Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 519 : Ikan Yang Bisa Berbicara


__ADS_3

Sebenarnya aku ingin segera pergi ke menara Babel namun tiba-tiba saja Livia dan Alteira malah mengajakku pergi ke sebuah laut untuk memancing ikan.


"Kami dengar rasa ikan danau dan rasa ikan laut berbeda, karena itulah kami ingin mencobanya dan membuktikan hal itu."


Mereka melakukan ini hanya untuk itu rupanya. Aku tidak keberatan jadi tak masalah untuk sesekali pergi dengan mereka seperti ini. Selama ini kami terus bekerja, bersantai bersama memang pantas untuk kami dapatkan.


Aku mengirimkan kail ke dalam laut dan berfikir ikan seperti apa yang akan aku dapatkan, ikan laut memiliki warna beragam dibanding ikan air tawar tapi jika rasa aku tidak bisa membedakannya dimana bagiku rasanya agak tidak jauh berbeda.


Beberapa menit berlalu seorang yang lebih dulu mendapat ikan adalah Alteira.


Dia tersenyum penuh kesombongan, kenapa semua orang selalu memasang wajah seperti itu saat mendapatkan ikan, itu cukup merepotkan jika seseorang terpancing.


"Aku juga tidak akan kalah, akan kuperlihatkan kemampuan umpan yang kupasang di pancinganku," ucap Livia.


Sudah kuduga hal seperti ini akan terjadi, mereka bersaing berdua sementara aku hanya mengabaikannya dan menaikan ikan yang kudapatkan ke dalam perahu. Saat aku mendapatkannya satu yang bagus tiba-tiba ikan itu berbicara.


"Apa kau akan memakanku?"


"Aneh rasanya aku mendengar kau berbicara."


"Aku memang bisa berbicara."


Alteira dan Livia juga mendekat padaku.


"Terlalu dekat kalian berdua."


"Mungkinkah ikan ini sebenarnya seorang pangeran tampan yang dikutuk jadi ikan, apa aku harus menciummu atau sebagainya."


"Hentikan jangan menciumku."


"Sepertinya harus aku yang menciumnya tuan," ucap Livia.

__ADS_1


"Bukan itu."


Untuk sekarang mari kembalikan dia ke dalam air.


"Kalian tidak memakanku."


"Mau bagaimana bilangnya, kami tidak berminat dengan ikan jelek."


Alteira kau terlalu blak-blakan.


"Siapa yang kau panggil jelek, tubuhku berisi dan mantap, kau pasti akan puas jika memakanku."


Ikan ini ingin mati kah?


"Aku berubah pikiran, mari makan dia."


"Aku juga setuju."


"Hentikan aku cuma bercanda."


"Sebenarnya aku berasal dari negeri jauh di sana semua ikan bisa berbicara dan suatu hari rumah kami diserang banyak hiu.. aku datang kemari untuk mencari bantuan dan kupikir aku bisa memintanya dari kalian."


"Kau ini ikan? Apa kau tidak masalah memintanya pada kami, lihat kami juga memancing ikan di sini."


"Jika itu ikan yang tidak berada dari wilayah kami, aku tidak keberadaan."


Ikan ini sangat toleransi.


"Biar aku tebak wilayah itu pasti wilayah yang jarang dikunjungi manusia?"


"Bagaimana kau tahu?"

__ADS_1


"Mudah saja jika kalian sudah diketahui manusia pasti seseorang sudah memamerkannya sejak lama."


"Jadi begitu."


Dia malah terkejut lalu melanjutkan.


"Wilayahku dilindungi oleh sebuah ombak besar jadi sulit bagi manusia mendekat dan jika mereka mencoba terbang mereka juga akan tersambar petir."


"Terdengar mengerikan olehku, meski kami ingin membantumu bukannya kami sama saja akan mati jika pergi ke sana," balas Livia.


"Jangan khawatir, aku punya barang bagus."


Ikan itu masuk ke dalam air sesaat sebelum memberikan kami tiga butir mutiara.


"Jika lewat air kalian akan baik-baik saja, jika membawa mutiara itu kalian bisa bernafas dalam air, tolonglah bantu kami atau para ikan hiu itu akan memakan seluruh anggota keluargaku, padahal sebelumnya tidak pernah ada hal seperti ini yang terjadi."


Alteira dan Livia saling menatap dan mereka menyatukan tangan mereka dan bersama-sama berkata.


"Mari memancing ikan hiu."


Mereka malah bersemangat.


"Ngomong-ngomong siapa namamu?"


"Sebastian."


"Ugh."


"Ada apa?"


"Sepertinya aku pernah mendengar nama itu di sebuah novel atau sebuah cerita tertentu."

__ADS_1


"Benarkah? Sebastian pasti nama raja."


"Tidak, dia hanya pelayan."


__ADS_2