
Waktu yang telah ditentukan akhirnya tiba, barisan goblin tampak terlihat memadati setiap medan perang, mereka menggunakan pedang pendek serta armor sederhana yang melekat di dada mereka.
Ketika pemimpin petualang mengangkat tangannya setiap petualang di barisan depan menyiapkan busur mereka yang menarik anak panah ke belakang kemudian dilesatkan secara bersamaan.
"Aku pikir aku lebih suka jika Lion yang memimpin pasukan ini," suara itu datang dari Estelle.
"Aku juga setuju, Lion lebih pantas melakukannya."
"Kalian berdua tidak seharusnya mengatakan itu, siapapun yang memimpin asal kita menang itu sudah cukup."
"Saat aku naik ke tahta akan kulemparkan orang ini."
Syukurlah tidak ada orang yang mendengarkan percakapan ini.
Para goblin tampak menyerbu ke depan yang secara bertahap mulai berjatuhan dengan bunyi 'Gak' sebelum kehidupan mereka terenggut.
Pasukan pertama mulai menukar posisi dengan pasukan ke dua untuk menyerang dengan busur kembali.
Jarak serangan panah lebih jauh dibandingkan sihir dan juga lebih hemat tenaga, hanya menunggu waktu saja sampai panah itu habis kemudian pasukan tiga yang diisi olehku akan menyerang ke depan.
Dan waktu lebih cepat dari yang kubayangkan.
"Maju."
Kami mengikuti teriakan sang pemimpin untuk menyerang mereka, satu goblin tampak merobek pakaian petualang wanita namun aku menusukan pedangku di matanya menembus ke tulang tengkoraknya.
__ADS_1
"Kau baik-baik saja?"
"Terima kasih, mundurlah... Estelle."
"Baik "
Estelle menancapkan belatinya dan dalam sekejap sebuah lantai es layaknya sebuah jalan tercipta tertuju ke kota.
Aku menarik wanita itu lalu membuatnya meluncur di jalan tersebut, beberapa orang juga kuperlukan hal sama. Dua goblin melompat dari atasku dan Varlia membunuh mereka dengan sekali tebasan.
"Mereka lebih lemah dari yang kubayangkan, benarkan."
"Ah yah," jawabku ragu.
"Hora, hora, hora, bunuh, bunuh.. haha."
Mamia sedang mengamuk jauh di depan, dia mengayunkan pedangnya dan seluruh goblin berhamburan dengan suara ledakan menemaninya.
"Kalian suka melecehkan wanita maka terimalah pembalasan mengerikan dariku."
Sepuluh kepala terbelah dengan sempurna di mana darah mereka berhamburan ke tanah, Sepertinya aku telah menciptakan monster.
Aku selalu melatih mereka dengan niat membunuh dan sekarang mereka memiliki niat membunuh setara dengan dosa mematikan, para petualang yang merasakan hal sama memekik hingga terduduk lemas dengan tekanan ketiganya.
Itu seperti kami berada di pusaran pembunuhan.
__ADS_1
Pemimpin pasukan tampak menciut juga.
"Apa-apaan ini? Apa meraka benar-benar manusia."
"Aku juga menanyakan hal sama."
Aku mengulurkan tanganku ke atas dan sebuah bola api raksasa tercipta, itu memiliki diameter 50 meter dengan daya ledak sejauh 500 meter.
"Kau yang bukan manusia?"
"Apa maksudmu ini hanya mantra biasa Fire Bolt "
"Fire Bolt jidatmu, itu lebih tepat disebut bola penghancur tingkat atas."
"Kau terlalu berlebihan."
Aku melemparkan bola itu ke area para goblin berada, dan dalam sekejap seluruh petualang terhempas ke segala arah hingga menyisakan kawah raksasa di tempat yang terkena lemparan.
Anggota partyku masih berdiri baik-baik saja, ledakan seperti ini tidak membuat mereka mundur ataupun merasa ketakutan.
Jenderal goblin yang merupakan pemimpin pasukan tak bisa berkata lagi saat pasukannya benar-benar telah dihabisi.
Mereka bertiga menyerbu secara bersamaan membuat goblin itu kewalahan, lalu secara bergiliran mengirimkan tebasan mematikan yang mana hanya menunggu waktu saja untuk mereka menang.
Para petualang bangkit lalu menyerang goblin yang masih hidup bersama-sama denganku, biarkan saja ketiganya mengambil peran penting dalam pertarungan ini.
__ADS_1