Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 82 : Jalan Keputusasaan


__ADS_3

Sudut pandang Lion.


Aku mengayunkan pendangku untuk menyerang secara terus-menerus komandan di depanku. Setiap ayunan di lewatinya dengan mudah khususnya saat aku menggunakan sihir juga.


Api membumbung tinggi tapi bukan dariku melainkan dari komandan yang kukenal yang sebenarnya adalah utusan raja iblis.


Kugunakan dinding tanah demi menahannya dan di saat yang sama juga, tanah itu hancur berkeping-keping.


Paling tidak aku tidak apa-apa.


"Sudah kuduga kau memang merepotkan, apa sebelumnya kau yang membunuh Raja Iblis Utara?"


"Benar sekali, sekarang aku akan membunuhmu dan juga raja iblismu itu."


"Haha walau kau memotong satu tanganku bukan berarti aku dapat dikalahkan."


"Bagiku kau tidak ada apa-apanya... Rion bantu sedikit di sini."


"Apa boleh buat, aku juga sedikit kesal dengannya yang telah menyakiti Valentine."


"Apa yang kau bisa lakukan?"


Komandan menghirup udara untuk memenuhi paru-parunya.


"Sihir raungan iblis."


Saat dia menyemburkan udara ke arahku itu menciptakan api raksasa seperti nafas naga, aku berlari ke api tersebut tanpa perlu ragu.


"Lion, kau bisa mati?" teriak Risela memperingati tapi aku sudah masuk ke dalam kobaran tersebut.


Di waktu yang sama Rion menggunakan sihirnya.


"Elemental Bridge... Jalan keputusasaan."


Tepat saat Rion mengaktifkan sihirnya seluruh api menghilang dalam sekejap membuat seluruh mata terbelalak karenanya.

__ADS_1


"Mustahil?"


Di depan komandan aku mengayunkan pedangku yang kupegang dengan kedua tangan.


"Fire Blade."


"Gaaaaaah."


Tepat saat pedang yang dilapisi sihir api itu menebasnya seluruh tubuhnya terbakar habis, aku juga membakar tangannya yang terputus.


Rion kembali ke wujud elf selagi berpose kemenangan.


"Yeh, kita berhasil.. mari rayakan dengan makan-makan."


"Tidak, kalian sudah makan kan," kataku lemas.


Pagi berikutnya kami pergi ke desa Risela yang memerlukan waktu setengah hari untuk sampai ke sana dengan berjalan kaki.


Di tengah-tengah peristirahatan, Risela meminta aku untuk berbicara berdua sedikit jauh dengan yang lainnya.


Aku sedikit bertanya-tanya apa ada yang salah?


"Lion, apa benar Rion adalah Riona yang menjadi dewi jahat."


"Benar, lalu?"


"Bukan lalu? Kau tahu siapa dia, dia adalah dewi yang memberikan bencana keseluruh dunia bersama para iblis maupun Titan."


"Kenapa kau bisa mengatakan itu padahal kau tidak melihatnya langsung."


"Itulah yang semua tahu, mana mungkin hal itu salah."


"Maksudmu para dewa-dewi dan manusia tidak salah dengan keadaan yang menimpa dunia ini?"


"Mereka membantu umat manusia melawan Titan bahkan mengirim tujuh pahlawan untuk menyelamatkan dunia."

__ADS_1


Aku menghela nafas panjang sebelum melanjutkan.


Aku tidak bisa marah dengannya, wajar jika mereka berfikir hal sama namun hal sesungguhnya yang akan kuberitahukan padanya adalah kebenaran.


Risela tampak terbelalak terkejut hingga kehilangan kata-katanya.


"Terserah kau mau percaya atau tidak, manusialah yang lebih dulu menyerang ras Titan sementara dewi membantu manusia hanyalah kebetulan karena mereka juga menaruh dendam terhadap ras Titan."


"Mustahil? Lalu cerita itu, soal dewi jahat."


"Rion hanya membunuh orang jahat dan mempertahankan dirinya saat seluruh ras memburunya.. dia hanya sebagian orang yang menerima kesalahan yang seharusnya tidak diterimanya, bukannya dia juga membunuh para raja iblis terdahulu khususnya Solomon."


"Memang benar rasanya ada yang salah di sana, kami hanya diberitahu bahwa tujuh mahkota dewi yang mengalahkan mereka, jadi singkatnya kau bilang bahwa kota suci di benua manusia telah membohongi kami semua?"


"Tepat sekali, jika seluruh dunia tahu bahwa sebagian dewa-dewi juga menyebabkan perang besar di dunia ini, maka keyakinan mereka akan berkurang dan akan memilih berpindah agama kepada Riona yang merupakan dewi terbuang."


"Kenapa hal ini terjadi? Ras Titan yang mengalaminya mendapat kerugian yang besar," ucap Risela selagi memegangi pohon bingung.


"Karena itulah aku berniat untuk mengembalikan dunia ini semestinya, membuat dewi Riona mendapatkan posisinya sedia kala, memberikan hukuman pada manusia yang bersalah, memberikan tempat yang lebih baik bagi para Titan serta menghabisi seluruh iblis yang mengambil kesempatan diantara perang besar tersebut."


"Jika apa yang kau lakukan gagal?"


"Aku akan menghancurkan semuanya dan memikul semua dosa... bahkan aku yakin sekarang aku menjadi musuh seluruh dunia."


"Sial."


Risela tampak kesal hingga dia memukul pohon di dekatnya hingga berlubang.


"Jika begini aku tidak tahu siapa yang salah dan benar, yang bisa kulakukan hanya berpura-pura tak mendengarnya, jika pun aku mengatakan semua kebenaran ini akan terjadi keributan di dunia ini dan bisa saja aku akan difitnah sebagai jelmaan dewi jahat."


"Hanya itu yang bisa dilakukan," kataku ringan, sementara Risela menegaskan kembali.


"Aku tidak terlibat dengan hal ini."


"Aku mengerti, kami hanya datang untuk membantu desamu hanya itulah yang kami lakukan."

__ADS_1


Risela mengangguk mengiyakan sebelum kembali untuk berkumpul dengan yang lainnya.


__ADS_2