
Paling tidak mereka pintar.
Pahlawan wanita membuat pedangnya diselimuti api lalu menebaskannya padaku, aku menahannya dan itu menciptakan ledakan besar di sampingku.
__ADS_1
"Wind Slash," teriak salah satu pria dan pria lain menembakan sihir kegelapan.
Trang... Trang... Trang. DOAR!
Tubuhku terlempar ke atas di mana si wanita sudah berada di hadapanku bersiap melayangkan pedang miliknya, tepat saat pedangnya diayunkan aku menggunakan pengait ke samping membuatku meluncur menghindarinya.
"Oi, oi, benda apa itu... apa itu alat pembunuh Titan."
"Seperti yang kau katakan."
"Dengan sihir hal seperti itu tidak diperlukan, kami bertiga bisa terbang."
Sial, ternyata mereka memiliki skill seperti itu.
"Kemarilah kau."
Aku berputar di perempatan jalan saat ketiganya mengejarku tanpa henti, mencoba menyerang mereka dari belakang salah satu pria telah menahan seranganku.
Orang-orang ini sangat kuat.
"Ugh.. sakit sekali."
"Lion?"
"Aku tahu."
Wanita pahlawan itu merubah pedangnya menjadi busur petir lalu mengarahkan ujung panahnya padaku.
"Kau pasti bercanda?"
"Habislah kau."
__ADS_1
Panah itu menembus tubuhku tanpa hambatan, tentu itu hanya sebuah ilusi semata. Tubuhku yang asli sedang bersembunyi dari mereka.
Saat sebelumnya mereka mengejarku aku mengganti tubuhku dengan yang palsu.
"Dia pasti belum lolos dari sini, cepat temukan dia," teriak salah satunya namun sebuah ledakan lebih dulu terdengar dari sudut tembok.
Di sana seekor Titan yang belum pernah kulihat muncul selagi menerobos tembok, tubuhnya tampak lebih mengerikan dengan wujud lebih ke arah monster. Tingginya sekitar 80 meter dengan tanduk di atas kepalanya.
Bisa dibilang penampilannya mirip Minotaurus hanya saja lebih gelap.
"Apa itu?" ketiga pahlawan bertanya hal demikian, sebelum mereka menyadarinya sebuah bola merah dari mulutnya telah meledakan ketiganya bersama kota di bawahnya.
Aku menutupi wajahku untuk menahan ledakan anginnya.
Sudah jelas makhluk ini pasti yang disebut iblis Titan yang dibuat oleh Solomon.
Sekali lagi makhluk itu membuka mulutnya menciptakan bola raksasa di sana untuk kedua kalinya.
"Dia mengincar menaranya."
"Kalau sampai hancur Aira tidak akan bisa keluar selamanya, dia akan terlempar ke ruang hampa."
"Ruang hampa?"
"Aku akan menjelaskannya nanti, cepat lindungi dia."
"Baiklah."
Aku menurunkan Rion di atas bangunan sebelum melompat jauh ke arah menara, tubuhku mengeluarkan asap ke udara tempat saat bola raksasa itu ditembakan, aku telah merubah diriku dalam bentuk raksasa dan melindungi menara dengan punggungku.
Selanjutnya.
__ADS_1
BAM.
Area di sekelilingku terselimuti cahaya menyilaukan, menciptakan kawah raksasa setelahnya dengan getaran gempa bumi yang menggoncang semuanya.