Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 205 : Duel Di Ibukota


__ADS_3

Berbeda dengan di wilayah Dark Elf hampir seluruh makanan ini terbuat dari olahan daging, mereka memanggangnya dengan baik dan melumurinya dengan saus bisa dikatakan sedikit sulit untuk ditiru.


Aku penasaran bahan seperti apa yang mereka gunakan.


Aku adalah master chef, aku harus mencuri formulanya? Aku yakin mereka menyimpannya di dalam botol atau semacamnya.


Aku memotong daging itu dengan pisau bahkan strukturnya benar-benar empuk dan saat di makan itu meluber ke dalam mulut memberikan sensasi yang luar biasa, semakin kau memakannya cita rasanya sangat berbeda.


Aku yakin mereka akan menyukai daging seperti ini, saat aku melirik ke arah Aira dan Rion, keduanya makan seperti orang yang kelaparan.


"Ini enak sekali, daging kualitas tinggi memang yang terbaik."


"Benar, enak sekali aku tidak berhenti memakannya."


Sebagai Master Chef aku tidak bisa membiarkan ini, aku mengebrak meja hingga keheningan terasa di antara kami.


"Aku ingin menantang koki yang membuat masakan ini."


"Ugh.. Lion sebaiknya kau pikirkan lagi, orang yang membuat ini sangatlah luar biasa hidupnya seperti sebuah legenda, dia kebanggaan kerajaan ini," kata Laurenta.


Tapi sudah terlambat untuk mencegahku berduel, seorang chef membuka pintu dan memperkenalkan dirinya dengan bangga.


"Namaku Sir Antonio Marlin, sepertinya seorang telah mengajakku untuk berduel."


"Aku orangnya."

__ADS_1


"Hoh, anak muda kau berani juga... jika yang mulia tidak keberatan izinkan saya untuk bertanding dan mengalahkan orang ini."


Dia memainkan ujung kumisnya selagi mengacungkan sendok sayur padaku, aku juga melakukan hal sama tapi dengan sendok makan.


"Pertandingan seperti apa yang kau inginkan?" tanyaku.


"Terserah, aku bisa mengalahkanmu dengan menu apapun."


"Kalau begitu lakukan yang terbaik."


"Ma, ma kalian sangat bersemangat... mari besok buat sebuah kontes memasak antara tuan Lion dan tuan Sir Antonio Marlin dan menjadikan semua penduduk menjadi jurinya."


"Seluruh penduduk bukannya itu terlalu banyak?"


Aku sependapat dengan ucapan Laurenta.


"Heh, aku pasti bisa menang dengan mudah."


"Dalam mimpimu," kataku demikian.


Kami berdua setuju hingga percikan muncul diantara kami.


Dengan cara melihat bagaimana dia memasak aku akan tahu bahan seperti apa yang dia gunakan, ini akan menjadi kompetisi yang ketat.


Untuk sekarang lebih baik aku memikirkan apa yang akan kubuat nanti.

__ADS_1


Pertama adalah mencari bahan terbaik dan juga beberapa bumbu yang cocok untuk masakanku.


Aira dan Rion sepertinya tidak peduli dengan kompetisi ini, mereka hanya makan dengan santai.


Sementara Laurenta hanya menghela nafas panjang lalu berkata.


"Aku akan membantu sebisaku, akan memalukan jika kau langsung kalah dengan mudah."


"Aku ini Master Chef."


"Bisakah kau hentikan panggilan itu, kau mulai menyebalkan."


Dengan bantuan Laurenta aku mengunjungi pasar, aku memilah-milah bahan utama apa yang harus kubuat.


"Rasa ditentukan dari seberapa baik kualitas bahan yang akan diolah, walau pandai memasak jika bahannya buruk tetap tidak akan enak."


"Bukannya itu jelas, aku sarankan untuk membeli daging."


"Tidak, aku tidak akan bertarung dengan daging aku akan bertarung dengan makanan berbeda."


"Kau yakin? Semua orang lebih menyukai daging, akan sulit jika nantinya tuan Antonio malah mengambil bahan itu."


"Tidak masalah, jika aku bertanding dengan bahan yang sama dengannya aku sedikit ragu bisa menang darinya."


"Sedikit kah? Yah, lakukan saja apa yang kau inginkan aku akan membayar semuanya."

__ADS_1


"Kalau begitu kita mencari bahan yang sangat langka."


"Heh? Jangan menarik tanganku."


__ADS_2